30.8 C
Denpasar
Monday, January 30, 2023

KM Sirimau Rute Kupang-Papua Disetop, Petani Bingung Bawang Numpuk 

KUPANG, BALI EXPRESS – Sebanyak 12 ton bawang merah milik para petani di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, kini tak bisa dipasarkan lagi ke Papua setelah kapal Pelni KM Sirimau rute Kupang-Papua dihentikan pelayarannya.

“Di gudang saya ada 12 ton, bingung harus dijual kemana sekarang, karena selama ini proses jualnya dikirim ke Papua, karena ada pembeli di sana,” kata pedagang bawang merah Semau Petrus Tausbele kepada Antara saat dihubungi dari Kupang, Kamis (16/9).

Ia mengatakan saat ini para petani bawang merah di pulau itu juga menjerit, karena bawang merah mereka juga menumpuk karena jalur pemasaran ke Papua tidak bisa diakses.

Petrus mengaku bahwa dirinya secara rutin membawa hasil pertanian tersebut ke Papua. Namun saat ini terpaksa terhenti.

Baca Juga :  Gara-gara Aturan Pusat, Bangli Tak Bisa Layani Uji Kir

“Kapal Sirimau (milik PT Pelni) yang biasa kami numpang. Tapi sejak Juli itu tidak ada lagi. Jadi sekarang bawang semua menumpuk,” jelas Petrus.

Dikatakannya, setiap bulan membawa 60-80 ton bawang merah untuk dipasarkan di Papua. Alasannya, harga jual di Papua menguntungkan.

Saat ini dia terancam merugi karena bawang yang sudah dibeli untuk dijual ke Papua, masih tertahan. Sementara harga jual di Kupang rendah, bahkan cendrung turun.

“Awalnya kita beli dengan Rp 13 ribu di petani. Tapi sekarang harga sudah turun lagi. Masih belasan ton yang menumpuk,” tutur dia.

Ia berharap agar pemerintah bisa mencari solusi agar di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini usaha tetap berjalan.

Baca Juga :  Ini Cara Mudah Dapatkan Stimulus Listrik PLN Mulai Maret

Petrus juga mengaku tak bisa membeli lagi dari petani, karena tak ingin semakin banyak bawang menumpuk di gudangnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Pelni Kupang Safran dihubungi terpisah mengatakan bahwa saat ini KM Sirimau memang tidak beroperasi karena digunakan untuk melayani isolasi terpusat masyarakat Kota Sorong. “Tidak ada kapal pengganti Sirimau saat ini,” katanya.

Bahkan, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi kepastian KM Sirimau kembali beroperasi. “Kalau nanti sudah ada info kepastiannya segera kami info ke masyarakat,” ujarnya. (ant)


KUPANG, BALI EXPRESS – Sebanyak 12 ton bawang merah milik para petani di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, kini tak bisa dipasarkan lagi ke Papua setelah kapal Pelni KM Sirimau rute Kupang-Papua dihentikan pelayarannya.

“Di gudang saya ada 12 ton, bingung harus dijual kemana sekarang, karena selama ini proses jualnya dikirim ke Papua, karena ada pembeli di sana,” kata pedagang bawang merah Semau Petrus Tausbele kepada Antara saat dihubungi dari Kupang, Kamis (16/9).

Ia mengatakan saat ini para petani bawang merah di pulau itu juga menjerit, karena bawang merah mereka juga menumpuk karena jalur pemasaran ke Papua tidak bisa diakses.

Petrus mengaku bahwa dirinya secara rutin membawa hasil pertanian tersebut ke Papua. Namun saat ini terpaksa terhenti.

Baca Juga :  Kampanyekan Bali Aman, SIC Dewata Gelar Touring

“Kapal Sirimau (milik PT Pelni) yang biasa kami numpang. Tapi sejak Juli itu tidak ada lagi. Jadi sekarang bawang semua menumpuk,” jelas Petrus.

Dikatakannya, setiap bulan membawa 60-80 ton bawang merah untuk dipasarkan di Papua. Alasannya, harga jual di Papua menguntungkan.

Saat ini dia terancam merugi karena bawang yang sudah dibeli untuk dijual ke Papua, masih tertahan. Sementara harga jual di Kupang rendah, bahkan cendrung turun.

“Awalnya kita beli dengan Rp 13 ribu di petani. Tapi sekarang harga sudah turun lagi. Masih belasan ton yang menumpuk,” tutur dia.

Ia berharap agar pemerintah bisa mencari solusi agar di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini usaha tetap berjalan.

Baca Juga :  PLN Bangun 36 PLTS Atap 869 kWp di Bali

Petrus juga mengaku tak bisa membeli lagi dari petani, karena tak ingin semakin banyak bawang menumpuk di gudangnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Pelni Kupang Safran dihubungi terpisah mengatakan bahwa saat ini KM Sirimau memang tidak beroperasi karena digunakan untuk melayani isolasi terpusat masyarakat Kota Sorong. “Tidak ada kapal pengganti Sirimau saat ini,” katanya.

Bahkan, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan informasi kepastian KM Sirimau kembali beroperasi. “Kalau nanti sudah ada info kepastiannya segera kami info ke masyarakat,” ujarnya. (ant)


Most Read

Artikel Terbaru