alexametrics
29.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Sebulan Pasca Pariwisata Internasional Dibuka, Bali Nihil Wisman

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebulan pasca pintu pariwisata internasional Bali dibuka pada 14 Oktober lalu, kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) masih nihil. Berdasarkan data penerbangan yang dirilis pihak Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, sejak 14 Oktober hingga 13 November 2021, tercatat belum ada penerbangan internasional berstatus komersial yang datang dari luar negeri ke Bali.

“Belum ada (penerbangan internasional yang datang),” ujar Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I, Taufan Yudhistira, saat dikonfirmasi Minggu (14/11).

Terkait jumlah penumpang yang terlayani di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, selama seminggu terakhir sejak tanggal 7 sampai 13 November 2021, total sebanyak 60.058 orang. Yang mana dari total jumlah seminggu tersebut, kedatangan terbanyak terjadi pada Jumat (12/11), yakni sebanyak 10.383 orang. Sedangkan jumlah kedatangan paling sedikit yakni pada Selasa 9 November 2021, yakni sebanyak 6.372 orang. Sedangkan, untuk keberangkatan domestik selama seminggu terakhir dari tanggal 7 sampai 13 November total penumpang sebanyak, 57.862 orang.

“Untuk jumlah penumpang paling banyak terjadi pada tanggal 7 November sebanyak 11.023 orang dan penumpang paling sedikit terjadi pada 10 November yakni 7.190 orang,” sebutnya. 

Di sisi lain, Gubernur Bali, Wayan Koster pada konferensi pers yang digelar di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (14/10) lalu, menyampaikan, dalam data yang dipegangnya, setidaknya dari 19 negara yang diizinkan masuk ke Bali, sudah ada 20 ribuan wisatawan yang sudah pesan untuk datang ke Bali pada bulan November. Namun, hingga saat ini fakta di lapangan belum ada satupun wisatawan mancanegara yang berkunjung langsung ke Bali.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pengurus Daerah Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (DPD ASITA) Bali, Putu Winastra menuturkan, jika berbicara bookingan, terutama Eropa, mereka telah sejak jauh-jauh hari melakukan bookingan. Namun, hal itu kembali lagi kepada apakah bookingan tersebut terealisasikan atau tidak.

“Masalah booking, Desember pun ada bookingan, bahkan sampai 2022 juga ada bookingan, tetapi yang jelas, bookingan itu terealisasi atau tidak? Kan itu yang terpenting, makanya sekarang, kalau mau bookingan itu terealisasi, aturan (yang diterapkan) harus ada kejelasannya,” kata dia. “Walaupun ada bookingan 20 ribu, kan termasuk sedikit itu, katakanlah 100 ribu room night misalnya, tetapi kalau aturan ini tidak dievaluasi kan tidak mungkin terealisasi. Apalah artinya bookingan? Bookingan itu kan bisa dicancel setiap saat,” imbuhnya.

Menurut Winastra, ada beberapa poin yang menyebabkan wisman belum bisa datang ke Bali. Pertama, soal e-Visa, yang mana dalam penerapannya mesti ada sponsor dan soal ini belum tersampaikan jelas sponsor seperti apa. Kedua, terkait karantina. Karantina dalam kamar hotel selama empat hari tiga malam dinilainya masih tidak masuk akal. Padahal, wisman yang berkunjung ke Bali sudah jelas menerapkan prokes yang diwajibkan. Seperti negatif PCR, vaksinasi penuh, dan tidak terinfeksi Covid-19.

“Ketiga, justru sangat penting sekali sebagai airline yang mengangkut penumpang overseas ke Bali. Nah di sana kan disebutkan ada direct flight, nah bisa dibayangkan, dari Eropa ke Bali mana ada yang direct sekarang ini? Belum ada. Jadi aturan ini masih complicated. Ini yang menyebabkan situasi sampai saat ini belum ada pesawat yang landed di Bali,” paparnya.

Lebih lanjut pihaknya mengaku memang telah menerima bookingan sampai tahun 2022. Namun, ia belum bisa menyebutkan secara pasti terkait data bookingan yang diterima. “Itu pattern daripada Eropa khususnya kan mereka tetap booking, enam bulan sebelumnya mereka sudah booking. Kalau datanya saya belum dapat dari anggota, tetapi yang jelas bookingan ada, tetapi materialisasi bookingan itu yang belum ada. Karena memang aturan ini harus evaluasi, kalau tidak ya saya tidak yakin ini akan terealisasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengungkapkan, hingga saat ini dari 19 negara yang dibuka untuk Indonesia, kebanyakan pendaratan penerbangannya di Jakarta. Dan saat ini masih menjalani karantina, sehingga belum ada kunjungan dari wisman. “Mereka (wisman) kebanyakan beralih ke Thailand karena di Thailand tidak menerapkan karantina,” katanya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebulan pasca pintu pariwisata internasional Bali dibuka pada 14 Oktober lalu, kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) masih nihil. Berdasarkan data penerbangan yang dirilis pihak Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, sejak 14 Oktober hingga 13 November 2021, tercatat belum ada penerbangan internasional berstatus komersial yang datang dari luar negeri ke Bali.

“Belum ada (penerbangan internasional yang datang),” ujar Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I, Taufan Yudhistira, saat dikonfirmasi Minggu (14/11).

Terkait jumlah penumpang yang terlayani di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, selama seminggu terakhir sejak tanggal 7 sampai 13 November 2021, total sebanyak 60.058 orang. Yang mana dari total jumlah seminggu tersebut, kedatangan terbanyak terjadi pada Jumat (12/11), yakni sebanyak 10.383 orang. Sedangkan jumlah kedatangan paling sedikit yakni pada Selasa 9 November 2021, yakni sebanyak 6.372 orang. Sedangkan, untuk keberangkatan domestik selama seminggu terakhir dari tanggal 7 sampai 13 November total penumpang sebanyak, 57.862 orang.

“Untuk jumlah penumpang paling banyak terjadi pada tanggal 7 November sebanyak 11.023 orang dan penumpang paling sedikit terjadi pada 10 November yakni 7.190 orang,” sebutnya. 

Di sisi lain, Gubernur Bali, Wayan Koster pada konferensi pers yang digelar di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (14/10) lalu, menyampaikan, dalam data yang dipegangnya, setidaknya dari 19 negara yang diizinkan masuk ke Bali, sudah ada 20 ribuan wisatawan yang sudah pesan untuk datang ke Bali pada bulan November. Namun, hingga saat ini fakta di lapangan belum ada satupun wisatawan mancanegara yang berkunjung langsung ke Bali.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pengurus Daerah Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (DPD ASITA) Bali, Putu Winastra menuturkan, jika berbicara bookingan, terutama Eropa, mereka telah sejak jauh-jauh hari melakukan bookingan. Namun, hal itu kembali lagi kepada apakah bookingan tersebut terealisasikan atau tidak.

“Masalah booking, Desember pun ada bookingan, bahkan sampai 2022 juga ada bookingan, tetapi yang jelas, bookingan itu terealisasi atau tidak? Kan itu yang terpenting, makanya sekarang, kalau mau bookingan itu terealisasi, aturan (yang diterapkan) harus ada kejelasannya,” kata dia. “Walaupun ada bookingan 20 ribu, kan termasuk sedikit itu, katakanlah 100 ribu room night misalnya, tetapi kalau aturan ini tidak dievaluasi kan tidak mungkin terealisasi. Apalah artinya bookingan? Bookingan itu kan bisa dicancel setiap saat,” imbuhnya.

Menurut Winastra, ada beberapa poin yang menyebabkan wisman belum bisa datang ke Bali. Pertama, soal e-Visa, yang mana dalam penerapannya mesti ada sponsor dan soal ini belum tersampaikan jelas sponsor seperti apa. Kedua, terkait karantina. Karantina dalam kamar hotel selama empat hari tiga malam dinilainya masih tidak masuk akal. Padahal, wisman yang berkunjung ke Bali sudah jelas menerapkan prokes yang diwajibkan. Seperti negatif PCR, vaksinasi penuh, dan tidak terinfeksi Covid-19.

“Ketiga, justru sangat penting sekali sebagai airline yang mengangkut penumpang overseas ke Bali. Nah di sana kan disebutkan ada direct flight, nah bisa dibayangkan, dari Eropa ke Bali mana ada yang direct sekarang ini? Belum ada. Jadi aturan ini masih complicated. Ini yang menyebabkan situasi sampai saat ini belum ada pesawat yang landed di Bali,” paparnya.

Lebih lanjut pihaknya mengaku memang telah menerima bookingan sampai tahun 2022. Namun, ia belum bisa menyebutkan secara pasti terkait data bookingan yang diterima. “Itu pattern daripada Eropa khususnya kan mereka tetap booking, enam bulan sebelumnya mereka sudah booking. Kalau datanya saya belum dapat dari anggota, tetapi yang jelas bookingan ada, tetapi materialisasi bookingan itu yang belum ada. Karena memang aturan ini harus evaluasi, kalau tidak ya saya tidak yakin ini akan terealisasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengungkapkan, hingga saat ini dari 19 negara yang dibuka untuk Indonesia, kebanyakan pendaratan penerbangannya di Jakarta. Dan saat ini masih menjalani karantina, sehingga belum ada kunjungan dari wisman. “Mereka (wisman) kebanyakan beralih ke Thailand karena di Thailand tidak menerapkan karantina,” katanya.


Most Read

Artikel Terbaru

/