alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Adhi Ardhana Dorong Bali Jadi Pusat Ekspor

DENPASAR, BALI EXPRESS – Dalam beberapa hari terakhir, Gubernur Bali Wayan Koster mencetuskan gagasannya soal beberapa potensi pendapatan asli daerah (PAD) lainnya. Salah satunya merancang Bali sebagai hub atau pusat kegiatan ekspor berbagai produk lokal. Baik yang dari Bali maupun dari luar daerah Bali.

Gagasan ini tidak hanya disampaikan sekali. Pertama, dia sampaikan dalam sidang paripurna di DPRD Bali awal pekan. Waktu menjawab usulan masing-masing fraksi agar pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melakukan upaya intensifikasi dan ekstensifisikasi pendapatan. Dan yang kedua, saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Koperasi Ke-73 dan UMKM Nasional Ke-5 Tahun 2020.

Dalam sidang paripurna di DPRD Bali, rancangan itu dia sertakan dengan proyeksi bahwa dengan menjadi pusat kegiatan ekspor, nantinya Bali memiliki ceruk pendapatan yang baru. Di luar sumber utama pendapatan asli daerah (PAD) Bali yang selama ini bertumpu pada Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang menurutnya saat ini sudah mencapai titik jenuh.

Mengenai gagasan itu, anggota Komisi II DPRD Bali, AA Ngurah Adhi Ardhana, memandang rencana itu penting untuk direalisasikan secepatnya. Karena hal tersebut terkait erat dengan kegiatan ekonomi di Bali. “Ini penting untuk digerakkan secepatnya. Paling tidak, kita mau tidak mau mengundang orang atau mengirimkan barang. Sehingga perekonomian di Bali secara kedaerahan akan berputar. Itu yang pertama,” kata Adhi Ardhana, Rabu (15/7).

Pertimbangan keduanya, sambung Adhi Ardhana, Bali selama ini sudah terlalu lama menjadi showroom atau etalase. Baik untuk sektor pariwisata maupun penjualan produk-produk lokal. Baik itu pangan atau kerajinan. “Saya juga membayangkan pemikiran pak Wakil Gubernur kemarin soal work from Bali. Kalau ini digabungkan, akan sangat menarik. Ini akan sangat mendukung kegiatan pariwisata sebagai sebuah segmen pasar yang baru,” sebutnya.

Dia menambahkan, potensi Bali menjadi pusat kegiatan itu cukup besar. Terlebih Bali selama ini sudah menjadi destinasi wisata utama di tingkat dunia. Sehingga di saat yang sama, Bali menempati posisi yang terbaik dari sisi pemasaran. Bahkan nama Bali telah melebar menjadi sebuah brand yang sangat baik di dunia. “Ini menarik untuk didorong, diformulasikan, dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Kasarnya, jadi WTC (word trade center). Atau, WTC di dunia maya misalnya. Bentuknya nanti market place dengan brand Bali. Dari brand itulah Bali memperoleh pendapatan,” tukas politis PDIP ini.

Kendati sependapat dengan gagasan mengenai hub atau pusat kegiatan ekspor, Adhi Ardhana menyampaikan pandangan yang berbeda terkait dengan kondisi sumber utama PAD Bali saat ini. Yakni PKB dan BBNKB. Bila Gubernur Koster menyebutkan bahwa menggali pendapatan dari PKB dan BBNKB sudah mentok, Adhi Ardhana justru lain. “Mentok iya. Kecuali ekonomi berputar dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, bila perekonomian daerah berputar dengan baik, orang akan berpikir tentang prinsip ekonomi. Kebutuhan terhadap kendaraan dipandang sebagai bagian untuk menunjang kegiatan usahanya. “Misalnya, sekarang ini banyak yang pakai jasa ojek online. Agar orang mau menggunakan jasanya, tentu mereka akan berpikir memperbarui kendaraannya. Selain itu, dealer (kendaraan) juga pasti akan tetap berjualan,” ujarnya mengilustrasikan.

Itu sebabnya, dia berbeda pandangan dalam melihat potensi PKB dan BBNKB yang selama ini menjadi sumber utama PAD Bali. Bahkan, bila dikaitkan dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, potensi pendapatan dari dua sumber tersebut memang sangat kecil. “Sayapun memproyeksikan, ya sudahlah, nilainya sangat kecil. Beda sedikit pandangannya kalau soal ini (PKB dan BBNKB). Bukan mentok. Hopless (hilang harapan) iya,” pungkasnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Dalam beberapa hari terakhir, Gubernur Bali Wayan Koster mencetuskan gagasannya soal beberapa potensi pendapatan asli daerah (PAD) lainnya. Salah satunya merancang Bali sebagai hub atau pusat kegiatan ekspor berbagai produk lokal. Baik yang dari Bali maupun dari luar daerah Bali.

Gagasan ini tidak hanya disampaikan sekali. Pertama, dia sampaikan dalam sidang paripurna di DPRD Bali awal pekan. Waktu menjawab usulan masing-masing fraksi agar pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melakukan upaya intensifikasi dan ekstensifisikasi pendapatan. Dan yang kedua, saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Koperasi Ke-73 dan UMKM Nasional Ke-5 Tahun 2020.

Dalam sidang paripurna di DPRD Bali, rancangan itu dia sertakan dengan proyeksi bahwa dengan menjadi pusat kegiatan ekspor, nantinya Bali memiliki ceruk pendapatan yang baru. Di luar sumber utama pendapatan asli daerah (PAD) Bali yang selama ini bertumpu pada Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang menurutnya saat ini sudah mencapai titik jenuh.

Mengenai gagasan itu, anggota Komisi II DPRD Bali, AA Ngurah Adhi Ardhana, memandang rencana itu penting untuk direalisasikan secepatnya. Karena hal tersebut terkait erat dengan kegiatan ekonomi di Bali. “Ini penting untuk digerakkan secepatnya. Paling tidak, kita mau tidak mau mengundang orang atau mengirimkan barang. Sehingga perekonomian di Bali secara kedaerahan akan berputar. Itu yang pertama,” kata Adhi Ardhana, Rabu (15/7).

Pertimbangan keduanya, sambung Adhi Ardhana, Bali selama ini sudah terlalu lama menjadi showroom atau etalase. Baik untuk sektor pariwisata maupun penjualan produk-produk lokal. Baik itu pangan atau kerajinan. “Saya juga membayangkan pemikiran pak Wakil Gubernur kemarin soal work from Bali. Kalau ini digabungkan, akan sangat menarik. Ini akan sangat mendukung kegiatan pariwisata sebagai sebuah segmen pasar yang baru,” sebutnya.

Dia menambahkan, potensi Bali menjadi pusat kegiatan itu cukup besar. Terlebih Bali selama ini sudah menjadi destinasi wisata utama di tingkat dunia. Sehingga di saat yang sama, Bali menempati posisi yang terbaik dari sisi pemasaran. Bahkan nama Bali telah melebar menjadi sebuah brand yang sangat baik di dunia. “Ini menarik untuk didorong, diformulasikan, dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Kasarnya, jadi WTC (word trade center). Atau, WTC di dunia maya misalnya. Bentuknya nanti market place dengan brand Bali. Dari brand itulah Bali memperoleh pendapatan,” tukas politis PDIP ini.

Kendati sependapat dengan gagasan mengenai hub atau pusat kegiatan ekspor, Adhi Ardhana menyampaikan pandangan yang berbeda terkait dengan kondisi sumber utama PAD Bali saat ini. Yakni PKB dan BBNKB. Bila Gubernur Koster menyebutkan bahwa menggali pendapatan dari PKB dan BBNKB sudah mentok, Adhi Ardhana justru lain. “Mentok iya. Kecuali ekonomi berputar dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, bila perekonomian daerah berputar dengan baik, orang akan berpikir tentang prinsip ekonomi. Kebutuhan terhadap kendaraan dipandang sebagai bagian untuk menunjang kegiatan usahanya. “Misalnya, sekarang ini banyak yang pakai jasa ojek online. Agar orang mau menggunakan jasanya, tentu mereka akan berpikir memperbarui kendaraannya. Selain itu, dealer (kendaraan) juga pasti akan tetap berjualan,” ujarnya mengilustrasikan.

Itu sebabnya, dia berbeda pandangan dalam melihat potensi PKB dan BBNKB yang selama ini menjadi sumber utama PAD Bali. Bahkan, bila dikaitkan dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, potensi pendapatan dari dua sumber tersebut memang sangat kecil. “Sayapun memproyeksikan, ya sudahlah, nilainya sangat kecil. Beda sedikit pandangannya kalau soal ini (PKB dan BBNKB). Bukan mentok. Hopless (hilang harapan) iya,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/