alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Artana Jual Katik Sate, Untung Bersih Rp 5 Juta, Anak Lulus S1

BADUNG, BALI EXPRESS – Di Bali kerajinan bambu sangat banyak digunakan untuk kegiatan agama. Tak heran di beberapa daerah banyak terdapat perajin bambu. Seperti katik sate, sanggah cucuk, hingga ancak. Salah satunya Wayan Artana, mantan guru honorer Agama Hindu yang kini sukses menjadi perajin bambu.

Saat ditemui pada Kamis (16/12) di warungnya yang berada di seputaran Jalan Raya Kapal, Banjar Cempaka, Mengwi, Artana, pun tampak sangat antusias menceritakan perjalanan dirinya hingga menjadi perajin bambu. Diungkapkan olehnya, sebelum dirinya beralih profesi sebagai perajin bambu, ia sempat menjadi guru honorer Agama Hindu di salah satu SMA yang berada di Buleleng. Status guru itu dia lepas sekitar tahun 1999, dengan alasan faktor ekonomi.

“Dulu saya sempat menjadi guru Agama Hindu, tapi statusnya honor. Jam (mengajarnya) sedikit, jadinya gaji hanya cukup untuk bayar kos saja,” ujarnya.

Setelah berhenti menjadi guru, pria 50 tahun tersebut memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya yakni Desa Kapal. Awalnya ia pun memilih bekerja sebagai buruh membuat buis beton. Namun karena banyaknya persaingan, ia pun akhirnya kembali beralih profesi.

“Saat membuat buis beton, banyak persaingan. Saat itu saya kesulitan mencari bahan, saat itu banyak pelanggan saya mencari di tempat lain. Makanya saya memilih berhenti membuat buis beton,” ungkapnya.

Berhenti dari membuat buis beton, Artana akhirnya memilih menjadi perajin bambu. Itu dilakukan Artana sekitar 10 tahun yang lalu. Sebagai langkah awal memulai usaha ini, dia memilih untuk membuat katik sate. Secara perlahan usahanya itu membuahkan hasil, dan mulai banyak menerima pesanan.

Bahkan beberapa waktu setelahnya, pesanan yang datang tidak hanya berupa katik sate, tapi ada juga yang meminta dibuatkan sanggah cucuk, sanggah surya, tali tutus (tali berbahan bambu), ancak, dan segala macam sarana upakara berbahan bambu.

“Dulu cuma menjual katik sate, tapi banyak permintaan untuk membuat sanggah cucuk, maka saya sanggupi saja. Karena tidak boleh menolak yang namanya rejeki. Astungkara hasilnya bisa sampai seperti ini,” terangnya.

Berkat kegigihannya menjadi perajin bambu, Artana pun sukses dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bahkan bapak tiga anak ini mampu menyekolahkan ketiga anaknya, yang salah satunya sudah menyandang status sarjana. Kemudian anaknya yang lain saat ini berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bali.

Ditanya mengenai omset usahanya itu, Artana menyebut, saat ini tengah mengalami penurunan pesanan. Jika sebelum Covid-19, sebulan bisa meraup untung mencapai Rp 5 juta bersih. Saat pandemi seperti sekarang, omsetnya hanya Rp 1,5 juta. Bahkan untuk bahan bambu, dulu sebelum pandemi, ia bisa menghabiskan dua truk bambu dalam seminggu.

“Sekarang saat pandemi, satu truk tidak habis sebulan. Ini karena saat pandemi, banyak upacara adat yang dibatasi. Ini membuat pesanan seperti katik sate, sanggah cucuk dan lainnya merosot,” pungkasnya. (dir)


BADUNG, BALI EXPRESS – Di Bali kerajinan bambu sangat banyak digunakan untuk kegiatan agama. Tak heran di beberapa daerah banyak terdapat perajin bambu. Seperti katik sate, sanggah cucuk, hingga ancak. Salah satunya Wayan Artana, mantan guru honorer Agama Hindu yang kini sukses menjadi perajin bambu.

Saat ditemui pada Kamis (16/12) di warungnya yang berada di seputaran Jalan Raya Kapal, Banjar Cempaka, Mengwi, Artana, pun tampak sangat antusias menceritakan perjalanan dirinya hingga menjadi perajin bambu. Diungkapkan olehnya, sebelum dirinya beralih profesi sebagai perajin bambu, ia sempat menjadi guru honorer Agama Hindu di salah satu SMA yang berada di Buleleng. Status guru itu dia lepas sekitar tahun 1999, dengan alasan faktor ekonomi.

“Dulu saya sempat menjadi guru Agama Hindu, tapi statusnya honor. Jam (mengajarnya) sedikit, jadinya gaji hanya cukup untuk bayar kos saja,” ujarnya.

Setelah berhenti menjadi guru, pria 50 tahun tersebut memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya yakni Desa Kapal. Awalnya ia pun memilih bekerja sebagai buruh membuat buis beton. Namun karena banyaknya persaingan, ia pun akhirnya kembali beralih profesi.

“Saat membuat buis beton, banyak persaingan. Saat itu saya kesulitan mencari bahan, saat itu banyak pelanggan saya mencari di tempat lain. Makanya saya memilih berhenti membuat buis beton,” ungkapnya.

Berhenti dari membuat buis beton, Artana akhirnya memilih menjadi perajin bambu. Itu dilakukan Artana sekitar 10 tahun yang lalu. Sebagai langkah awal memulai usaha ini, dia memilih untuk membuat katik sate. Secara perlahan usahanya itu membuahkan hasil, dan mulai banyak menerima pesanan.

Bahkan beberapa waktu setelahnya, pesanan yang datang tidak hanya berupa katik sate, tapi ada juga yang meminta dibuatkan sanggah cucuk, sanggah surya, tali tutus (tali berbahan bambu), ancak, dan segala macam sarana upakara berbahan bambu.

“Dulu cuma menjual katik sate, tapi banyak permintaan untuk membuat sanggah cucuk, maka saya sanggupi saja. Karena tidak boleh menolak yang namanya rejeki. Astungkara hasilnya bisa sampai seperti ini,” terangnya.

Berkat kegigihannya menjadi perajin bambu, Artana pun sukses dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bahkan bapak tiga anak ini mampu menyekolahkan ketiga anaknya, yang salah satunya sudah menyandang status sarjana. Kemudian anaknya yang lain saat ini berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bali.

Ditanya mengenai omset usahanya itu, Artana menyebut, saat ini tengah mengalami penurunan pesanan. Jika sebelum Covid-19, sebulan bisa meraup untung mencapai Rp 5 juta bersih. Saat pandemi seperti sekarang, omsetnya hanya Rp 1,5 juta. Bahkan untuk bahan bambu, dulu sebelum pandemi, ia bisa menghabiskan dua truk bambu dalam seminggu.

“Sekarang saat pandemi, satu truk tidak habis sebulan. Ini karena saat pandemi, banyak upacara adat yang dibatasi. Ini membuat pesanan seperti katik sate, sanggah cucuk dan lainnya merosot,” pungkasnya. (dir)


Most Read

Artikel Terbaru

/