alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Jajal Digital, Ayu Pasarkan Produk Lewat Exhibition in House

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pandemi Covid-19 tak menjadikan Ni Ketut Bakati Anggareni menyerah karena keadaan yang serba tak menentu. Memiliki sekitar 20 karyawan yang bersandar padanya, membuatnya mesti berpikir cepat untuk menanggulangi keadaan. Umumnya melakukan tour ke luar negeri untuk pameran, pengusaha ekspor bidang kerajinan dan handycraft ini harus menjajal digital untuk bisa memasarkan produk di tengah pembatasan kegiatan.

“Karena tidak bisa keliling untuk exhibition, kami gelar exhibition in house setiap dua bulan sekali. Di exhibition in house kami selalu buat desain atau produk baru, terus kami buat display seolah-olah di pameran internasional,” ujarnya saat diwawancara di pabrik Putri Ayu Bali, Jalan Mulawarman, Gianyar, Minggu (19/12). “Kami undang buyer kami yang sudah rutin belanja di kami pada waktu kerja mereka. Jadi kami sesuaikan waktunya dengan jam kerja buyer kami. Kami menggelar exhibition in house melalui zoom,” sambungnya.

Dengan menggelar exhibition in house ini, Ayu, sapaan akrabnya, bisa menghemat biaya marketing cukup tinggi. Bahkan ia mengaku, pandemi Covid-19 justru memberikan lebih banyak dampak positif terhadap usaha yang telah ia rintis sejak tahun 1995 ini. “Hanya saja kendalanya pada saat pengiriman barang, karena stok kontainer yang langka. Membuat waktu delivery kami lumayan mundurnya. Dari yang seharusnya bulan Oktober, kami baru dapat space bulan di awal Desember,” jelasnya.

Situasi pandemi ini, tidak menjadi kendala baginya untuk terus berkembang. Hal ini terbukti dari total omzetnya tahun ini yang telah mencapai Rp 8 miliar. “Tidak ada penurunan penjualan. Justru saat pandemi penjualan kami malah naik. Karena dari awal, kami sudah memprediksi bahwa pandemi ini tidak pendek,” kata dia.

Memasang target internasional, ia memiliki pelanggan mulai dari negara Amerika, German, Italy, Prancis, hingga Jepang. Dan selama dua tahun ini, ia lebih sering memasarkan produknya kepada buyer melalui digital. “Kami akan berkomunikasi lewat zoom. Kemudian dilanjutkan dengan meeting intern dengan detail-detail produk kami kirim lewat email, foto-foto produk, dan lain sebagainya. Setelah itu mereka jelas, baru kami kirim sampel. Jadi kami biaya tertinggi ada di pengiriman sampel saja. Nah untuk range harga kami mulai dari 5 dollar Amerika,” ungkap dia.

Dari order yang ia terima, umumnya ia membutuhkan waktu 90 hari kerja. Mulai dari persetujuan kontrak sampai dengan pengerjaan dan pengiriman, ia memakan waktu 90 hari. Hanya saja karena pandemi, waktu penyimpanannya yang sering molor.

Lebih lanjut, Ayu hingga saat ini belum berencana untuk masuk pasar domestik. Sebab dinilainya, produknya belum diminati di Indonesia. “Di Indonesia, produk dari limbah kayu belum banyak diminati. Kami lebih ke home decor, table top, dan main product kami recycle wooden. Ini merupakan limbah perhutani, dan sudah ada sertifikatnya, asal-usul kayu jelas. Ada juga limbah kaca dari toko kaca,” katanya.

Di sisi lain, Ayu mengaku, keberhasilannya mempertahankan usahanya agar tetap bergeliat di tengah pandemi juga karena adanya turut campur dari beberapa pihak. Salah satunya bantuan dari Bank BRI.

“Bu Ayu ini termasuk pemain besar, jadi untuk pandemi beliau masih kuat. Karena sudah memiliki pelanggan dari luar negeri, bahkan kemarin seminggu lalu ada program best matching, jadi BRI membantu mempertemukan nasabah-nasabah kami yang potensial dengan calon buyer dari luar negeri,” kata Management Pemasaran BRI Gianyar, Yudhi Romansyah.

Selain itu, Bank BRI juga membantu dengan pemberian bantuan modal kerja. Sedangkan terkait dengan pandemi, pihak Bank BRI memberikan relaksasi atau keringanan dalam bentuk pembayaran kredit.






Reporter: Rika Riyanti

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pandemi Covid-19 tak menjadikan Ni Ketut Bakati Anggareni menyerah karena keadaan yang serba tak menentu. Memiliki sekitar 20 karyawan yang bersandar padanya, membuatnya mesti berpikir cepat untuk menanggulangi keadaan. Umumnya melakukan tour ke luar negeri untuk pameran, pengusaha ekspor bidang kerajinan dan handycraft ini harus menjajal digital untuk bisa memasarkan produk di tengah pembatasan kegiatan.

“Karena tidak bisa keliling untuk exhibition, kami gelar exhibition in house setiap dua bulan sekali. Di exhibition in house kami selalu buat desain atau produk baru, terus kami buat display seolah-olah di pameran internasional,” ujarnya saat diwawancara di pabrik Putri Ayu Bali, Jalan Mulawarman, Gianyar, Minggu (19/12). “Kami undang buyer kami yang sudah rutin belanja di kami pada waktu kerja mereka. Jadi kami sesuaikan waktunya dengan jam kerja buyer kami. Kami menggelar exhibition in house melalui zoom,” sambungnya.

Dengan menggelar exhibition in house ini, Ayu, sapaan akrabnya, bisa menghemat biaya marketing cukup tinggi. Bahkan ia mengaku, pandemi Covid-19 justru memberikan lebih banyak dampak positif terhadap usaha yang telah ia rintis sejak tahun 1995 ini. “Hanya saja kendalanya pada saat pengiriman barang, karena stok kontainer yang langka. Membuat waktu delivery kami lumayan mundurnya. Dari yang seharusnya bulan Oktober, kami baru dapat space bulan di awal Desember,” jelasnya.

Situasi pandemi ini, tidak menjadi kendala baginya untuk terus berkembang. Hal ini terbukti dari total omzetnya tahun ini yang telah mencapai Rp 8 miliar. “Tidak ada penurunan penjualan. Justru saat pandemi penjualan kami malah naik. Karena dari awal, kami sudah memprediksi bahwa pandemi ini tidak pendek,” kata dia.

Memasang target internasional, ia memiliki pelanggan mulai dari negara Amerika, German, Italy, Prancis, hingga Jepang. Dan selama dua tahun ini, ia lebih sering memasarkan produknya kepada buyer melalui digital. “Kami akan berkomunikasi lewat zoom. Kemudian dilanjutkan dengan meeting intern dengan detail-detail produk kami kirim lewat email, foto-foto produk, dan lain sebagainya. Setelah itu mereka jelas, baru kami kirim sampel. Jadi kami biaya tertinggi ada di pengiriman sampel saja. Nah untuk range harga kami mulai dari 5 dollar Amerika,” ungkap dia.

Dari order yang ia terima, umumnya ia membutuhkan waktu 90 hari kerja. Mulai dari persetujuan kontrak sampai dengan pengerjaan dan pengiriman, ia memakan waktu 90 hari. Hanya saja karena pandemi, waktu penyimpanannya yang sering molor.

Lebih lanjut, Ayu hingga saat ini belum berencana untuk masuk pasar domestik. Sebab dinilainya, produknya belum diminati di Indonesia. “Di Indonesia, produk dari limbah kayu belum banyak diminati. Kami lebih ke home decor, table top, dan main product kami recycle wooden. Ini merupakan limbah perhutani, dan sudah ada sertifikatnya, asal-usul kayu jelas. Ada juga limbah kaca dari toko kaca,” katanya.

Di sisi lain, Ayu mengaku, keberhasilannya mempertahankan usahanya agar tetap bergeliat di tengah pandemi juga karena adanya turut campur dari beberapa pihak. Salah satunya bantuan dari Bank BRI.

“Bu Ayu ini termasuk pemain besar, jadi untuk pandemi beliau masih kuat. Karena sudah memiliki pelanggan dari luar negeri, bahkan kemarin seminggu lalu ada program best matching, jadi BRI membantu mempertemukan nasabah-nasabah kami yang potensial dengan calon buyer dari luar negeri,” kata Management Pemasaran BRI Gianyar, Yudhi Romansyah.

Selain itu, Bank BRI juga membantu dengan pemberian bantuan modal kerja. Sedangkan terkait dengan pandemi, pihak Bank BRI memberikan relaksasi atau keringanan dalam bentuk pembayaran kredit.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/