alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Harga Emas Naik, Perajin Mulai Kesulitan Jual Produk

DENPASAR, BALI EXPRESS – Beberapa minggu belakangan ini, harga emas terus menunjukkan kenaikan. Berdasarkan update harga emas di situs resmi Pegadaian yang dikutip Bali Express (Jawa Pos Group) per Minggu (13/3), emas batangan cetakan Antam sudah mencapai Rp 1.049.000 per gram. Sedangkan untuk emas batangan cetakan UBS seharga Rp 1.023.000 per gram.

 

Kenaikan harga emas ini, menimbulkan keluhan bagi perajin emas dan perak di Bali. Hal ini lantaran perajin emas merasa kesulitan untuk menjual hasil karyanya dengan harga tinggi. Terlebih, kondisi perekonomian masyarakat saat ini yang masih lesu.

 

Salah seorang perajin di Kawasan Celuk, Gianyar, Ni Putu Sudiadnyani mengaku, untuk tetap memproduksi masih bisa ia lakukan meski harga emas kini naik. Namun dia mengatakan kesulitan untuk menjualnya. “Kita bingung menyikapiknya, berapa harga yang harus kami jual per gramnya,” katanya.

 

Adanya kenaikan harga emas ini, owner Bara Silver ini mengaku, disertai pula dengan kenaikan biaya pengerjaan. Hal ini tentunya membuat harga perhiasan emas kian mahal. Menurut dia, penjualan sepi, terlebih pengaruh ekonomi masyarakat yang masih lemah. Diakuinya, emas dan perak sekarang dalam posisi yang mengkahwatirkan. “Kalau dulu harga emas naik, kita masih tetap terus berkarya, sekarang menyikapi customer itu gimana, yang beli susah,” jelasnya.

 

Dirinya berharap, kenaikan harga emas ini tidak berlangsung lama. Sebab, di tempatnya memperoleh emas dan perak, saat ini harga emas murni sudah mencapai Rp 1.150.000 juta per gram dari sebelumnya Rp 860.000 per gram. “Harga emas tiap 5 menit naik Rp 3.000 per gramnya,” sebutnya.

 

Kenaikan harga emas ini juga diakui salah seorang karyawan toko emas di Jalan Hasanuddin, Denpasar, Muhammad Irzi. Menurutnya, kenaikan khususnya terjadi pada emas batangan cetakan Antam. “Kalau perhiasannya macam-macam (harganya) ada yang Rp 850 ribu per gram,” katanya.

 

Dirinya mengklaim, kenaikan ini mulai terasa sejak awal-awal konflik antara Rusia-Ukraina. Bahkan, kenaikannya cenderung drastis.

 

Sementara itu, sejak pandemi Covid-19, kata dia, transaksi jual-beli emas, didominasi oleh masyarakat yang menjual, dibandingkan membeli emas. Bahkan, ia mengaku, pernah sampai dua bulan tempatnya tidak mendapat penjualan sama sekali. “Kita beli saja kemarin itu. Nggak ada jual. Tapi sekarang sudah mulai normal. Sekarang sudah 60 persenlah penjualannya,” terangnya.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Beberapa minggu belakangan ini, harga emas terus menunjukkan kenaikan. Berdasarkan update harga emas di situs resmi Pegadaian yang dikutip Bali Express (Jawa Pos Group) per Minggu (13/3), emas batangan cetakan Antam sudah mencapai Rp 1.049.000 per gram. Sedangkan untuk emas batangan cetakan UBS seharga Rp 1.023.000 per gram.

 

Kenaikan harga emas ini, menimbulkan keluhan bagi perajin emas dan perak di Bali. Hal ini lantaran perajin emas merasa kesulitan untuk menjual hasil karyanya dengan harga tinggi. Terlebih, kondisi perekonomian masyarakat saat ini yang masih lesu.

 

Salah seorang perajin di Kawasan Celuk, Gianyar, Ni Putu Sudiadnyani mengaku, untuk tetap memproduksi masih bisa ia lakukan meski harga emas kini naik. Namun dia mengatakan kesulitan untuk menjualnya. “Kita bingung menyikapiknya, berapa harga yang harus kami jual per gramnya,” katanya.

 

Adanya kenaikan harga emas ini, owner Bara Silver ini mengaku, disertai pula dengan kenaikan biaya pengerjaan. Hal ini tentunya membuat harga perhiasan emas kian mahal. Menurut dia, penjualan sepi, terlebih pengaruh ekonomi masyarakat yang masih lemah. Diakuinya, emas dan perak sekarang dalam posisi yang mengkahwatirkan. “Kalau dulu harga emas naik, kita masih tetap terus berkarya, sekarang menyikapi customer itu gimana, yang beli susah,” jelasnya.

 

Dirinya berharap, kenaikan harga emas ini tidak berlangsung lama. Sebab, di tempatnya memperoleh emas dan perak, saat ini harga emas murni sudah mencapai Rp 1.150.000 juta per gram dari sebelumnya Rp 860.000 per gram. “Harga emas tiap 5 menit naik Rp 3.000 per gramnya,” sebutnya.

 

Kenaikan harga emas ini juga diakui salah seorang karyawan toko emas di Jalan Hasanuddin, Denpasar, Muhammad Irzi. Menurutnya, kenaikan khususnya terjadi pada emas batangan cetakan Antam. “Kalau perhiasannya macam-macam (harganya) ada yang Rp 850 ribu per gram,” katanya.

 

Dirinya mengklaim, kenaikan ini mulai terasa sejak awal-awal konflik antara Rusia-Ukraina. Bahkan, kenaikannya cenderung drastis.

 

Sementara itu, sejak pandemi Covid-19, kata dia, transaksi jual-beli emas, didominasi oleh masyarakat yang menjual, dibandingkan membeli emas. Bahkan, ia mengaku, pernah sampai dua bulan tempatnya tidak mendapat penjualan sama sekali. “Kita beli saja kemarin itu. Nggak ada jual. Tapi sekarang sudah mulai normal. Sekarang sudah 60 persenlah penjualannya,” terangnya.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/