alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Ramai Mogok Produksi Tahu-Tempe di Jabodetabek, di Bali Tetap Jalan

DENPASAR, BALI EXPRESS – Para produsen tahu dan tempe di Jabodetabek menggelar mogok selama tiga hari yang dimulai per Senin (21/2). Mogok produksi ini imbas dari masih tingginya harga kedelai impor di Indonesia.

 

Lain di Bali, produksi tahu dan tempe tetap berjalan. Seperti yang diungkapkan salah seorang produsen tahu di wilayah Denpasar, Aang, saat diwawancarai di pabrik tahunya di Jalan Nangka Selatan. Aang mengatakan, informasi soal mogok produksi memang sampai ke telinganya, tetapi di Bali sendiri untuk menggelar mogok memang tidak pernah terjadi. “Misalnya barang tetap ada, tapi mahal, (harganya) naik ya naik sudah (pasrah),” katanya.

 

Aang menambahkan, kalaupun dirinya mogok, pabrik lain akan tetap berproduksi. Dirinya pun meyakini bahwa di Bali mogok itu tidak ada. Ia pun menyayangkan nasib karyawannya jika dirinya harus mogok. “Kalau di Jawa misalnya, selain barangnya naik tinggi harganya, barang juga tidak ada, jarang barangnya, rebutan. Kalau di sini, harga tinggi tapi barang tetap ada. Masih tetap produksi, soalnya ini kan melibatkan banyak orang juga. Di pasar juga masih banyak nyari, yang di sini,” terangnya.

 

Kondisi ini, diakuinya, memang tidak sekali, dua kali terjadi. Kendati demikian biasanya, kenaikan hanya berlangsung sebulan atau dua bulan.
Jika nantinya harga kedelai terus naik, Aang mengatakan, pihaknya terpaksa untuk menutup pabrik kalau tidak bisa menunjang harga kedelai. Kedepan jika harga kembali normal, ia akan kembali berproduksi. Sebab saat ini saja, ungkap dia, ia menjual produknya dengan harga pokok tanpa untung. “Untung ya tidak ada. Nge-press sekali,” katanya.

 

Meski harga dikatakan melonjak, menurut Aang, permintaan tetap masih ada. Ia menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran tahu. Karenanya, tak sedikit ia menerima komplain dari pembeli. “Ya kita kasi tahu kalau harga kedelainya tinggi,” katanya.

 

Sekarang ini, ia menyebutkan, untuk harga kedelai impor telah mencapai Rp 11.300 per kilogram. “Tapi kalau beli ngecer, itu sudah seharga Rp 15 ribu. Jadi beli mesti 1 ton ke saudagarnya supaya tidak beli ngecer,” terangnya.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Para produsen tahu dan tempe di Jabodetabek menggelar mogok selama tiga hari yang dimulai per Senin (21/2). Mogok produksi ini imbas dari masih tingginya harga kedelai impor di Indonesia.

 

Lain di Bali, produksi tahu dan tempe tetap berjalan. Seperti yang diungkapkan salah seorang produsen tahu di wilayah Denpasar, Aang, saat diwawancarai di pabrik tahunya di Jalan Nangka Selatan. Aang mengatakan, informasi soal mogok produksi memang sampai ke telinganya, tetapi di Bali sendiri untuk menggelar mogok memang tidak pernah terjadi. “Misalnya barang tetap ada, tapi mahal, (harganya) naik ya naik sudah (pasrah),” katanya.

 

Aang menambahkan, kalaupun dirinya mogok, pabrik lain akan tetap berproduksi. Dirinya pun meyakini bahwa di Bali mogok itu tidak ada. Ia pun menyayangkan nasib karyawannya jika dirinya harus mogok. “Kalau di Jawa misalnya, selain barangnya naik tinggi harganya, barang juga tidak ada, jarang barangnya, rebutan. Kalau di sini, harga tinggi tapi barang tetap ada. Masih tetap produksi, soalnya ini kan melibatkan banyak orang juga. Di pasar juga masih banyak nyari, yang di sini,” terangnya.

 

Kondisi ini, diakuinya, memang tidak sekali, dua kali terjadi. Kendati demikian biasanya, kenaikan hanya berlangsung sebulan atau dua bulan.
Jika nantinya harga kedelai terus naik, Aang mengatakan, pihaknya terpaksa untuk menutup pabrik kalau tidak bisa menunjang harga kedelai. Kedepan jika harga kembali normal, ia akan kembali berproduksi. Sebab saat ini saja, ungkap dia, ia menjual produknya dengan harga pokok tanpa untung. “Untung ya tidak ada. Nge-press sekali,” katanya.

 

Meski harga dikatakan melonjak, menurut Aang, permintaan tetap masih ada. Ia menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran tahu. Karenanya, tak sedikit ia menerima komplain dari pembeli. “Ya kita kasi tahu kalau harga kedelainya tinggi,” katanya.

 

Sekarang ini, ia menyebutkan, untuk harga kedelai impor telah mencapai Rp 11.300 per kilogram. “Tapi kalau beli ngecer, itu sudah seharga Rp 15 ribu. Jadi beli mesti 1 ton ke saudagarnya supaya tidak beli ngecer,” terangnya.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/