alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, July 6, 2022

Rawan PMK, Balai Karantina Pertanian Awasi Keluar Masuk Ternak

DENPASAR, BALI EXPRESS – Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar untuk sementara tidak melakukan sertifikasi keluar-masuk terhadap hewan atau ternak yang rentan terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK). Hal ini berdasarkan surat edaran Surat Edaran Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 12950/KR.120/K/05/2022.

Kepala Karantina Pertanian Denpasar, I Putu Tarumanegara mengatakan, pembatasan keluar-masuk hewan penting dilakukan. Pasalnya, di Jawa Timur dan Lombok, PMK ini telah mewabah dan menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Meski diakuinya untuk saat ini di Bali masih aman, namun saat ini pihaknya tidak melakukan sertifikasi keluar-masuk terhadap hewan atau ternak yang rentan terhadap penyakit PMK.

“Ini penting dilakukan, kami berharap partisipasi masyarakat, dan untuk itu pihaknya berharap kepada para pengusaha ternak antar pulau bisa memahami itu, agar Bali bebas dari PMK,” jelasnya, Selasa (17/5).

Selama ini, kata dia, transportasi yang berisiko hewan yang masuk dari Jawa mulai distop sementara. Hal ini dilakukan untuk menghindari ancaman masuk dan menyebarnya PMK di Bali. Kemudian, untuk yang keluar dari Bali, biasanya babi potong dan sapi potong, dengan tujuan Jakarta,  karena di Jawa Timur PMK telah mewabah, tentu Jawa Timur dan beberapa wilayah di Jawa yang sudah positif, akan menutup wilayahnya agar tidak ada lalu lintas produk ternak ini.

“Hal ini tentunya juga sangat berisiko, karena alat transportasi juga bisa menjadi perantara terhadap peredaran virus ini,” katanya.

Ia menambahkan, untuk hewan yang masuk Bali selama ini biasanya kambing potong. Meski tidak terlalu banyak, ada masuk dari Jawa Timur. Karena kasus merebak di Jawa Timur, praktis sudah tidak ada lagi sekarang. Kebutuhan kambing di Bali, menurutnya, sebagian besar dipenuhi dari Jawa dalam bentuk kambing potong.

“Karena kambing berisiko menular terhadap PMK, sejak awal bulan ini sudah tidak ada lagi pemasukan kambing. Ini akan dijaga betul agar tidak ada pemasukan-pemasukan ilegal yang tidak melalui tempat pemasukan resmi,” terangnya.

Sementara dari segi pengawasan, akan terus dilakukan dengan melibatkan instansi terkait, seperti kepolisian, syahbandar, karena Bali sangat rawan.

“Sekali lagi kita butuh kerjasama dengan berbagai pihak, karena seperti diketahui penyeberangan itu 24 jam. Jadi harus saling bahu-membahu, begitu juga masyarakat harus sadar. Kalau sampai penyakit ini masuk ke Bali, kerugiannya akan lebih besar,” ungkapnya.

Selanjutnya pihaknya berharap, pertama tentu harus mengantisipasi agar jangan sampai penyakit PMK ini masuk ke Bali. Caranya yakni tidak memasukkan hewan maupun produknya dari daerah wabah.

“Contohnya dari Jawa Timur, Lombok, maupun beberapa wilayah di Jawa Tengah. Kedua, ketika ditemukan gejala-gejala PMK ini, masyarakat diharapkan segera melaporkan ke petugas terkait. Katiga, untuk pengelola ternak, dilarang untuk memasukan atau mengirimkan ternak,” paparnya.

 

 






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar untuk sementara tidak melakukan sertifikasi keluar-masuk terhadap hewan atau ternak yang rentan terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK). Hal ini berdasarkan surat edaran Surat Edaran Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 12950/KR.120/K/05/2022.

Kepala Karantina Pertanian Denpasar, I Putu Tarumanegara mengatakan, pembatasan keluar-masuk hewan penting dilakukan. Pasalnya, di Jawa Timur dan Lombok, PMK ini telah mewabah dan menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Meski diakuinya untuk saat ini di Bali masih aman, namun saat ini pihaknya tidak melakukan sertifikasi keluar-masuk terhadap hewan atau ternak yang rentan terhadap penyakit PMK.

“Ini penting dilakukan, kami berharap partisipasi masyarakat, dan untuk itu pihaknya berharap kepada para pengusaha ternak antar pulau bisa memahami itu, agar Bali bebas dari PMK,” jelasnya, Selasa (17/5).

Selama ini, kata dia, transportasi yang berisiko hewan yang masuk dari Jawa mulai distop sementara. Hal ini dilakukan untuk menghindari ancaman masuk dan menyebarnya PMK di Bali. Kemudian, untuk yang keluar dari Bali, biasanya babi potong dan sapi potong, dengan tujuan Jakarta,  karena di Jawa Timur PMK telah mewabah, tentu Jawa Timur dan beberapa wilayah di Jawa yang sudah positif, akan menutup wilayahnya agar tidak ada lalu lintas produk ternak ini.

“Hal ini tentunya juga sangat berisiko, karena alat transportasi juga bisa menjadi perantara terhadap peredaran virus ini,” katanya.

Ia menambahkan, untuk hewan yang masuk Bali selama ini biasanya kambing potong. Meski tidak terlalu banyak, ada masuk dari Jawa Timur. Karena kasus merebak di Jawa Timur, praktis sudah tidak ada lagi sekarang. Kebutuhan kambing di Bali, menurutnya, sebagian besar dipenuhi dari Jawa dalam bentuk kambing potong.

“Karena kambing berisiko menular terhadap PMK, sejak awal bulan ini sudah tidak ada lagi pemasukan kambing. Ini akan dijaga betul agar tidak ada pemasukan-pemasukan ilegal yang tidak melalui tempat pemasukan resmi,” terangnya.

Sementara dari segi pengawasan, akan terus dilakukan dengan melibatkan instansi terkait, seperti kepolisian, syahbandar, karena Bali sangat rawan.

“Sekali lagi kita butuh kerjasama dengan berbagai pihak, karena seperti diketahui penyeberangan itu 24 jam. Jadi harus saling bahu-membahu, begitu juga masyarakat harus sadar. Kalau sampai penyakit ini masuk ke Bali, kerugiannya akan lebih besar,” ungkapnya.

Selanjutnya pihaknya berharap, pertama tentu harus mengantisipasi agar jangan sampai penyakit PMK ini masuk ke Bali. Caranya yakni tidak memasukkan hewan maupun produknya dari daerah wabah.

“Contohnya dari Jawa Timur, Lombok, maupun beberapa wilayah di Jawa Tengah. Kedua, ketika ditemukan gejala-gejala PMK ini, masyarakat diharapkan segera melaporkan ke petugas terkait. Katiga, untuk pengelola ternak, dilarang untuk memasukan atau mengirimkan ternak,” paparnya.

 

 






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/