alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

PLN UIT JBM, UPT Bali, Gelar Grebeg ROW Jaga Keandalan Pasokan Listrik

DENPASAR, BALI EXPRESS – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT-JBM) Unit Pelaksana Transmisi Bali (UPT BALI) melaksanakan program kegiatan Grebeg ROW (Right of Way) demi menjaga keandalan pasokan listrik kepada pelanggan.

Grebeg ROW merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk mengamankan ruang bebas minimum vertikal dari konduktor Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang ada di wilayah kerja Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali.

Kegiatan dilakukan pada ROW jaringan SUTT – T44 jalur Gilimanuk – Pemaron pada Kamis (09/12).

Manager ULTG Bali Utara, Hadi Yulianto menjelaskan, program Grebeg ROW telah berlangsung sejak awal tahun 2021 dan akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Pada wilayah kerja Gardu Induk di ULTG Bali Utara memberikan laporan pemangkasan pohon, demi memastikan keamanan pasokan listrik bagi masyarakat. Kami berharap agar warga masyarakat turut membantu PLN memangkas pohon di wilayah masing-masing demi kepentingan bersama,” katanya.

Saat ini, ROW telah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 2 Tahun 2019 Tentang Ruang Bebas dan Jarak Bebas Minimum pada SUTT, SUTET dan SUTT Arus Searah untuk Penyaluran Tenaga Listrik.

Dalam Permen itu dijelaskan, Right Of Way (ROW) atau ruang bebas adalah ruang yang dibatasi oleh bidang vertikal dan horizontal di sekeliling dan di sepanjang konduktor SUTT, SUTET, atau SUTTAS di mana tidak boleh ada benda di dalamnya demi keselamatan manusia, makhluk hidup, dan benda lainnya serta keamanan operasi SUTT, SUTET, dan SUTTAS.

Oleh sebab itu, maka dilakukan pemangkasan pohon yang berada di dekat jaringan listrik milik PLN. Tujuan utama dari pemangkasan pohon adalah untuk menjaga keamanan pasokan listrik, karena di jaringan listrik tersebut terdapat penyebab terjadinya padam, yang salah satunya disebabkan oleh sentuhan tanaman dan layangan yang tersangkut.

“Posisi aman jarak Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dengan pepohonan atau bangunan di bawahnya adalah kurang lebih 3 meter,” tambah Widodo selaku pelaksana.


DENPASAR, BALI EXPRESS – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT-JBM) Unit Pelaksana Transmisi Bali (UPT BALI) melaksanakan program kegiatan Grebeg ROW (Right of Way) demi menjaga keandalan pasokan listrik kepada pelanggan.

Grebeg ROW merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk mengamankan ruang bebas minimum vertikal dari konduktor Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang ada di wilayah kerja Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali.

Kegiatan dilakukan pada ROW jaringan SUTT – T44 jalur Gilimanuk – Pemaron pada Kamis (09/12).

Manager ULTG Bali Utara, Hadi Yulianto menjelaskan, program Grebeg ROW telah berlangsung sejak awal tahun 2021 dan akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Pada wilayah kerja Gardu Induk di ULTG Bali Utara memberikan laporan pemangkasan pohon, demi memastikan keamanan pasokan listrik bagi masyarakat. Kami berharap agar warga masyarakat turut membantu PLN memangkas pohon di wilayah masing-masing demi kepentingan bersama,” katanya.

Saat ini, ROW telah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 2 Tahun 2019 Tentang Ruang Bebas dan Jarak Bebas Minimum pada SUTT, SUTET dan SUTT Arus Searah untuk Penyaluran Tenaga Listrik.

Dalam Permen itu dijelaskan, Right Of Way (ROW) atau ruang bebas adalah ruang yang dibatasi oleh bidang vertikal dan horizontal di sekeliling dan di sepanjang konduktor SUTT, SUTET, atau SUTTAS di mana tidak boleh ada benda di dalamnya demi keselamatan manusia, makhluk hidup, dan benda lainnya serta keamanan operasi SUTT, SUTET, dan SUTTAS.

Oleh sebab itu, maka dilakukan pemangkasan pohon yang berada di dekat jaringan listrik milik PLN. Tujuan utama dari pemangkasan pohon adalah untuk menjaga keamanan pasokan listrik, karena di jaringan listrik tersebut terdapat penyebab terjadinya padam, yang salah satunya disebabkan oleh sentuhan tanaman dan layangan yang tersangkut.

“Posisi aman jarak Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dengan pepohonan atau bangunan di bawahnya adalah kurang lebih 3 meter,” tambah Widodo selaku pelaksana.


Most Read

Artikel Terbaru

/