alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Kadistan Bali Buat Inovasi Tanam Padi Sekali, Panen Berkali-kali

DENPASAR, BALI EXPRESS – Alih fungsi lahan saat ini tidak bisa dibendung. Meski pemerintah melakukan segala upaya dengan pemetaan jalur hijau, namun hal itu tidak bisa memberikan jaminan. Maka dengan menyusutnya lahan pertanian saat ini, Dinas Pertanian Provinsi Bali membuat inovasi panen padi berkali-kali dari sekali tanam.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, tidak mengelak jika lahan produktif semakin menyusut setiap tahun. Selain beralih fungsi sebagai bangunan, perumahan, juga ada yang dijadikan fasilitas umum. “Luas lahan pertanian produktif di Bali terakhir tahun 2019 adalah 70.996 Ha,”  jelasnya, Selasa (12/4).

Dengan tantangan seperti itu, Sunada pun tidak tinggal diam menyikapi setiap tahunnya  ada alih fungsi lahan. Bahkan beberapa inovasi dilakukannya untuk mengantisipasi lahan pertanian menyusut di setiap tahunnya. Dia mengupayakan budidaya padi dengan teknologi Salibu, yaitu tanam sekali, panen berkali-kali.

“Jadi teknologi Salibu ini yakni tanam sekali, panen berkali-kali. Satu kali tanam maka bisa panen hingga tiga kali,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sunada menerangkan Salibu ini merupakan teknik bertanam dengan memanfaatkan batang bawah setelah panen. Teknologi ini sudah pernah diuji coba di Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Gianyar. Dia menyebutkan batang bawah setelah panen itu hanya diberikan pupuk hasil penelitiannya, maka bisa panen sampai tiga kali.

“Mengingat potensi kabupaten lain juga masih dapat menghasilkan pangan beras, termasuk Tabanan sampai saat ini masih dijuluki sebagai Lumbung Beras Bali. Di sana juga akan diterapkan Salibu ini,” ungkapnya.

Dia menambahkan, potensi teknologi Salibu sangat besar dikembangkan dengan keunggulannya. Diantaranya tidak mengolah tanah kembali, dapat menghemat benih, dan efisiensi tenaga kerja.

Upaya ini tidak terlepas dari peningkatan potensi komoditas pangan yang lainnya. Termasuk porang yang akan menjadi sasaran alternatif pangan lainnya. “Disamping porang, ubi jalar, ubi kayu sebagai pangan alternatif merupakan pangan non beras.  Sedangkan saat ini kami sedang melaksanakan tanaman salibu di Subak Telaga, Banjar Manyar, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar,” tandas pria yang baru sepekan menjabat sebagai Kadistan ini.






Reporter: Putu Agus Adegrantika

DENPASAR, BALI EXPRESS – Alih fungsi lahan saat ini tidak bisa dibendung. Meski pemerintah melakukan segala upaya dengan pemetaan jalur hijau, namun hal itu tidak bisa memberikan jaminan. Maka dengan menyusutnya lahan pertanian saat ini, Dinas Pertanian Provinsi Bali membuat inovasi panen padi berkali-kali dari sekali tanam.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, tidak mengelak jika lahan produktif semakin menyusut setiap tahun. Selain beralih fungsi sebagai bangunan, perumahan, juga ada yang dijadikan fasilitas umum. “Luas lahan pertanian produktif di Bali terakhir tahun 2019 adalah 70.996 Ha,”  jelasnya, Selasa (12/4).

Dengan tantangan seperti itu, Sunada pun tidak tinggal diam menyikapi setiap tahunnya  ada alih fungsi lahan. Bahkan beberapa inovasi dilakukannya untuk mengantisipasi lahan pertanian menyusut di setiap tahunnya. Dia mengupayakan budidaya padi dengan teknologi Salibu, yaitu tanam sekali, panen berkali-kali.

“Jadi teknologi Salibu ini yakni tanam sekali, panen berkali-kali. Satu kali tanam maka bisa panen hingga tiga kali,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sunada menerangkan Salibu ini merupakan teknik bertanam dengan memanfaatkan batang bawah setelah panen. Teknologi ini sudah pernah diuji coba di Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Gianyar. Dia menyebutkan batang bawah setelah panen itu hanya diberikan pupuk hasil penelitiannya, maka bisa panen sampai tiga kali.

“Mengingat potensi kabupaten lain juga masih dapat menghasilkan pangan beras, termasuk Tabanan sampai saat ini masih dijuluki sebagai Lumbung Beras Bali. Di sana juga akan diterapkan Salibu ini,” ungkapnya.

Dia menambahkan, potensi teknologi Salibu sangat besar dikembangkan dengan keunggulannya. Diantaranya tidak mengolah tanah kembali, dapat menghemat benih, dan efisiensi tenaga kerja.

Upaya ini tidak terlepas dari peningkatan potensi komoditas pangan yang lainnya. Termasuk porang yang akan menjadi sasaran alternatif pangan lainnya. “Disamping porang, ubi jalar, ubi kayu sebagai pangan alternatif merupakan pangan non beras.  Sedangkan saat ini kami sedang melaksanakan tanaman salibu di Subak Telaga, Banjar Manyar, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar,” tandas pria yang baru sepekan menjabat sebagai Kadistan ini.






Reporter: Putu Agus Adegrantika

Most Read

Artikel Terbaru

/