alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

PMK Resahkan Peternak Babi di Bali, Pengiriman Terancam Terganjal

DENPASAR, BALI EXPRESS – Belakangan masyarakat, khususnya para peternak, diresahkan dengan ditemukannya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi di Jawa Timur (Jatim). Hal ini, juga bikin resah peternak di Bali, salah satunya peternak babi. Pasalnya, ada 3.000 ekor babi yang dikirim ke Jakarta setiap minggunya. Sementara Pemerintah Daerah Jatim mengeluarkan aturan penutupan masuk-keluarnya hewan sapi dan babi.

Menurut Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, I Ketut Hari Suyasa, sebesar 90 persen pasar Pulau Jawa ada di Jakarta didominasi dari Bali. Ia mengungkapkan, ada 3.000 ekor babi yang dikirimkan ke wilayah tersebut setiap minggunya dan tentunya harus melintasi Jatim. Jika jalan ini ditutup, kemungkinan kendala tak bisa terelakkan. “Jika dua minggu saja ditutup, maka ada 6.000 ekor babi Bali yang tidak terserap. Kita kuasai pasar Jawa,” katanya, Jumat (13/5).

Maka dari itu, ia pun mengatakan bahwa aturan tersebut masih perlu diperjelas. Lantaran aturannya menuai penafsiran yang berbeda-beda dan pihaknya pun belum mendapatkan kepastian yang jelas.

“Kalau kami menganggap tidak satupun produk hukum baik edaran terkait PMK ini menyatakan penutupan, tapi pengawasan. Kalau pengawasan, seharusnya melintasi Jawa Timur itu dibolehkan. Tapi penafsiran Karantina berbeda, ini lockdown, tidak bisa lewat,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya pun ingin ketegasan. Semisal jika pengiriman babi dibolehkan melintas Jatim dengan syarat, pihaknya mengaku siap. Tapi jika memang benar tidak boleh melintas, pihaknya pun mengharapkan solusi dari situasi ini.

Sementara itu, sejumlah alternatif lain, dikatakannya belum memberi solusi yang baik. Seperti halnya ada solusi pengiriman dalam bentuk karkas (daging potong), pihaknya mengaku Bali belum siap dengan pemotongan dalam jumlah besar.

Sedangkan alternatif lain yaitu pengiriman lewat laut, Suyasa mengaku terkendala biaya. “Pilihan kapal laut, bagaimana kesiapan armada? Kelebihan biaya yang ditimbulkan siapa yang bertanggung jawab,” katanya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, jika kondisi ini terus berlanjut dan pengiriman ke Jawa tidak bisa dilakukan, lanjutnya, akan berdampak pada anjloknya harga babi di Bali. “Apalagi ini jelang Galungan yang banyak populasi babi di masyarakat siap panen,” katanya.

 






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Belakangan masyarakat, khususnya para peternak, diresahkan dengan ditemukannya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi di Jawa Timur (Jatim). Hal ini, juga bikin resah peternak di Bali, salah satunya peternak babi. Pasalnya, ada 3.000 ekor babi yang dikirim ke Jakarta setiap minggunya. Sementara Pemerintah Daerah Jatim mengeluarkan aturan penutupan masuk-keluarnya hewan sapi dan babi.

Menurut Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, I Ketut Hari Suyasa, sebesar 90 persen pasar Pulau Jawa ada di Jakarta didominasi dari Bali. Ia mengungkapkan, ada 3.000 ekor babi yang dikirimkan ke wilayah tersebut setiap minggunya dan tentunya harus melintasi Jatim. Jika jalan ini ditutup, kemungkinan kendala tak bisa terelakkan. “Jika dua minggu saja ditutup, maka ada 6.000 ekor babi Bali yang tidak terserap. Kita kuasai pasar Jawa,” katanya, Jumat (13/5).

Maka dari itu, ia pun mengatakan bahwa aturan tersebut masih perlu diperjelas. Lantaran aturannya menuai penafsiran yang berbeda-beda dan pihaknya pun belum mendapatkan kepastian yang jelas.

“Kalau kami menganggap tidak satupun produk hukum baik edaran terkait PMK ini menyatakan penutupan, tapi pengawasan. Kalau pengawasan, seharusnya melintasi Jawa Timur itu dibolehkan. Tapi penafsiran Karantina berbeda, ini lockdown, tidak bisa lewat,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya pun ingin ketegasan. Semisal jika pengiriman babi dibolehkan melintas Jatim dengan syarat, pihaknya mengaku siap. Tapi jika memang benar tidak boleh melintas, pihaknya pun mengharapkan solusi dari situasi ini.

Sementara itu, sejumlah alternatif lain, dikatakannya belum memberi solusi yang baik. Seperti halnya ada solusi pengiriman dalam bentuk karkas (daging potong), pihaknya mengaku Bali belum siap dengan pemotongan dalam jumlah besar.

Sedangkan alternatif lain yaitu pengiriman lewat laut, Suyasa mengaku terkendala biaya. “Pilihan kapal laut, bagaimana kesiapan armada? Kelebihan biaya yang ditimbulkan siapa yang bertanggung jawab,” katanya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, jika kondisi ini terus berlanjut dan pengiriman ke Jawa tidak bisa dilakukan, lanjutnya, akan berdampak pada anjloknya harga babi di Bali. “Apalagi ini jelang Galungan yang banyak populasi babi di masyarakat siap panen,” katanya.

 






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/