alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Posisi Pertumbuhan Ekonomi Bali Paling Buntut

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pada pertumbuhan ekonomi seluruh provinsi triwulan III 2021 yang dirilis Bank Indonesia, Bali menempati posisi paling buntut. Pada triwulan III 2021, perekonomian Bali terkontraksi -2,91 persen (year on year/yoy). Kinerja tersebut merupakan yang terendah dibanding provinsi lainnya di Indonesia, yang mana nomor dua terbawah, atau di atas Bali, ditempati Papua Barat dengan nilai 1,76 persen. Sedangkan posisi teratas ditempati Papua dengan pertumbuhan ekonomi setinggi 14,54 persen. Sementara itu secara triwulanan perekonomian Bali terkontraksi sebesar -4,08 persen.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Bali, Trisno Nugroho, kebijakan pembatasan mobilitas seiring dengan peningkatan kasus Covid-19 (varian delta) pada triwulan III 2021 telah menekan kinerja ekonomi Bali. Pemberlakuan PPKM Darurat dari 1 Juli 2021 sampai dengan 20 Juli 2021 dan berlanjut dengan PPKM Level 4 sampai dengan 13 September 2021 telah menahan kinerja sektor pariwisata dan sektor terkait lainnya.

Alhasil, dia menyebutkan, dari 17 lapangan usaha (LU), 11 diantaranya mengalami pertumbuhan negatif dengan pertumbuhan terendah terjadi pada LU Transportasi -16,03 persen (yoy) dan LU Akmamin -8,47 persen (yoy). Selanjutnya kontraksi juga terjadi pada LU Pertanian -0,18 persen (yoy) dan LU Perdagangan (-1,00 persen  (yoy). LU Kontruksi secara tahunan juga tercatat tumbuh positif (0,84 persen (yoy).

“Pada triwulan IV 2021 mendatang, pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan membaik sehubungan dengan kebijakan pelonggaran mobilitas ditengah semakin terkendalinya kasus Covid-19,” katanya, Senin (15/11).

Sementara itu, Director Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai, salah satu tantangan adalah pada lama wisatawan domestik tinggal di Bali. Diakuinya, event-event kecil seperti rapat pemerintahan, acara seminar perusahaan swasta di Bali telah berjalan sepanjang kuartal ke-III 2021. Namun, acara-acara itu tingkat belanja per orangnya relatif rendah.

“Setelah acara selesai, para peserta pulang ke daerah masing-masing. Bahkan rata-rata lama tinggal wisatawan hanya 1-2 hari, jadi sekedar short trip dan akibatnya pengeluaran terbesarnya ada di tiket pesawat, dan transportasi lokal,” katanya.

Disamping itu, kebijakan wajib PCR saat itu ikut berdampak terhadap lama wisatawan tinggal. “Dibandingkan harus dua kali PCR yang memakan biaya mahal, maka banyak wisatawan memutuskan kurang dari 24 jam sudah meninggalkan Bali. Untuk segmentasi wisatawan domestik kelas menengah, simpanan untuk jalan-jalan masih terbatas jadi tidak akan stay sampai 1-2 minggu di Bali,” tambahnya.

Pihaknya pun menyarankan, agar pemerintah mampu meningkatkan minat masyarakat dalam berwisata ke Bali melalui promosi, paket liburan ke beberapa destinasi wisata, hingga bekerjasama dengan pihak maskapai untuk subsidi PCR maupun antigen. “Jadi length of stay wisatawan domestiknya bisa meningkat. Dalam jangka panjang tentu Bali perlu diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi mulai pengembangan industri makanan minuman berorientasi ekspor, hingga kerajinan dan hub ekonomi digital, melahirkan startup-startup digital dari Bali,” sarannya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Pada pertumbuhan ekonomi seluruh provinsi triwulan III 2021 yang dirilis Bank Indonesia, Bali menempati posisi paling buntut. Pada triwulan III 2021, perekonomian Bali terkontraksi -2,91 persen (year on year/yoy). Kinerja tersebut merupakan yang terendah dibanding provinsi lainnya di Indonesia, yang mana nomor dua terbawah, atau di atas Bali, ditempati Papua Barat dengan nilai 1,76 persen. Sedangkan posisi teratas ditempati Papua dengan pertumbuhan ekonomi setinggi 14,54 persen. Sementara itu secara triwulanan perekonomian Bali terkontraksi sebesar -4,08 persen.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Bali, Trisno Nugroho, kebijakan pembatasan mobilitas seiring dengan peningkatan kasus Covid-19 (varian delta) pada triwulan III 2021 telah menekan kinerja ekonomi Bali. Pemberlakuan PPKM Darurat dari 1 Juli 2021 sampai dengan 20 Juli 2021 dan berlanjut dengan PPKM Level 4 sampai dengan 13 September 2021 telah menahan kinerja sektor pariwisata dan sektor terkait lainnya.

Alhasil, dia menyebutkan, dari 17 lapangan usaha (LU), 11 diantaranya mengalami pertumbuhan negatif dengan pertumbuhan terendah terjadi pada LU Transportasi -16,03 persen (yoy) dan LU Akmamin -8,47 persen (yoy). Selanjutnya kontraksi juga terjadi pada LU Pertanian -0,18 persen (yoy) dan LU Perdagangan (-1,00 persen  (yoy). LU Kontruksi secara tahunan juga tercatat tumbuh positif (0,84 persen (yoy).

“Pada triwulan IV 2021 mendatang, pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan membaik sehubungan dengan kebijakan pelonggaran mobilitas ditengah semakin terkendalinya kasus Covid-19,” katanya, Senin (15/11).

Sementara itu, Director Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai, salah satu tantangan adalah pada lama wisatawan domestik tinggal di Bali. Diakuinya, event-event kecil seperti rapat pemerintahan, acara seminar perusahaan swasta di Bali telah berjalan sepanjang kuartal ke-III 2021. Namun, acara-acara itu tingkat belanja per orangnya relatif rendah.

“Setelah acara selesai, para peserta pulang ke daerah masing-masing. Bahkan rata-rata lama tinggal wisatawan hanya 1-2 hari, jadi sekedar short trip dan akibatnya pengeluaran terbesarnya ada di tiket pesawat, dan transportasi lokal,” katanya.

Disamping itu, kebijakan wajib PCR saat itu ikut berdampak terhadap lama wisatawan tinggal. “Dibandingkan harus dua kali PCR yang memakan biaya mahal, maka banyak wisatawan memutuskan kurang dari 24 jam sudah meninggalkan Bali. Untuk segmentasi wisatawan domestik kelas menengah, simpanan untuk jalan-jalan masih terbatas jadi tidak akan stay sampai 1-2 minggu di Bali,” tambahnya.

Pihaknya pun menyarankan, agar pemerintah mampu meningkatkan minat masyarakat dalam berwisata ke Bali melalui promosi, paket liburan ke beberapa destinasi wisata, hingga bekerjasama dengan pihak maskapai untuk subsidi PCR maupun antigen. “Jadi length of stay wisatawan domestiknya bisa meningkat. Dalam jangka panjang tentu Bali perlu diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi mulai pengembangan industri makanan minuman berorientasi ekspor, hingga kerajinan dan hub ekonomi digital, melahirkan startup-startup digital dari Bali,” sarannya.


Most Read

Artikel Terbaru

/