alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Bareskrim Turun Usut Kasus DNA Pro di Bali, Amankan Aset Rp 350 Miliar

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebanyak 11 orang melaporkan dugaan investasi robot trading ilegal DNA Pro ke Polda Bali Senin (23/5) lalu. Polisi pun mulai bergerak untuk menyelidikinya. Bahkan, Bareskrim Mabes Polri turun tangan mengusut laporan yang ada di Pulau Dewata itu.

Hal ini disampaikan Kuasa Hukum para pelapor Ryan Wuhono. Sebagaimana diketahui, ada delapan subjek hukum yang dilaporkan yaitu PT Digital Net Aset (DNA Pro), PT Mitra Alfa Sukses (MAS). Oknum manajemen terdiri dari Hans Andre Martinus Supit sebagai Branch Manager DNA Pro Bali, dua Founder bernama Melinda dan Ferawati alias Fei Fei.

Kemudian tiga afiliasi yang tergabung dalam PT MAS bernama Fandi Prayitna, Edi Hartono dan Ryan Tedja. Lalu, pihaknya mendapat panggilan pemeriksaan atas laporan di Polda Bali guna proses penyelidikan menuju penyidikan tingkat awal. “Namun yang memeriksa ternyata bukan Ditreskrimsus Polda Bali,” tuturnya kepada awak media di Jalan Gatot Subroto Barat, Denpasar, Sabtu (12/6).

Awalnya para pelapor dijadwalkan bertemu di Subdit Cybercrime Ditreskrimsus Polda Bali. Tapi pada H-1, pihaknya diberitahu agenda pemeriksaan pindah ke Polresta Denpasar. Setelah dikonfirmasi, diketahui pemeriksaan dilakukan oleh enam petugas dari Bareskrim, Jumat (11/6). Ternyata sebelum itu, satu terlapor yakni Hans Andre Supit sudah diamankan dan ditetapkan tersangka oleh Bareskrim. Lalu Ferawati dimasukan dalam daftar pencarian orang (DPO).

Dalam pemeriksaan itu, petugas mendalami mengenai pengetahuan yang dimiliki pihak korban terhadap DNA Pro, baik bentuk trading dan perizinannya.

Berikutnya dalam diskusi yang dilakukan, Bareskrim menyebut telah menemukan kontruksi hukum mengenai permasalahan ini. Menariknya, aparat mengatakan sudah mengamankan aset sekitar Rp 350 miliar hasil penyelidikan seluruh Indonesia, baik aset bergerak maupun tidak bergerak. Bareskrim pun disebut sempat membawa terlapor Hans Andre Supit untuk melakukan pemeriksaan aset di Bali.

“Bahwa nasabah-nasabah yang inves Rp 100 juta atau bahkan miliaran rupiah dan disebut dapat menarik keuntungan 5-20 persen per bulan, sebetulnya uang mereka sendiri lah yang ditarik bukan profit, tapi dari DNA mengatakan itu profit trading,” bebernya. Sehingga saat ini polisi berusaha memastikan terlebih dulu total jumlah kerugian secara ril, yakni sisa dana yang belum bisa ditarik member sesuai modal pokok yang disetorkan.

Bahkan kantor DNA Pro Bali yang terletak di Renon sudah tutup alias tak ada operasional lagi. Padahal ada dana total Rp 1,4 triliun dari seluruh member di Bali yang perlu dipertanggungjawabkan.

 






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebanyak 11 orang melaporkan dugaan investasi robot trading ilegal DNA Pro ke Polda Bali Senin (23/5) lalu. Polisi pun mulai bergerak untuk menyelidikinya. Bahkan, Bareskrim Mabes Polri turun tangan mengusut laporan yang ada di Pulau Dewata itu.

Hal ini disampaikan Kuasa Hukum para pelapor Ryan Wuhono. Sebagaimana diketahui, ada delapan subjek hukum yang dilaporkan yaitu PT Digital Net Aset (DNA Pro), PT Mitra Alfa Sukses (MAS). Oknum manajemen terdiri dari Hans Andre Martinus Supit sebagai Branch Manager DNA Pro Bali, dua Founder bernama Melinda dan Ferawati alias Fei Fei.

Kemudian tiga afiliasi yang tergabung dalam PT MAS bernama Fandi Prayitna, Edi Hartono dan Ryan Tedja. Lalu, pihaknya mendapat panggilan pemeriksaan atas laporan di Polda Bali guna proses penyelidikan menuju penyidikan tingkat awal. “Namun yang memeriksa ternyata bukan Ditreskrimsus Polda Bali,” tuturnya kepada awak media di Jalan Gatot Subroto Barat, Denpasar, Sabtu (12/6).

Awalnya para pelapor dijadwalkan bertemu di Subdit Cybercrime Ditreskrimsus Polda Bali. Tapi pada H-1, pihaknya diberitahu agenda pemeriksaan pindah ke Polresta Denpasar. Setelah dikonfirmasi, diketahui pemeriksaan dilakukan oleh enam petugas dari Bareskrim, Jumat (11/6). Ternyata sebelum itu, satu terlapor yakni Hans Andre Supit sudah diamankan dan ditetapkan tersangka oleh Bareskrim. Lalu Ferawati dimasukan dalam daftar pencarian orang (DPO).

Dalam pemeriksaan itu, petugas mendalami mengenai pengetahuan yang dimiliki pihak korban terhadap DNA Pro, baik bentuk trading dan perizinannya.

Berikutnya dalam diskusi yang dilakukan, Bareskrim menyebut telah menemukan kontruksi hukum mengenai permasalahan ini. Menariknya, aparat mengatakan sudah mengamankan aset sekitar Rp 350 miliar hasil penyelidikan seluruh Indonesia, baik aset bergerak maupun tidak bergerak. Bareskrim pun disebut sempat membawa terlapor Hans Andre Supit untuk melakukan pemeriksaan aset di Bali.

“Bahwa nasabah-nasabah yang inves Rp 100 juta atau bahkan miliaran rupiah dan disebut dapat menarik keuntungan 5-20 persen per bulan, sebetulnya uang mereka sendiri lah yang ditarik bukan profit, tapi dari DNA mengatakan itu profit trading,” bebernya. Sehingga saat ini polisi berusaha memastikan terlebih dulu total jumlah kerugian secara ril, yakni sisa dana yang belum bisa ditarik member sesuai modal pokok yang disetorkan.

Bahkan kantor DNA Pro Bali yang terletak di Renon sudah tutup alias tak ada operasional lagi. Padahal ada dana total Rp 1,4 triliun dari seluruh member di Bali yang perlu dipertanggungjawabkan.

 






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/