Minggu, 28 Nov 2021
Bali Express
Home / Bisnis
icon featured
Bisnis

Pendapatan Turun 40 Persen, Padangbai Tak Produktif, Ini Penyebabnya

14 Juni 2021, 19: 34: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pendapatan Turun 40 Persen, Padangbai Tak Produktif, Ini Penyebabnya

PADANGBAI: Situasi penyeberangan di Pelabuhan Padangbai, Karangasem menjelang momen Lebaran, beberapa waktu lalu. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS - Dibukanya jalur pelayaran atau tol laut dari Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) langsung menuju Pelabuhan Lembar (Lombok Barat) membuat beberapa perusahaan penyeberangan di Pelabuhan Padangbai, Karangasem menjerit. Akibatnya, 13 perusahaan kapal yang melayani rute penyeberangan Padangbai-Lembar memilih hengkang, beralih lintasan.

Perusahaan menyebut lintasan penyeberangan Karangasem-Lombok sudah tidak produktif. Meski ada beberapa perusahaan masih layani penyeberangan beberapa kendaraan seputar Bali, namun untuk kendaraan logistik lintas provinsi diakui minim. Perusahaan ekspedisi/logistik langsung memilih menyeberang ke Lombok melalui Ketapang.

Alasannya secara waktu lebih efisien dan biaya. 

Baca juga: Jual Handicraft Lucu, Agus Madi Sudah Ekspor Produk ke Berbagai Negara

"Harganya juga tidak beda jauh. Sehingga perusahaan logistik lebih memilih rute langsung Ketapang-Lembar. Sedangkan di sini (Padangbai) berakibat turunnya jumlah penumpang," ucap Ketua DPC Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Pelabuhan Padangbai, Anang Heru dikonfirmasi, Senin (14/6).

Anang mengakui, perusahaan kapal yang memilih untuk pindah lintasan lantaran tidak sanggup menanggung biaya operasional. Dengan turunnya jumlah penumpang, otomatis berdampak dengan pendapatan. Ini menjadi kerugian bagi perusahaan penyeberangan karena penurunan pendapatan terus terjadi akibat jumlah penumpang khususnya dari angkutan logistik yang menurun drastis.

Kapal-kapal yang sebelumnya beroperasi di wilayah Padangbai-Lembar kini banyak berpindah ke wilayah Palembang, Sumatera Selatan. Jalur di sana dinilai produktif dan dari sisi ketersediaan armada masih sedikit. “Untuk saat ini menurunnya sudah 40 persen jika dibandingkan sebelum pandemi (Covid-19) dan sebelum dibukanya tol laut Ketapang-Lembar,” kata Anang.

Sebagai gambaran, Anang mejelaskan untuk satu kapal dengan ukuran besar sebelumnya bisa meraih penghasilan di angka Rp 2,5 miliar per bulan. Namun untuk saat ini, untuk mencari pendapatan Rp 1 miliar diakui sangat sulit. Perusahaan harus menanggung gaji karyawan dan perawatan kapal, hingga docking yang tiap tahun menelan biaya tak sedikit.

Dirinya juga beralasan, penurunan penumpang khususnya angkutan logistik juga dipicu dibukanya penyebrangan baru di Pelabuhan Tanah Ampo, Kecamatan Manggis, Karangasem. Kapal yang kini masih tahap uji coba itu memberikan beberapa diskon bagi mobil angkutan logistik yang menggunakan kapal tersebut.

Menyikapi kondisi tersebut, pihak Gapasdap Pelabuhan Padangbai belum lama ini sudah menghadap Bupati Karangasem I Gede Dana, untuk membahas kondisi ini. Dia mengakui, kedatangan pihaknya disambut baik. "Pak Bupati merespon dan akan bersurat ke Dirjen Perhubungan Laut agar pelabuhan Tanah Ampo dikembalikan menjadi pelabuhan cruise,” terang Anang.

(bx/aka/yes/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia