alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Petani Garam Hasilkan 100 Kg Setiap hari, Untung Hanya Rp 600 ribu Per Bulan

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Untuk masyarakat di pesisir pantai, sebagian besar bekerja di pantai. Seperti di wilayah Banjar Yeh Malet, Desa Antiga Kelod, Manggis, terdapat banyak masyarakatnya menjadi pantai garam.

 

Salah satunya adalah I Kadek Ari Sukarta yang mulai belajar membuat garam dari tahun 1990-an. Ia menyebut pekerjaan tersebut merupakan warisan turun- temurun. Namun ia sempat berhenti dalam membuat garam lantaran harus merantau ke Denpasar untuk bekerja.

 

“Sebenarnya petani garam disini dari tahun 70-an, kalau saya dari kecil sudah membantu orangtua sejak masih SD,” ujarnya pada Minggu (16/1). Karena kesulitan di rantauan, ia pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya untuk bekerja kembali menjadi petani garam.

 

Saking banyaknya yang berkecimpung disana, ia bersama teman-temannya membentuk suatu kelompok, namun pemasarannya dilakukan masing-masing. “Kami pemasarannya door to door, belum merata pemasarannya. Kami juga bekerja sama dengan Himpunan Wirausaha Karangasem dan digandeng oleh toko bersama,” tuturnya.

 

Tidak cukup disitu, Sukarta yang menghasilkan rata-rata sekitar 100 kilogram garam setiap harinya juga memasarkan produknya di pasar Gianyar. “Petani garam di Yeh Malet cenderung memasarkan ke pasar Klungkung, karena sudah rame disana (penjual), saya beralih di Pasar Gianyar. Kalau rame bisa habis 30-50 kilo, kalau sepi 10 kilo, tertantung situasi pasar,” paparnya.

 

Ia menyebut hitungan untung dari garam adalah menggunakan genjeng (ember 40 liter). Satu genjeng disebut mendapat untung sekitar Rp 20 ribu, dan perbulan ia mampu menghabiskan 30 genjeng. “Kalau saya kepasarnya dua hari sekali, jadi sekali kepasar bisa habis 2 genjeng, kadang sisa, berarti habis 30 genjeng perbulan,”  kata dia. “Sekitar Rp 600 ribu untung bersih perbulannya,” pungkasnya.


KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Untuk masyarakat di pesisir pantai, sebagian besar bekerja di pantai. Seperti di wilayah Banjar Yeh Malet, Desa Antiga Kelod, Manggis, terdapat banyak masyarakatnya menjadi pantai garam.

 

Salah satunya adalah I Kadek Ari Sukarta yang mulai belajar membuat garam dari tahun 1990-an. Ia menyebut pekerjaan tersebut merupakan warisan turun- temurun. Namun ia sempat berhenti dalam membuat garam lantaran harus merantau ke Denpasar untuk bekerja.

 

“Sebenarnya petani garam disini dari tahun 70-an, kalau saya dari kecil sudah membantu orangtua sejak masih SD,” ujarnya pada Minggu (16/1). Karena kesulitan di rantauan, ia pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya untuk bekerja kembali menjadi petani garam.

 

Saking banyaknya yang berkecimpung disana, ia bersama teman-temannya membentuk suatu kelompok, namun pemasarannya dilakukan masing-masing. “Kami pemasarannya door to door, belum merata pemasarannya. Kami juga bekerja sama dengan Himpunan Wirausaha Karangasem dan digandeng oleh toko bersama,” tuturnya.

 

Tidak cukup disitu, Sukarta yang menghasilkan rata-rata sekitar 100 kilogram garam setiap harinya juga memasarkan produknya di pasar Gianyar. “Petani garam di Yeh Malet cenderung memasarkan ke pasar Klungkung, karena sudah rame disana (penjual), saya beralih di Pasar Gianyar. Kalau rame bisa habis 30-50 kilo, kalau sepi 10 kilo, tertantung situasi pasar,” paparnya.

 

Ia menyebut hitungan untung dari garam adalah menggunakan genjeng (ember 40 liter). Satu genjeng disebut mendapat untung sekitar Rp 20 ribu, dan perbulan ia mampu menghabiskan 30 genjeng. “Kalau saya kepasarnya dua hari sekali, jadi sekali kepasar bisa habis 2 genjeng, kadang sisa, berarti habis 30 genjeng perbulan,”  kata dia. “Sekitar Rp 600 ribu untung bersih perbulannya,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/