alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Nataru, BI dan TPID Wilayah Lakukan Langkah Antisipatif Lonjakan Harga

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebagaimana diketahui, pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) umumnya terjadi kenaikan harga. Hal ini sudah dapat dirasakan dari adanya kenaikan harga cabai rawit, minyak goreng kemasan, dan kebutuhan dapur lainnya.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali, per Kamis (16/12) harga cabai rawit meroket. Mulanya, per Senin (13/12) lalu harga cabai rawit masih di angka Rp 70 ribu per kilogram, hanya butuh waktu tiga hari untuk naik ke angka Rp 80 ribu per kilogram. Dengan rata-rata harga di tiga pasar di Denpasar (Pasar Badung, Pasar Nyangelan, dan Pasar Kreneng) yakni sebesar Rp 73 ribu per kilogram. Selain itu, harga minyak goreng kemasan juga mengalami kenaikan. Terkini, harga rata-rata minyak goreng kemasan sebesar Rp 20 ribu per liter.

“Harga cabai memang terus merangkak naik karena musim hujan,” ujar Kepala Disperindag Provinsi Bali, I Wayan Jarta.

Dengan adanya kenaikan harga ini, Bank Indonesia bekerja sama dengan pemerintah melalui Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di wilayah Bali untuk melakukan beberapa langkah antisipatif.

Diantaranya pertama, dilakukan kebijakan pengendalian inflasi yang tidak hanya fokus pada upaya pengendalian harga, namun juga diarahkan pada upaya untuk memastikan terjaganya daya beli melalui penguatan perlindungan sosial dan dukungan pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kedua, merancang dan melaksanakan Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk menajga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Ketiga, ketersediaan data informasi pangan yang akurat dan terintegrasi diperlukan untuk mendukung perumusan kebijakan dan sebagai dasar dalam pelaksanaan KAD.

“Yang keempat, meningkatkan peran UMKM dalam memperkuat rantai pasokan lokal (local value chain) dengan mengoptimalkan pemanfaatan digitalisasi,” papar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho.

Lebih lanjut, Bank Indonesia Provinsi Bali memperkirakan ekonomi Bali akan tumbuh positif kisaran 5,4 sampai 6,2 persen pada tahun 2022. Hal ini berdasarkan dengan memperhatikan hasil survey, indikator ekonomi, sistem keuangan, serta stabilitas harga dan keuangan pemerintah.

Faktor-faktor pendorongnya diantaranya pemulihan pariwisata, khususnya kedatangan wisatawan nusantara (wisnus) yang mulai naik, kebangkitan ekonomi dengan mulai dibukanya sektor perekenomian dengan kewaspadaan. Selain itu, adanya event-event internasional yang diselenggarakan di Bali seperti KTT G20 mendatang.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebagaimana diketahui, pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) umumnya terjadi kenaikan harga. Hal ini sudah dapat dirasakan dari adanya kenaikan harga cabai rawit, minyak goreng kemasan, dan kebutuhan dapur lainnya.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali, per Kamis (16/12) harga cabai rawit meroket. Mulanya, per Senin (13/12) lalu harga cabai rawit masih di angka Rp 70 ribu per kilogram, hanya butuh waktu tiga hari untuk naik ke angka Rp 80 ribu per kilogram. Dengan rata-rata harga di tiga pasar di Denpasar (Pasar Badung, Pasar Nyangelan, dan Pasar Kreneng) yakni sebesar Rp 73 ribu per kilogram. Selain itu, harga minyak goreng kemasan juga mengalami kenaikan. Terkini, harga rata-rata minyak goreng kemasan sebesar Rp 20 ribu per liter.

“Harga cabai memang terus merangkak naik karena musim hujan,” ujar Kepala Disperindag Provinsi Bali, I Wayan Jarta.

Dengan adanya kenaikan harga ini, Bank Indonesia bekerja sama dengan pemerintah melalui Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di wilayah Bali untuk melakukan beberapa langkah antisipatif.

Diantaranya pertama, dilakukan kebijakan pengendalian inflasi yang tidak hanya fokus pada upaya pengendalian harga, namun juga diarahkan pada upaya untuk memastikan terjaganya daya beli melalui penguatan perlindungan sosial dan dukungan pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kedua, merancang dan melaksanakan Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk menajga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Ketiga, ketersediaan data informasi pangan yang akurat dan terintegrasi diperlukan untuk mendukung perumusan kebijakan dan sebagai dasar dalam pelaksanaan KAD.

“Yang keempat, meningkatkan peran UMKM dalam memperkuat rantai pasokan lokal (local value chain) dengan mengoptimalkan pemanfaatan digitalisasi,” papar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho.

Lebih lanjut, Bank Indonesia Provinsi Bali memperkirakan ekonomi Bali akan tumbuh positif kisaran 5,4 sampai 6,2 persen pada tahun 2022. Hal ini berdasarkan dengan memperhatikan hasil survey, indikator ekonomi, sistem keuangan, serta stabilitas harga dan keuangan pemerintah.

Faktor-faktor pendorongnya diantaranya pemulihan pariwisata, khususnya kedatangan wisatawan nusantara (wisnus) yang mulai naik, kebangkitan ekonomi dengan mulai dibukanya sektor perekenomian dengan kewaspadaan. Selain itu, adanya event-event internasional yang diselenggarakan di Bali seperti KTT G20 mendatang.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/