alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Tak Bisa Tutupi Kerugian Saat Pandemi, Peternak Ayam Petelur Menyusut

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Di masa pandemi Covid-19, peternak ayam petelur di Desa Pasedahan, Kecamatan Manggis mengalami penurunan populasi ayam ternaknya. Hal tersebut disebabkan banyaknya peternak mengalami kerugian.

Dampak dari berkurangnya populasi ayam membuat pasokan telur ke pasar, khusunya di Karangasem menjadi menurun. Menurut informasi yang dihimpun, berkurangnya populasi ayam dikarenakan para peternak memilih berhenti sementara beternak ayam petelur. Karena tidak lagi bisa mencukupi biaya.

Menurut salah satu peternak I Nyoman Sumadi, sebelumnya terdapat sekitar 30 orang peternak. Tapi saat ini jumlah tersebut sudah banyak berkurang, karena para peternak mengalami kerugian dalam kurun waktu cukup panjang ketika pandemi Covid-19. “Sekarang tidak lebih dari 10 orang yang masih,” ujarnya, Senin (13/6).

Kondisi ini juga membuat penjualan telur ayam menurun, ditambah harga jual juga merosot. Namun, harga pakan mengalami kenaikan cukup tinggi. “Harga telur di peternak hanya Rp 22 ribu per tray, kalau hitung-hitung kami rugi Rp 6 ribu per tray. Itu 10 bulan dialami,” terangnya.

Mengalami kerugian yang cukup panjang, Sumadi mengaku para peternak memilih menjual ayamnya. Tidak berpikir walaupun sedang produktif untuk bertelur. “Dulu jual juga murah, karena banyak yang menjual. Untuk biaya pakan, untuk mempertahankan usaha,” lanjut pria yang juga menjadi anggota DPRD Karangasem tersebut.

Sumadi mengaku, merangkaknya harga telur mulai dirasakannya sejak menjelang Idul Fitri. Kini harganya sudah mencapai Rp 48 ribu. Sedangkan telur ayam super tembus di angka Rp 50 ribu. Meski begitu, keuntungan yang didapat kali ini baru bisa menutupi biaya produksinya. Belum mampu menutupi kerugian yang dialaminya sebelumnya.

“Harga hari ini adalah harga yang kekinian, sesuai dengan biaya produksi. Kalau jatuh lagi di bawah Rp 36 ribu per tray, mungkin lebih banyak lagi kandang yang kosong,” pungkasnya. (dir)

 


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Di masa pandemi Covid-19, peternak ayam petelur di Desa Pasedahan, Kecamatan Manggis mengalami penurunan populasi ayam ternaknya. Hal tersebut disebabkan banyaknya peternak mengalami kerugian.

Dampak dari berkurangnya populasi ayam membuat pasokan telur ke pasar, khusunya di Karangasem menjadi menurun. Menurut informasi yang dihimpun, berkurangnya populasi ayam dikarenakan para peternak memilih berhenti sementara beternak ayam petelur. Karena tidak lagi bisa mencukupi biaya.

Menurut salah satu peternak I Nyoman Sumadi, sebelumnya terdapat sekitar 30 orang peternak. Tapi saat ini jumlah tersebut sudah banyak berkurang, karena para peternak mengalami kerugian dalam kurun waktu cukup panjang ketika pandemi Covid-19. “Sekarang tidak lebih dari 10 orang yang masih,” ujarnya, Senin (13/6).

Kondisi ini juga membuat penjualan telur ayam menurun, ditambah harga jual juga merosot. Namun, harga pakan mengalami kenaikan cukup tinggi. “Harga telur di peternak hanya Rp 22 ribu per tray, kalau hitung-hitung kami rugi Rp 6 ribu per tray. Itu 10 bulan dialami,” terangnya.

Mengalami kerugian yang cukup panjang, Sumadi mengaku para peternak memilih menjual ayamnya. Tidak berpikir walaupun sedang produktif untuk bertelur. “Dulu jual juga murah, karena banyak yang menjual. Untuk biaya pakan, untuk mempertahankan usaha,” lanjut pria yang juga menjadi anggota DPRD Karangasem tersebut.

Sumadi mengaku, merangkaknya harga telur mulai dirasakannya sejak menjelang Idul Fitri. Kini harganya sudah mencapai Rp 48 ribu. Sedangkan telur ayam super tembus di angka Rp 50 ribu. Meski begitu, keuntungan yang didapat kali ini baru bisa menutupi biaya produksinya. Belum mampu menutupi kerugian yang dialaminya sebelumnya.

“Harga hari ini adalah harga yang kekinian, sesuai dengan biaya produksi. Kalau jatuh lagi di bawah Rp 36 ribu per tray, mungkin lebih banyak lagi kandang yang kosong,” pungkasnya. (dir)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/