alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Locogold dan Indeks Hang Seng, Produk Investasi Jadi Tren

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pasca Covid-19, PT. Solid Gold Berjangka (SGB) Bali mencatat adanya peningkatan terhadap volume transaksi serta jumlah nasabah baru. 

Volume transaksi dari bulan ke bulan ditotal mencapai sebanyak 28.567 lot. Dari segi jumlah nasabah, tercatat sebanyak 84 nasabah baru.

“Semua dipicu oleh edukasi yang kami jalankan dan komitmen membangun layanan yang lebih baik. Banyak nasabah baru yang merasakan sungguh-sungguh perbedaan layanan transaksi yang kami berikan sekarang,” ujar Pimpinan Cabang PT. Solid Gold Berjangka Bali, Peter Susanto, Senin (15/3).

Sebagai perusahaan pialang yang pernah diterpa isu ‘miring’ sebelumnya, Peter mengakui telah memetik pelajaran yang sangat berharga. Untuk senantiasa menjaga kualitas layanan, bukan saja dari sistem transaksi, melainkan juga sumber daya manusianya. 

“Karena itu kami berani menjamin sekarang kepada yang tertarik bergabung di SGB Bali akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dari perusahaan pialang lainnya,” katanya. 

Dia menjelaskan, faktor lain pendorong volume transaksi tentunya dikarenakan kondisi Covid-19, yang membuat orang menjatuhkan pilihan memutar dana di trading berjangka. Terutama pada produk Locogold atau emas, lantaran di tahun 2020 adalah masa bersinarnya emas.

“Patut dicatat juga bahwa tren investasi di perdagangan berjangka telah berlangsung lama di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, juga negara maju di Asia. Perbandingannya dari lima orang investor atau nasabah, empat orang mengembangkan modal mereka di perdagangan berjangka (futures trading) dan satu orang di pasar modal (capital market). Karenanya, trading itu asyik sebenarnya, apabila kita paham tentang produk dan risikonya,” jelasnya. 

Pihaknya menyebutkan, rata-rata usia nasabah di PT. SGB Bali selama ini, yakni usia produktif mulai dari usia 27 hingga 55 tahun. Sementara syarat untuk dapat menjadi nasabah di PT. SGB Bali adalah cukup modal, paham tentang risiko dan mengikuti arahan konsultan secara konsisten bagi mereka yang baru belajar untuk trading. 

Selain itu, dirinya juga memaparkan mengenai berbagai fasilitas dan pelayanan yang diberikan kepada nasabahnya. Yakni, seperti selalu membekali pengetahuan produk dan risiko yang cukup kepada setiap tenaga marketing, sebelum nantinya mereka terjun ke lapangan. Sehingga nasabah tidak hanya tahu soal peluang profit, tetapi juga tentang risiko serta bagaimana cara membatasi risiko tersebut dengan lima strategi yang menjadi rahasia.

Tahun 2021 ini, lanjutnya, merupakan tahun dimana pihaknya harus berlari mengejar ketertinggalan dari cabang-cabang lainnya. Untuk itu, pihaknya menargetkan nasabah baru di tahun 2021 ini sebanyak 300 nasabah dan volume transaksi sebanyak 60.000 lot. 

Diakuinya, hal tersebut bukanlah sebuah tantangan yang mudah, namun tidak terlalu sulit juga. Selain itu, di tahun ini pihaknya berkomitmen kuat untuk meraih kepercayaan masyarakat Bali terhadap PT. SGB Bali. Mengingat untuk di Pulau Dewata ini, perusahan pialang berjangka tidak hanya PT. SGB Bali, dan ini artinya telah banyak masyarakat Bali yang sudah paham tentang investasi.

 “Kunci memenangkan persaingan sekarang adalah siapa yang bisa memberikan layanan edukasi dan transaksi terbaik,” katanya.

Sementara itu, di awal tahun 2021, pihaknya melihat bahwa terdapat dua produk investasi yang tengah menjadi tren, khususnya di ruang lingkup PT. SGB Bali.  Kedua produk investasi tersebut, yakni Locogold dan indeks Hang Seng. 

“Locogold atau emas berjangka masih menjadi primadona. Hal ini terkait pula dengan momen Imlek pada awal Februari lalu. Yang mana, emas biasanya mengalami kenaikan pada momen tersebut. Kemudian, indeks Hang Seng. Indeks saham gabungan Hongkong ini mengalami penguatan yang cukup positif selama beberapa bulan terakhir,” katanya. 

Diprediksi, baik Locogold maupun Hang Seng masih akan bergerak positif hingga akhir 2021 seiring dengan pemulihan ekonomi di banyak negara dan menunggu kepastian vaksin Covid-19 yang memiliki efektifitas 100 persen. 

Disebutkannya, peluang profit rata-rata berada di 20-50 poin atau Rp 20-50 juta, dilihat dari rerata pergerakan kedua produk derivatif tersebut untuk saat ini. Sementara untuk tingkat risiko sekitar 10-30 poin. Namun, dengan manajemen risiko bisa dibatasi menjadi 5-15 poin.

Pada kesempatan tersebut, ia juga berbagi kiat-kiat agar nasabah dapat meraih keuntungan atau cuan dalam berinvestasi, sekaligus terhindar dari yang namanya investasi bodong. 

“Pertama perhatikan legalitas. Perusahaan pialang berjangka yang resmi diawasi dan terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Kedua, jangan terbuai oleh iming-iming tanpa risiko dari tenaga marketing manapun dari perusahaan pialang. Karena setiap investasi di perdagangan berjangka selalu memiliki peluang dan risiko, dan ini sudah menjadi standar pengetahuan yang umum bagi setiap marketing. Terutama di SGB Bali,” katanya.

Selanjutnya, dia menyarankan, agar memahami jalur mediasi yang benar bila terjadi perselisihan dengan perusahan pialang. Hal ini karena industri perdagangan berjangka komoditi memiliki Undang-Undang tersendiri yang mengatur. 

Bila terjadi persoalan di kemudian hari, lanjutnya, penyelesaian menurut Undang-Undang Perdagangan Berjangka Komoditi adalah langkah penyelesaian yang paling tepat dan cepat. “Terakhir, calon nasabah harus membaca dengan cermat buku perjanjian yang diberikan sebelum ditandatangani,” terangnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Pasca Covid-19, PT. Solid Gold Berjangka (SGB) Bali mencatat adanya peningkatan terhadap volume transaksi serta jumlah nasabah baru. 

Volume transaksi dari bulan ke bulan ditotal mencapai sebanyak 28.567 lot. Dari segi jumlah nasabah, tercatat sebanyak 84 nasabah baru.

“Semua dipicu oleh edukasi yang kami jalankan dan komitmen membangun layanan yang lebih baik. Banyak nasabah baru yang merasakan sungguh-sungguh perbedaan layanan transaksi yang kami berikan sekarang,” ujar Pimpinan Cabang PT. Solid Gold Berjangka Bali, Peter Susanto, Senin (15/3).

Sebagai perusahaan pialang yang pernah diterpa isu ‘miring’ sebelumnya, Peter mengakui telah memetik pelajaran yang sangat berharga. Untuk senantiasa menjaga kualitas layanan, bukan saja dari sistem transaksi, melainkan juga sumber daya manusianya. 

“Karena itu kami berani menjamin sekarang kepada yang tertarik bergabung di SGB Bali akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dari perusahaan pialang lainnya,” katanya. 

Dia menjelaskan, faktor lain pendorong volume transaksi tentunya dikarenakan kondisi Covid-19, yang membuat orang menjatuhkan pilihan memutar dana di trading berjangka. Terutama pada produk Locogold atau emas, lantaran di tahun 2020 adalah masa bersinarnya emas.

“Patut dicatat juga bahwa tren investasi di perdagangan berjangka telah berlangsung lama di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, juga negara maju di Asia. Perbandingannya dari lima orang investor atau nasabah, empat orang mengembangkan modal mereka di perdagangan berjangka (futures trading) dan satu orang di pasar modal (capital market). Karenanya, trading itu asyik sebenarnya, apabila kita paham tentang produk dan risikonya,” jelasnya. 

Pihaknya menyebutkan, rata-rata usia nasabah di PT. SGB Bali selama ini, yakni usia produktif mulai dari usia 27 hingga 55 tahun. Sementara syarat untuk dapat menjadi nasabah di PT. SGB Bali adalah cukup modal, paham tentang risiko dan mengikuti arahan konsultan secara konsisten bagi mereka yang baru belajar untuk trading. 

Selain itu, dirinya juga memaparkan mengenai berbagai fasilitas dan pelayanan yang diberikan kepada nasabahnya. Yakni, seperti selalu membekali pengetahuan produk dan risiko yang cukup kepada setiap tenaga marketing, sebelum nantinya mereka terjun ke lapangan. Sehingga nasabah tidak hanya tahu soal peluang profit, tetapi juga tentang risiko serta bagaimana cara membatasi risiko tersebut dengan lima strategi yang menjadi rahasia.

Tahun 2021 ini, lanjutnya, merupakan tahun dimana pihaknya harus berlari mengejar ketertinggalan dari cabang-cabang lainnya. Untuk itu, pihaknya menargetkan nasabah baru di tahun 2021 ini sebanyak 300 nasabah dan volume transaksi sebanyak 60.000 lot. 

Diakuinya, hal tersebut bukanlah sebuah tantangan yang mudah, namun tidak terlalu sulit juga. Selain itu, di tahun ini pihaknya berkomitmen kuat untuk meraih kepercayaan masyarakat Bali terhadap PT. SGB Bali. Mengingat untuk di Pulau Dewata ini, perusahan pialang berjangka tidak hanya PT. SGB Bali, dan ini artinya telah banyak masyarakat Bali yang sudah paham tentang investasi.

 “Kunci memenangkan persaingan sekarang adalah siapa yang bisa memberikan layanan edukasi dan transaksi terbaik,” katanya.

Sementara itu, di awal tahun 2021, pihaknya melihat bahwa terdapat dua produk investasi yang tengah menjadi tren, khususnya di ruang lingkup PT. SGB Bali.  Kedua produk investasi tersebut, yakni Locogold dan indeks Hang Seng. 

“Locogold atau emas berjangka masih menjadi primadona. Hal ini terkait pula dengan momen Imlek pada awal Februari lalu. Yang mana, emas biasanya mengalami kenaikan pada momen tersebut. Kemudian, indeks Hang Seng. Indeks saham gabungan Hongkong ini mengalami penguatan yang cukup positif selama beberapa bulan terakhir,” katanya. 

Diprediksi, baik Locogold maupun Hang Seng masih akan bergerak positif hingga akhir 2021 seiring dengan pemulihan ekonomi di banyak negara dan menunggu kepastian vaksin Covid-19 yang memiliki efektifitas 100 persen. 

Disebutkannya, peluang profit rata-rata berada di 20-50 poin atau Rp 20-50 juta, dilihat dari rerata pergerakan kedua produk derivatif tersebut untuk saat ini. Sementara untuk tingkat risiko sekitar 10-30 poin. Namun, dengan manajemen risiko bisa dibatasi menjadi 5-15 poin.

Pada kesempatan tersebut, ia juga berbagi kiat-kiat agar nasabah dapat meraih keuntungan atau cuan dalam berinvestasi, sekaligus terhindar dari yang namanya investasi bodong. 

“Pertama perhatikan legalitas. Perusahaan pialang berjangka yang resmi diawasi dan terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Kedua, jangan terbuai oleh iming-iming tanpa risiko dari tenaga marketing manapun dari perusahaan pialang. Karena setiap investasi di perdagangan berjangka selalu memiliki peluang dan risiko, dan ini sudah menjadi standar pengetahuan yang umum bagi setiap marketing. Terutama di SGB Bali,” katanya.

Selanjutnya, dia menyarankan, agar memahami jalur mediasi yang benar bila terjadi perselisihan dengan perusahan pialang. Hal ini karena industri perdagangan berjangka komoditi memiliki Undang-Undang tersendiri yang mengatur. 

Bila terjadi persoalan di kemudian hari, lanjutnya, penyelesaian menurut Undang-Undang Perdagangan Berjangka Komoditi adalah langkah penyelesaian yang paling tepat dan cepat. “Terakhir, calon nasabah harus membaca dengan cermat buku perjanjian yang diberikan sebelum ditandatangani,” terangnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/