alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Kadek Budi Pembuat Telur Asin, Pesanan 10 Ribu Butir, Untung Rp 5 Juta

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Menurut orang lain membuat telur asin mungkin terasa susah, namun tidak dengan Kadek Budi Wijaya Arta. Pria asal Dusun Lepang, Desa Takmung, Banjarangkan, kelahiran 1999 silam sudah melakoni bisnis ini sejak umur 11 tahun.

Saat teman-teman seumurannya asyik bermain, Budi malah pergi ke kandang untuk ikut kakaknya beternak bebek. Ia awalnya belajar membuat telur asin dari kakaknya I Wayan Bagiarta yang merupakan seorang peternak bebek. Karena sering melihat sang kakak membuat telur asin, Budi kecil yang penasaran akan hal tersebut memberanikan diri untuk mendekat dan mencoba belajar membuatnya. “Kalau tidak ada bli wayan (Bagiarta) mungkin saya tidak bisa membuat telur asin, apalagi beternak,” ucap remaja berkaca mata ini.

Budi yang sudah bisa membuat telur asin memberanikan diri untuk mencoba berbisnis sendiri. Namun karena belum memiliki langganan, ia menyerahkan telur asinnya kepada kakaknya untuk dijual. “Butuh waktu delapan tahun untuk saya memulai bisnis ini sendiri, kakak saya juga sangat mendukung dengan keputusan saya,” lanjut pria dengan umur 22 tahun ini.

Pemuda berumur 22 tahun tersebut sempat berhenti membuat telur asin di tahun 2020, ia frustrasi karena putus cinta dan sempat ingin merantau ke Jepang, namun akhirnya situasi covid-19 juga tidak membuatnya leluasa menuju negeri Sakura. Syukurnya, di awal tahun 2021 ia mampu bangkit dan berhasil mengembangkan bisnisnya, hingga kini memiliki langganan di beberapa kabupaten. “Astungkara bisa bangkit, karena saya sudah ada pacar baru. Jadi lebih semangat lagi untuk bekerja, namanya juga anak muda,” ujarnya.

Dengan banyaknya permintaan telur asin membuat Budi kewalahan dalam produksi. Dari ternaknya  yang menghasilkan sekitar 4 ribu butir telur perbulannya, masih belum mencukupi permintaan pelanggan yang mencapai hampir 10 ribu butir.

Karena di wilayahnya di Desa Adat Lepang merupakan mayoritas peternak, ia mencoba membeli telur bebek di peternak sekitar untuk dijadikan telur asin. Kini bisnis yang ditekuni Budi sudah berkembang dengan pesat, selain dirinya yang terjun langsung membuat telur asin, sekarang ia memiliki beberapa pekerja yang membantunya. Ketika ditanya mengenai penghasilan, Budi menafsirkan di untung diangka Rp 5 juta sampai Rp 6 juta perbulannya. “Namanya juga bisnis, untuk penghasilan itu biasa naik turun. Rata – rata kalau satu hari sekitar Rp 200 ribu dapat untung,” tutupnya.

Sosok muda yang gesit ini sering ngeri dilihat. Dengan motornya mampu membawa telor sangat banyak, depan belakang isi telor. Budi bisa mampu membawa sekitar 1.200 telor sekali kirim. Bahkan jaraknya bisa jauh, sampai Karangasem. Selain membuat telor asin Budi juga menjual telor bebek ke pasar – pasar. (dir)


KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Menurut orang lain membuat telur asin mungkin terasa susah, namun tidak dengan Kadek Budi Wijaya Arta. Pria asal Dusun Lepang, Desa Takmung, Banjarangkan, kelahiran 1999 silam sudah melakoni bisnis ini sejak umur 11 tahun.

Saat teman-teman seumurannya asyik bermain, Budi malah pergi ke kandang untuk ikut kakaknya beternak bebek. Ia awalnya belajar membuat telur asin dari kakaknya I Wayan Bagiarta yang merupakan seorang peternak bebek. Karena sering melihat sang kakak membuat telur asin, Budi kecil yang penasaran akan hal tersebut memberanikan diri untuk mendekat dan mencoba belajar membuatnya. “Kalau tidak ada bli wayan (Bagiarta) mungkin saya tidak bisa membuat telur asin, apalagi beternak,” ucap remaja berkaca mata ini.

Budi yang sudah bisa membuat telur asin memberanikan diri untuk mencoba berbisnis sendiri. Namun karena belum memiliki langganan, ia menyerahkan telur asinnya kepada kakaknya untuk dijual. “Butuh waktu delapan tahun untuk saya memulai bisnis ini sendiri, kakak saya juga sangat mendukung dengan keputusan saya,” lanjut pria dengan umur 22 tahun ini.

Pemuda berumur 22 tahun tersebut sempat berhenti membuat telur asin di tahun 2020, ia frustrasi karena putus cinta dan sempat ingin merantau ke Jepang, namun akhirnya situasi covid-19 juga tidak membuatnya leluasa menuju negeri Sakura. Syukurnya, di awal tahun 2021 ia mampu bangkit dan berhasil mengembangkan bisnisnya, hingga kini memiliki langganan di beberapa kabupaten. “Astungkara bisa bangkit, karena saya sudah ada pacar baru. Jadi lebih semangat lagi untuk bekerja, namanya juga anak muda,” ujarnya.

Dengan banyaknya permintaan telur asin membuat Budi kewalahan dalam produksi. Dari ternaknya  yang menghasilkan sekitar 4 ribu butir telur perbulannya, masih belum mencukupi permintaan pelanggan yang mencapai hampir 10 ribu butir.

Karena di wilayahnya di Desa Adat Lepang merupakan mayoritas peternak, ia mencoba membeli telur bebek di peternak sekitar untuk dijadikan telur asin. Kini bisnis yang ditekuni Budi sudah berkembang dengan pesat, selain dirinya yang terjun langsung membuat telur asin, sekarang ia memiliki beberapa pekerja yang membantunya. Ketika ditanya mengenai penghasilan, Budi menafsirkan di untung diangka Rp 5 juta sampai Rp 6 juta perbulannya. “Namanya juga bisnis, untuk penghasilan itu biasa naik turun. Rata – rata kalau satu hari sekitar Rp 200 ribu dapat untung,” tutupnya.

Sosok muda yang gesit ini sering ngeri dilihat. Dengan motornya mampu membawa telor sangat banyak, depan belakang isi telor. Budi bisa mampu membawa sekitar 1.200 telor sekali kirim. Bahkan jaraknya bisa jauh, sampai Karangasem. Selain membuat telor asin Budi juga menjual telor bebek ke pasar – pasar. (dir)


Most Read

Artikel Terbaru

/