alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Buka Usaha Rumahan, Sri Bisa Produksi Sampai 400 Kilogram Kripik Ayam

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ni Luh Sri Wahyuningsih, 47, memulai usaha rumahannya yang bernama Kripik Biru pada tahun 1997 silam. Kebetulan pada saat itu, ia baru melahirkan anak pertamanya. Pikirnya, sambil memomong anak, ia bisa mengisi waktu dengan membuka usaha. Singkat cerita, ia coba-coba membuat kripik, laku banyak dijualnya, hingga saat ini cukup dikenal masyarakat.

 

Keripik ini terbuat dari limbah ayam yakni bagian kepala dan leher ayam. Di tempat pemotongan daging kepala dan leher ayam termasuk limbah ayam. Ia memproduksi kripik ini hampir setiap hari, kecuali hari raya, di kediamannya Jalan Sulatri, Kesiman, Denpasar. Di hari normal, tidak di hari lembur, usahanya bisa memproduksi 200-250 kilogram kripik ayam dibantu oleh sebanyak 30 karyawannya. “Ini dari pukul 08.00 Wita sampai pukul 15.30 Wita sudah bubar. Kalau lembur bisa sampai pukul 18.00 Wita, bisa memproduksi 300 kilogram sampai 400 kilogram. Kalau dibandingkan saat sebelum pandemi, sebenarnya tidak jauh. Karena tidak terlalu berpengaruh, biaya produksi yang ngaruh,” jelasnya, Senin (14/3).

 

Dengan angka produksi yang tinggi, ia mampu meraup penghasilan kotor sampai Rp 9 juta per hari. Untuk harganya, ia membanderol mulai dari Rp 35 ribu per kilogram. Jika pelanggan datang membeli dengan jumlah besar, akan diberikan bonus atau potongan harga. “Bahan bakunya saya ambil langsung dari distributor. Seperti tepung, minyak, kalau ayamnya dari supplier di rumah potong,” kata perempuan asal Karangasem ini.

 

Untuk mendukung usahanya, tak hanya sekali, ia mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) beberapa kali di Bank BRI. “Pertama dari ada KUR Rp 500 ribu itu saya sudah cari. Terus berjenjang, sampai sekarang pun masih. KUR terakhir Rp 110 juta tenor 2 tahun, ini tahun 2021 ajuannya,” ungkapnya.

 

Disamping membantu pemodalan, BRI juga membantu usaha milih Sri ini untuk semakin dikenal masyarakat. Salah satunya melalui bazzar yang digelar BRI tahun lalu di BRI Pusat. “Sudah pernah diajak ikut bazzar di kantor pusat BRI di Jakarta November 2021. Saya bawa dagangan saya ke sana 80 kilogram, setengah jam sudah ludes. Setelah itu, dari BRI juga membantu menjualkan produk saya di sana, BRI kan punya swalayan khusus UMKM binaan BRI,” terangnya.

 

Ia pun berterima kasih atas pendampingan Bank BRI selama ini pada usahanya. Khususnya kepada mantri yang senantiasa mendampinginya. “Usaha saya semakin dilirik masyarakat, bahkan media juga. Peluang-peluang seperti inilah yang saya terima setelah adanya pendampingan dari BRI ini,” katanya.

 

Di sisi lain, BRI senantiasa mendukung para UMKM binaannya untuk berkembang dan maju. Khususnya para UMKM yang terdampak pandemi. “Kami senantiasa membantu UMKM binaan kami. Kami mendukung para UMKM untuk maju dan bangkit di masa pandemi Covid-19 ini. Mari kita bersama-sama melangkah untuk kembali menjadi kuat,” kata Regional CEO BRI Denpasar, Rudy Andimono.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ni Luh Sri Wahyuningsih, 47, memulai usaha rumahannya yang bernama Kripik Biru pada tahun 1997 silam. Kebetulan pada saat itu, ia baru melahirkan anak pertamanya. Pikirnya, sambil memomong anak, ia bisa mengisi waktu dengan membuka usaha. Singkat cerita, ia coba-coba membuat kripik, laku banyak dijualnya, hingga saat ini cukup dikenal masyarakat.

 

Keripik ini terbuat dari limbah ayam yakni bagian kepala dan leher ayam. Di tempat pemotongan daging kepala dan leher ayam termasuk limbah ayam. Ia memproduksi kripik ini hampir setiap hari, kecuali hari raya, di kediamannya Jalan Sulatri, Kesiman, Denpasar. Di hari normal, tidak di hari lembur, usahanya bisa memproduksi 200-250 kilogram kripik ayam dibantu oleh sebanyak 30 karyawannya. “Ini dari pukul 08.00 Wita sampai pukul 15.30 Wita sudah bubar. Kalau lembur bisa sampai pukul 18.00 Wita, bisa memproduksi 300 kilogram sampai 400 kilogram. Kalau dibandingkan saat sebelum pandemi, sebenarnya tidak jauh. Karena tidak terlalu berpengaruh, biaya produksi yang ngaruh,” jelasnya, Senin (14/3).

 

Dengan angka produksi yang tinggi, ia mampu meraup penghasilan kotor sampai Rp 9 juta per hari. Untuk harganya, ia membanderol mulai dari Rp 35 ribu per kilogram. Jika pelanggan datang membeli dengan jumlah besar, akan diberikan bonus atau potongan harga. “Bahan bakunya saya ambil langsung dari distributor. Seperti tepung, minyak, kalau ayamnya dari supplier di rumah potong,” kata perempuan asal Karangasem ini.

 

Untuk mendukung usahanya, tak hanya sekali, ia mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) beberapa kali di Bank BRI. “Pertama dari ada KUR Rp 500 ribu itu saya sudah cari. Terus berjenjang, sampai sekarang pun masih. KUR terakhir Rp 110 juta tenor 2 tahun, ini tahun 2021 ajuannya,” ungkapnya.

 

Disamping membantu pemodalan, BRI juga membantu usaha milih Sri ini untuk semakin dikenal masyarakat. Salah satunya melalui bazzar yang digelar BRI tahun lalu di BRI Pusat. “Sudah pernah diajak ikut bazzar di kantor pusat BRI di Jakarta November 2021. Saya bawa dagangan saya ke sana 80 kilogram, setengah jam sudah ludes. Setelah itu, dari BRI juga membantu menjualkan produk saya di sana, BRI kan punya swalayan khusus UMKM binaan BRI,” terangnya.

 

Ia pun berterima kasih atas pendampingan Bank BRI selama ini pada usahanya. Khususnya kepada mantri yang senantiasa mendampinginya. “Usaha saya semakin dilirik masyarakat, bahkan media juga. Peluang-peluang seperti inilah yang saya terima setelah adanya pendampingan dari BRI ini,” katanya.

 

Di sisi lain, BRI senantiasa mendukung para UMKM binaannya untuk berkembang dan maju. Khususnya para UMKM yang terdampak pandemi. “Kami senantiasa membantu UMKM binaan kami. Kami mendukung para UMKM untuk maju dan bangkit di masa pandemi Covid-19 ini. Mari kita bersama-sama melangkah untuk kembali menjadi kuat,” kata Regional CEO BRI Denpasar, Rudy Andimono.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/