alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Wajib Miliki Asuransi Kesehatan 1 M, ASITA Bali : Kendala Baru

DENPASAR, BALI EXPRESS – Bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang hendak berkunjung ke Kepulauan Riau dan Bali, wajib memiliki asuransi kesehatan dengan nilai pertanggungan minimal USD 100.000 atau Rp 1 miliar. Asuransi ini mencakup pembiayaan penanganan Covid-19. Hal itu ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Aturan tersebut juga sebelumnya telah disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster dalam konferensi pers yang digelar di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (14/10). Koster menyebutkan, aturan tersebut berlaku secara global. “Ini bukan keinginan Gubernur, tapi ini memang kebijakan yang berlaku secara umum di seluruh dunia untuk wisatwan mancanegara. Itu berlaku semua,” tegasnya.

Berkait dengan hal itu, Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali, Ketut Ardana mengatakan, aturan ini akan menjadi kendala baru bagi wisman untuk ke Bali. Sebab, mereka telah dibebani biaya lima hari karantina dan PCR sebanyak dua kali. “Kalau itu akan menjadi salah satu kendala bagi wisman ke destinasi. Mengapa demikian, di samping asuransi ini ada kendala lain, misalnya masalah karantina dan PCR,” ucapnya, Jumat (15/10).

Ia menilai, persyaratan masuk Bali yang ketat tentu akan mempengaruhi minat dan kunjungan wisman ke Pulau Dewata. Ia berharap pemerintah bisa memberikan kemudahan bagi wisman piknik ke Bali. “Ini kan masih tahap trial, masih uji coba. Mudah-mudahan nanti ke depannya ada evaluasi sehingga bisa diperbaiki dalam membuat kebijakan agar mempermudah wisman ke Bali,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Bali Tourism Board (BTB) IB Agung Partha Adyana menyambut baik aturan ini. Menurutnya, asuransi kesehatan saat bepergian ke luar negeri memang wajib dimiliki wisman. Karena, kata dia, melalui asuransi kesehatan wisman yang tidak tercatat sebagai WNI dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan baik. “Kalau wisman kena Covid-19 tidak menjadi tanggungan pemerintah karena dia tidak punya kartu WNI. Jadi kalau ada apa-apa asuransi yang bayarin,” jelasnya.

Soal itu, pihaknya berharap masyarakat tidak terlalu berlebihan menilai angka Rp 1 miliar tersebut. Sebab, nilai tersebut merupakan nilai tanggungan maksimal asuransi bukan premi yang harus dibayarkan. Dijelaskannya, asuransi kesehatan ini nantinya akan digabung dengan biaya paket karantina. 

Pemerintah telah menetapkan dua premi asuransi kesehatan bagi wisman. Yakni, asuransi kesehatan dengan premi Rp 800 ribu dan Rp 1 juta. Premi ini memiliki nilai tanggungan maksimal Rp 1,6 sampai Rp 2 miliar dengan masa berlaku 30 sampai 60 hari. Manfaat asuransi ini diantaranya biaya kamar perawatan, ICU, biaya perawatan, biaya kunjungan dokter dan ambulans. Selain itu, asuransi ini bisa dimanfaatkan untuk biaya pengobatan saat isoman dan santunan meninggal terpapar Covid-19. Biaya santunan ini diperoleh dari selisih antara maksimum limit tahunan dengan biaya pelayanan kesehatan yang dijaminkan.

Ia menuturkan, nilai premi yang ditetapkan pemerintah juga lebih rendah dengan daerah lainnya. Ia mencontohkan, di Amerika Serikat, nilai asuransi kesehatan dua kali lipat dari Indonesia. “Nilai asuransi dengan destinasi wisata negara lain sebenarnya kurang lebih sama dan lebih mahal kalau ke Amerika 250 ribu dollar,” sebutnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang hendak berkunjung ke Kepulauan Riau dan Bali, wajib memiliki asuransi kesehatan dengan nilai pertanggungan minimal USD 100.000 atau Rp 1 miliar. Asuransi ini mencakup pembiayaan penanganan Covid-19. Hal itu ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Aturan tersebut juga sebelumnya telah disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster dalam konferensi pers yang digelar di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (14/10). Koster menyebutkan, aturan tersebut berlaku secara global. “Ini bukan keinginan Gubernur, tapi ini memang kebijakan yang berlaku secara umum di seluruh dunia untuk wisatwan mancanegara. Itu berlaku semua,” tegasnya.

Berkait dengan hal itu, Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali, Ketut Ardana mengatakan, aturan ini akan menjadi kendala baru bagi wisman untuk ke Bali. Sebab, mereka telah dibebani biaya lima hari karantina dan PCR sebanyak dua kali. “Kalau itu akan menjadi salah satu kendala bagi wisman ke destinasi. Mengapa demikian, di samping asuransi ini ada kendala lain, misalnya masalah karantina dan PCR,” ucapnya, Jumat (15/10).

Ia menilai, persyaratan masuk Bali yang ketat tentu akan mempengaruhi minat dan kunjungan wisman ke Pulau Dewata. Ia berharap pemerintah bisa memberikan kemudahan bagi wisman piknik ke Bali. “Ini kan masih tahap trial, masih uji coba. Mudah-mudahan nanti ke depannya ada evaluasi sehingga bisa diperbaiki dalam membuat kebijakan agar mempermudah wisman ke Bali,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Bali Tourism Board (BTB) IB Agung Partha Adyana menyambut baik aturan ini. Menurutnya, asuransi kesehatan saat bepergian ke luar negeri memang wajib dimiliki wisman. Karena, kata dia, melalui asuransi kesehatan wisman yang tidak tercatat sebagai WNI dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan baik. “Kalau wisman kena Covid-19 tidak menjadi tanggungan pemerintah karena dia tidak punya kartu WNI. Jadi kalau ada apa-apa asuransi yang bayarin,” jelasnya.

Soal itu, pihaknya berharap masyarakat tidak terlalu berlebihan menilai angka Rp 1 miliar tersebut. Sebab, nilai tersebut merupakan nilai tanggungan maksimal asuransi bukan premi yang harus dibayarkan. Dijelaskannya, asuransi kesehatan ini nantinya akan digabung dengan biaya paket karantina. 

Pemerintah telah menetapkan dua premi asuransi kesehatan bagi wisman. Yakni, asuransi kesehatan dengan premi Rp 800 ribu dan Rp 1 juta. Premi ini memiliki nilai tanggungan maksimal Rp 1,6 sampai Rp 2 miliar dengan masa berlaku 30 sampai 60 hari. Manfaat asuransi ini diantaranya biaya kamar perawatan, ICU, biaya perawatan, biaya kunjungan dokter dan ambulans. Selain itu, asuransi ini bisa dimanfaatkan untuk biaya pengobatan saat isoman dan santunan meninggal terpapar Covid-19. Biaya santunan ini diperoleh dari selisih antara maksimum limit tahunan dengan biaya pelayanan kesehatan yang dijaminkan.

Ia menuturkan, nilai premi yang ditetapkan pemerintah juga lebih rendah dengan daerah lainnya. Ia mencontohkan, di Amerika Serikat, nilai asuransi kesehatan dua kali lipat dari Indonesia. “Nilai asuransi dengan destinasi wisata negara lain sebenarnya kurang lebih sama dan lebih mahal kalau ke Amerika 250 ribu dollar,” sebutnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/