alexametrics
28.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Sate Plecing Rinjani Bisa Laku 800 Tusuk Sehari Selama Pandemi

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sate Plecing Rinjani, kuliner satu ini bisa terbilang cukup terkenal di wilayah Tegal Harum, Denpasar Barat. Berlokasi di dekat Puskesmas I Denpasar Berat dan SMA Negeri 4 Denpasar, membuat warung makan ini diramaikan kaum muda dan dewasa, terutama pada jam makan siang. 

Hidangan yang disediakan berupa aneka sate plecingan, serta lauk-pauk seperti pepes. “Di sini kita ada sate plecing ayam, sate plecing usus dan sate lilit ayam, ada sate plecing sapi, dan sate plecing tuna. Untuk pepesnya, ada pepes sapi, pepes tongkol, dan pepes tahu, kalau musimnya itu ada pepes tuna. Di sini juga ada sayur plecing,” ungkap pemilik Warung Sate Plecing Rinjani, Fitriya, saat dijumpai di lokasi, Selasa (16/11).

Untuk satu porsinya, sate plecing ayam dibanderol seharga Rp 12 ribu, sedangkan yang paling mahal yakni sate plecing sapi seharga Rp 20 ribu. Selain harga yang terbilang ramah di kantong, Sate Plecing Rinjani juga memiliki citarasa lain daripada yang lain. Yakni ada pada bumbu dan sambal satenya. Maka tak heran, di tengah pandemi Covid-19, ia masih bisa menjual 700 sampai 800 tusuk sate dalam seharinya. “Paling laku itu sate plecing sapi dan sate plecing ayam. Karena bumbunya pedas, jadi yang ke sini dari kalangan remaja sampai dewasa. Kan banyak anak-anak yang tidak suka pedas,” jelasnya.

Usahanya ini sudah ia buka sejak tahun 2012. Karenanya, ia banyak memiliki langganan dari pihak catering makanan. Namun karena pandemi, banyak usaha catering yang tutup. Sehingga saat ini ia hanya mengandalkan konsumen yang datang langsung ke lokasi. “(Pendapatan) Menurun selama Covid-19 ini, karena kita punya catering yang ambil sate di kita, selain yang datang langsung ke sini. Ada juga yang minta dikirim cateringnya, tapi ya begitu karena pandemi jadi banyak catering yang tutup. Jumlah pengunjung pun juga menurun,” tuturnya.

Menurunnya pembeli, tentunya berdampak terhadap omzet yang masuk. Fitriya mengaku, omzetnya turun hingga 50 persen sejak pandemi Covid-19. “Omzet bersih sebulan Rp 3 juta sekarang, kalau sebelum pandemi omzet sebulan sampai Rp 5 juta lebih,” katanya.

Warung satenya ini, mulai buka pukul 08.00 Wita sampai pukul 19.00 Wita setiap hari kecuali Minggu. Konsumen bisa datang langsung atau memesan di aplikasi online.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Sate Plecing Rinjani, kuliner satu ini bisa terbilang cukup terkenal di wilayah Tegal Harum, Denpasar Barat. Berlokasi di dekat Puskesmas I Denpasar Berat dan SMA Negeri 4 Denpasar, membuat warung makan ini diramaikan kaum muda dan dewasa, terutama pada jam makan siang. 

Hidangan yang disediakan berupa aneka sate plecingan, serta lauk-pauk seperti pepes. “Di sini kita ada sate plecing ayam, sate plecing usus dan sate lilit ayam, ada sate plecing sapi, dan sate plecing tuna. Untuk pepesnya, ada pepes sapi, pepes tongkol, dan pepes tahu, kalau musimnya itu ada pepes tuna. Di sini juga ada sayur plecing,” ungkap pemilik Warung Sate Plecing Rinjani, Fitriya, saat dijumpai di lokasi, Selasa (16/11).

Untuk satu porsinya, sate plecing ayam dibanderol seharga Rp 12 ribu, sedangkan yang paling mahal yakni sate plecing sapi seharga Rp 20 ribu. Selain harga yang terbilang ramah di kantong, Sate Plecing Rinjani juga memiliki citarasa lain daripada yang lain. Yakni ada pada bumbu dan sambal satenya. Maka tak heran, di tengah pandemi Covid-19, ia masih bisa menjual 700 sampai 800 tusuk sate dalam seharinya. “Paling laku itu sate plecing sapi dan sate plecing ayam. Karena bumbunya pedas, jadi yang ke sini dari kalangan remaja sampai dewasa. Kan banyak anak-anak yang tidak suka pedas,” jelasnya.

Usahanya ini sudah ia buka sejak tahun 2012. Karenanya, ia banyak memiliki langganan dari pihak catering makanan. Namun karena pandemi, banyak usaha catering yang tutup. Sehingga saat ini ia hanya mengandalkan konsumen yang datang langsung ke lokasi. “(Pendapatan) Menurun selama Covid-19 ini, karena kita punya catering yang ambil sate di kita, selain yang datang langsung ke sini. Ada juga yang minta dikirim cateringnya, tapi ya begitu karena pandemi jadi banyak catering yang tutup. Jumlah pengunjung pun juga menurun,” tuturnya.

Menurunnya pembeli, tentunya berdampak terhadap omzet yang masuk. Fitriya mengaku, omzetnya turun hingga 50 persen sejak pandemi Covid-19. “Omzet bersih sebulan Rp 3 juta sekarang, kalau sebelum pandemi omzet sebulan sampai Rp 5 juta lebih,” katanya.

Warung satenya ini, mulai buka pukul 08.00 Wita sampai pukul 19.00 Wita setiap hari kecuali Minggu. Konsumen bisa datang langsung atau memesan di aplikasi online.


Most Read

Artikel Terbaru

/