alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Suyasa Sulap Sawah Tak Produktif Jadi Kebun Anggur di Denpasar

DENPASAR, BALI EXPRESS – I Made Suyasa, 44, menyulap sawahnya yang tak produktif menjadi kebun anggur. Kebun anggur yang kini telah berbuah lebat ini diberi nama Bali Mesari Farm yang dikelolanya bersama dua orang rekannya. Lokasi kebun anggur ini yakni di kawasan Jalan Cempaka Putih, Banjar Kebonkuri Kelod, Kesiman, Denpasar. Akses ke lokasi kebun anggur ini tak terlalu sulit, karena berjarak kurang lebih 100 meter ke arah utara dari Jalan Hang Tuah, Denpasar. 

“Dulu tanah ini merupakan sawah yang kurang produktif karena terkendala ketersediaan air. Kadang tidak ada air, kadang sampai banjir. Pernah dulu sudah ada bibit padi mau ditanam, airnya tak ada hampir semingguan sehingga petaninya kecewa. Kemudian saya coba tanami dengan anggur,” ujar Suyasa yang diwawancara di kebunnya, Selasa (19/10).

Lelaki yang bekerja sebagai staf di Bagian Perencanaan FMIPA Unud ini menjelaskan, untuk menanam anggur ini ia menggunakan sistem para-para dengan menggunakan tiang berupa kayu santen dan beton. Dirinya memilih menanam anggur karena sebelumnya sudah bergabung di komunitas anggur. Anggota komunitas ini banyak mengembangkan anggur di Buleleng, dan dirinya mencoba untuk mengembangkannya di Denpasar.

Awalnya pada Desember 2020 ia mulai membuka lahan untuk menanam bibit anggur. Yang mana, batang bawah dari anggur ini ia menggunakan anggur jenis red master. Setelah tumbuh kemudian disambung dengan jenis anggur impor yang dilakukannya pada Februari 2021.

Di kebun seluas 10 are tersebut, ia mengembangkan sebanyak enam jenis anggur impor. Mulai dari jenis jigsaw, ninel, Jupiter, dan jenis anggur yang memang sudah terbukti berbuah di Indonesia. Dari percobaan ini, pada bulan Juli 2021 dirinya bisa melakukan panen perdana walaupun tidak banyak. “Itu buah bonus namanya, karena sebenarnya belum waktunya berbuah. Itu juga sekaligus untuk cek benar atau tidak itu jenis anggur impor,” jelasnya.

Saat ini, setelah delapan bulan dari penanaman bibit, anggurnya sudah berbuah sangat lebat dan segera bisa dipanen. “Padahal belum saya lakukan pruning, hanya baru potes saja atau pemotongan pucuk tapi dia sudah berbuah lebat. Seharusnya agar buahnya seragam harus dipruning dulu, nanti bunganya, matangnya akan seragam. Kalau ini kan ada yang sudah besar buahnya, ada yang berbunga lagi,” tambahnya.

Untuk awal pengembangan anggur di tengah perkotaan ini, dirinya menanam kurang lebih 50 tanaman anggur. Dalam pemeliharaannya, ia masih terkendala soal intensitas hujan yang tak menentu. Jika sering terkena hujan tanaman bisa jamuran yang berdampak pada buah anggur itu sendiri. “Kalau banyak jamur buahnya jadi seperti berkerak. Sebenarnya yang bagus itu pakai green house, jadi akan terkontrol pengairannya termasuk hujannya bisa kita kontrol. Ke depannya secara bertahap mau saya siapkan,” katanya.

Selain itu, di sela-sela tanaman anggur juga ditanami bunga mitir yang juga digunakan sebagai anti hama alami. Ia menyebutkan, rencananya pada sela-sela tanaman anggur juga akan ditanami vanili. “Sebenarnya saya tidak memiliki basic di bidang pertanian, karena sebelumnya saya sempat menjadi teknisi komputer untuk mengisi waktu sepulang kerja. Tapi sekarang saya beralih menjadi petani, karena memang sejak kecil sudah tertarik dengan tanaman,” ungkapnya.

Ke depannya lewat Bali Mesari Farm ini, dirinya mempunyai rencana untuk membuat sistem pertanian dan peternakan yang terintegrasi. Konsepnya yakni akan memanfaatkan limbah dapur untuk diolah menjadi pakan ternak seperti lele, bebek, mentok dan ayam.

Kemudian, air bekas lele akan diolah menjadi pupuk dan digunakan untuk menyirami kebun pisang, anggur, dan bunga. Sementara kotoran bebek dan ayam akan digunakan sebagai pupuk untuk dicampurkan dengan media tanam. Ia mengatakan, hasil kebun akan dipasarkan dalam bentuk olahan. “Saya akan sediakan lalapan kecil-kecilan, ada pisang keju juga. Bahan-bahannya dari kebun, termasuk ikan nila juga karena di sini sudah ada kolam yang berisi ikan nila. Selain itu, juga akan menjadi tempat edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar tentang dunia pertanian,” tutupnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – I Made Suyasa, 44, menyulap sawahnya yang tak produktif menjadi kebun anggur. Kebun anggur yang kini telah berbuah lebat ini diberi nama Bali Mesari Farm yang dikelolanya bersama dua orang rekannya. Lokasi kebun anggur ini yakni di kawasan Jalan Cempaka Putih, Banjar Kebonkuri Kelod, Kesiman, Denpasar. Akses ke lokasi kebun anggur ini tak terlalu sulit, karena berjarak kurang lebih 100 meter ke arah utara dari Jalan Hang Tuah, Denpasar. 

“Dulu tanah ini merupakan sawah yang kurang produktif karena terkendala ketersediaan air. Kadang tidak ada air, kadang sampai banjir. Pernah dulu sudah ada bibit padi mau ditanam, airnya tak ada hampir semingguan sehingga petaninya kecewa. Kemudian saya coba tanami dengan anggur,” ujar Suyasa yang diwawancara di kebunnya, Selasa (19/10).

Lelaki yang bekerja sebagai staf di Bagian Perencanaan FMIPA Unud ini menjelaskan, untuk menanam anggur ini ia menggunakan sistem para-para dengan menggunakan tiang berupa kayu santen dan beton. Dirinya memilih menanam anggur karena sebelumnya sudah bergabung di komunitas anggur. Anggota komunitas ini banyak mengembangkan anggur di Buleleng, dan dirinya mencoba untuk mengembangkannya di Denpasar.

Awalnya pada Desember 2020 ia mulai membuka lahan untuk menanam bibit anggur. Yang mana, batang bawah dari anggur ini ia menggunakan anggur jenis red master. Setelah tumbuh kemudian disambung dengan jenis anggur impor yang dilakukannya pada Februari 2021.

Di kebun seluas 10 are tersebut, ia mengembangkan sebanyak enam jenis anggur impor. Mulai dari jenis jigsaw, ninel, Jupiter, dan jenis anggur yang memang sudah terbukti berbuah di Indonesia. Dari percobaan ini, pada bulan Juli 2021 dirinya bisa melakukan panen perdana walaupun tidak banyak. “Itu buah bonus namanya, karena sebenarnya belum waktunya berbuah. Itu juga sekaligus untuk cek benar atau tidak itu jenis anggur impor,” jelasnya.

Saat ini, setelah delapan bulan dari penanaman bibit, anggurnya sudah berbuah sangat lebat dan segera bisa dipanen. “Padahal belum saya lakukan pruning, hanya baru potes saja atau pemotongan pucuk tapi dia sudah berbuah lebat. Seharusnya agar buahnya seragam harus dipruning dulu, nanti bunganya, matangnya akan seragam. Kalau ini kan ada yang sudah besar buahnya, ada yang berbunga lagi,” tambahnya.

Untuk awal pengembangan anggur di tengah perkotaan ini, dirinya menanam kurang lebih 50 tanaman anggur. Dalam pemeliharaannya, ia masih terkendala soal intensitas hujan yang tak menentu. Jika sering terkena hujan tanaman bisa jamuran yang berdampak pada buah anggur itu sendiri. “Kalau banyak jamur buahnya jadi seperti berkerak. Sebenarnya yang bagus itu pakai green house, jadi akan terkontrol pengairannya termasuk hujannya bisa kita kontrol. Ke depannya secara bertahap mau saya siapkan,” katanya.

Selain itu, di sela-sela tanaman anggur juga ditanami bunga mitir yang juga digunakan sebagai anti hama alami. Ia menyebutkan, rencananya pada sela-sela tanaman anggur juga akan ditanami vanili. “Sebenarnya saya tidak memiliki basic di bidang pertanian, karena sebelumnya saya sempat menjadi teknisi komputer untuk mengisi waktu sepulang kerja. Tapi sekarang saya beralih menjadi petani, karena memang sejak kecil sudah tertarik dengan tanaman,” ungkapnya.

Ke depannya lewat Bali Mesari Farm ini, dirinya mempunyai rencana untuk membuat sistem pertanian dan peternakan yang terintegrasi. Konsepnya yakni akan memanfaatkan limbah dapur untuk diolah menjadi pakan ternak seperti lele, bebek, mentok dan ayam.

Kemudian, air bekas lele akan diolah menjadi pupuk dan digunakan untuk menyirami kebun pisang, anggur, dan bunga. Sementara kotoran bebek dan ayam akan digunakan sebagai pupuk untuk dicampurkan dengan media tanam. Ia mengatakan, hasil kebun akan dipasarkan dalam bentuk olahan. “Saya akan sediakan lalapan kecil-kecilan, ada pisang keju juga. Bahan-bahannya dari kebun, termasuk ikan nila juga karena di sini sudah ada kolam yang berisi ikan nila. Selain itu, juga akan menjadi tempat edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar tentang dunia pertanian,” tutupnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/