alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Distan Tabanan Akan Fasilitasi Sertifikasi Kakao Organik

TABANAN, Bali Express – Usulan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan memfasilitasi proses sertifikasi lahan dan petani kakao organik gayung bersambut.

Pasalnya, Pemkab Tabanan melalui Dinas Pertanian setempat sejatinya mendorong petani untuk mensertifikasi lahan mereka sebagai lahan pertanian organik.

Terlebih, saat ini Tabanan juga sudah punya sertifikasi untuk kemoditas Manggis. Dan, di saat yang sama, tahun lalu, Tabanan juga mengajukan setifikasi lahan untuk komoditas Salak Gula Pasir di Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan.

Seperti dijelaskan Kepala Distan Tabanan, I Nyoman Budana, Selasa (20/4). Pihaknya akan segera memfasilitasi usulan yang muncul saat pelepasan ekspor tiga ton komoditas cokelat olahan ke Qatar di Desa Cau, Kecamatan Marga, belum lama ini.

“Kami akan coba untuk memenuhi kelengkapan-kelengkapannya. Sertifikasi ini sebagai syarat untuk mengirim atau melakukan ekspor komoditas,” ujarnya.

Baca Juga :  Selama Cuti Idul Fitri, Perumda TAB Siagakan 15 Petugas Lapangan

Saat ini, Tabanan telah memiliki sertifikasi untuk komoditas Manggis yang selama ini lebih sering dikirim ke Tiongkok. Bahkan tahun lalu, pihaknya juga sudah mengurus sertifikasi untuk komoditas Salak Gula Pasir.

“Sekarang Salak Gula Pasir juga sudah masuk ke pusat dan sedang dalam proses. Kami usulkan sejak tahun kemarin,” kata Budana.

Sebagai gambaran umum, Budana menjelaskan bahwa sertifikat tersebut berlaku setiap dua tahun sekali. Artinya, di tahun kedua akan dilakukan review atau tinjauan ulang. “Apakah memenuhi standar. Kalau tidak, bisa dicabut,” jelasnya.

Sebelumnya dalam pelepasan tiga ton cokelat olahan ke Qatar oleh PT Cau Coklat Internasional, Pemkab Tabanan diharapkan memfasilitasi kelompok tani cokelat di Tabanan agar bisa memperoleh sertifikat organik, baik orang maupun lahannya.

Baca Juga :  Gunakan Saripati Kelor, Seniman Karawitan Produksi Mie Kelor Gud

Usulan ini disampaikan oleh Kadek Surya Prasetya Wiguna selaku Chief Executive Officer (CEO) Cau Chocolate Bali. Di hadapan Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, dia menyebutkan bahwa agar komoditas cokelat Tabanan mampu bersaing dengan daerah lainnya, seperti Papua, Sulawesi, dan Sumateri, harus ada hal berbeda yang bisa ditawarkan.

“Mau tidak mau harus berbeda. Yang bikin beda itu adalah cokelat organik bersertifikasi. Ini bisa terjadi bila petaninya dan lahannya tersertifikasi. Karena itu, saya berharap supaya koperasi kami, Koperasi Manik Amerta Buana, mengikuti jejak rekan kami di Jembrana yang lebih dulu lahan dan petaniannya memperoleh sertifikasi,” ujar Kadek Surya. 


TABANAN, Bali Express – Usulan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan memfasilitasi proses sertifikasi lahan dan petani kakao organik gayung bersambut.

Pasalnya, Pemkab Tabanan melalui Dinas Pertanian setempat sejatinya mendorong petani untuk mensertifikasi lahan mereka sebagai lahan pertanian organik.

Terlebih, saat ini Tabanan juga sudah punya sertifikasi untuk kemoditas Manggis. Dan, di saat yang sama, tahun lalu, Tabanan juga mengajukan setifikasi lahan untuk komoditas Salak Gula Pasir di Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan.

Seperti dijelaskan Kepala Distan Tabanan, I Nyoman Budana, Selasa (20/4). Pihaknya akan segera memfasilitasi usulan yang muncul saat pelepasan ekspor tiga ton komoditas cokelat olahan ke Qatar di Desa Cau, Kecamatan Marga, belum lama ini.

“Kami akan coba untuk memenuhi kelengkapan-kelengkapannya. Sertifikasi ini sebagai syarat untuk mengirim atau melakukan ekspor komoditas,” ujarnya.

Baca Juga :  Kapolda Sebut Tiap Hari Tangkap Pelaku Narkoba, Tahun Ini 838

Saat ini, Tabanan telah memiliki sertifikasi untuk komoditas Manggis yang selama ini lebih sering dikirim ke Tiongkok. Bahkan tahun lalu, pihaknya juga sudah mengurus sertifikasi untuk komoditas Salak Gula Pasir.

“Sekarang Salak Gula Pasir juga sudah masuk ke pusat dan sedang dalam proses. Kami usulkan sejak tahun kemarin,” kata Budana.

Sebagai gambaran umum, Budana menjelaskan bahwa sertifikat tersebut berlaku setiap dua tahun sekali. Artinya, di tahun kedua akan dilakukan review atau tinjauan ulang. “Apakah memenuhi standar. Kalau tidak, bisa dicabut,” jelasnya.

Sebelumnya dalam pelepasan tiga ton cokelat olahan ke Qatar oleh PT Cau Coklat Internasional, Pemkab Tabanan diharapkan memfasilitasi kelompok tani cokelat di Tabanan agar bisa memperoleh sertifikat organik, baik orang maupun lahannya.

Baca Juga :  Dengan CHSE, Badung Optimis Tingkatkan Kepercayaan Wisatawan

Usulan ini disampaikan oleh Kadek Surya Prasetya Wiguna selaku Chief Executive Officer (CEO) Cau Chocolate Bali. Di hadapan Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, dia menyebutkan bahwa agar komoditas cokelat Tabanan mampu bersaing dengan daerah lainnya, seperti Papua, Sulawesi, dan Sumateri, harus ada hal berbeda yang bisa ditawarkan.

“Mau tidak mau harus berbeda. Yang bikin beda itu adalah cokelat organik bersertifikasi. Ini bisa terjadi bila petaninya dan lahannya tersertifikasi. Karena itu, saya berharap supaya koperasi kami, Koperasi Manik Amerta Buana, mengikuti jejak rekan kami di Jembrana yang lebih dulu lahan dan petaniannya memperoleh sertifikasi,” ujar Kadek Surya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/