alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

ASITA Bali Sebut Sudah Ada Booking Internasional Masuk Periode Juli-September

DENPASARBALI EXPRESS – Dengan adanya kelonggaran-kelonggaran kebijakan dari pemerintah, pelaku pariwisata, termasuk Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali kian semangat melakukan promosi dan melakukan komunikasi dengan partner luar negeri.

Menurut Sekretaris DPD ASITA Bali, I Nyoman Subrata, dari 406 anggota ASITA mempunyai 11 pasar. Salah satunya, yakni pasar domestik yang memang telah bergerak sejak Oktober 2021 lalu. Ia menyebutkan, 20 persen anggotanya telah bergerak di domestik dan mendatangkan tamu-tamunya ke Bali. Sementara untuk kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) sudah mulai bangkit meski tak sepenuhnya.

“Karena memang kami belum bisa memberikan informasi yang komprehensif kepada partner kami karena kendala aturan lama. Sekarang kami sudah lebih lega, karena sudah ada penambahan Visa on Arrival (VoA) 42 negara yang tadinya 23 negara,” katanya, Rabu (23/3).

Subrata menyebutkan, pasar terdekat yang ingin digarap di bulan Juni hingga September ini adalah Pasar ASEAN, ASIA, Eropa, Australia dan Middle East. Hingga saat ini, kata dia, yang telah melakukan pemesanan adalah kebanyakan dari Pasar Eropa Barat dan Timur, Amerika, Middle East dan Australia. ASEAN yang diharapkan pihaknya datang lebih cepat sayangnya tak terkabulkan.

Sebelum pandemi Covid-19, untuk Pasar ASEAN pihaknya membuat paket wisata 4 hari 3 malam, Pasar ASIA, India, China, Australia 6 hari 5 malam, dan untuk Pasar Eropa dan Amerika berkisar 10 sampai 14 hari. Sampai saat ini, ungkapnya, respon masuk dari partner di luar negeri seperti Polandia, Finlandia, dan sudah mulai melakukan bookingan. Begitu juga disusul United Kingdom, United States, Perancis, dan Belanda untuk periode Juli-September. Lantaran masih berproses, pihaknya belum bisa menyebutkan sudah berapa persen bookingan yang masuk list.

“Harapannya ini akan mencapai 60 persen periode Juli-September karena penerbangan sudah tidak ada masalah. Tapi memang yang masih menjadi hal serius bagi pemerintah dalam memberikan informasi terutama melalui link-link harus terintegrasi. Bagaimana caranya apply PCR di web, asuransi, sehingga pada saat tamu datang di bandara, tinggal menunjukkan barcode-nya sehingga tidak terjadi antrean,” paparnya. “Tetapi kami di ASITA sudah mewadahi teman-teman untuk memberi informasi kepada wisman yang akan datang. Sehingga kita harus betul-betul bisa well inform, well service, bagi wisman,” tambahnya.

Tetapi, ia menekankan, untuk Pasar ASEAN ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni VoA dan tes PCR. Ia berharap, jika wisman sudah vaksinasi penuh ditambah dengan booster agar tidak lagi diwajibkan melakukan tes PCR.

Disinggung terkait harga paket yang ditawarkan, ia mengaku, tentunya lebih tinggi jika dibandingkan dengan paket sebelum pandemi Covid-19. Sebab didalamnya sudah termasuk asuransi, tes PCR, dan fasilitas yang aman. Disamping itu, untuk menarik minat wisman, pihaknya pun memberikan berbagai promo. “Nah tetapi promo yang kita lakukan, terkait kepemilikan dari travel agent ini. Misalkan transport, karena travel agent punya transport sendiri mungkin transportnya bisa diberikan diskon. Tapi terkait eksternal seperti hotel, mungkin sedikit bisa memberikan diskon jika tamu itu di dalam VIP Group,” jelasnya.

Selain itu, diskon yang diberikan tidak semata-mata dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk souvenir atau tambahan makan malam. “Ini sudah kita lakukan. Partner kita di overseas juga memberikan diskon yang bisa menggairahkan. Jadi bagaimana usaha kita segera mendatangkan mereka ke Bali,” katanya.

Beberapa waktu lalu, Ketua ASITA Bali, Putu Winastra menyebutkan, produk-produk yang dijual tentunya sudah tersertifikasi CHSE dan lebih banyak mengadopsi aktivitas sustainability tourism atau produk pariwisata berkelanjutan.

Untuk harganya sendiri bervariatif tergantung pasar. Ia menyebutkan, untuk Pasar Eropa, minimum harganya 1.000 USD per orang sudah termasuk hotel, guide, tour, transport, kunjungan dan sebagainya. “Jadi 1.000 USD ini sangat minim sekali sebetulnya. Anggap misalnya 1.000 USD per orang kan cuma Rp 15 juta. Jadi kalau mereka menginap sampai 7-10 hari sangat murah. Kalau berbicara Pasar ASEAN bisa lebih murah dari itu. Sasaran kita mencari pasar yang bisa spending money-nya lebih banyak,” tuturnya.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASARBALI EXPRESS – Dengan adanya kelonggaran-kelonggaran kebijakan dari pemerintah, pelaku pariwisata, termasuk Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali kian semangat melakukan promosi dan melakukan komunikasi dengan partner luar negeri.

Menurut Sekretaris DPD ASITA Bali, I Nyoman Subrata, dari 406 anggota ASITA mempunyai 11 pasar. Salah satunya, yakni pasar domestik yang memang telah bergerak sejak Oktober 2021 lalu. Ia menyebutkan, 20 persen anggotanya telah bergerak di domestik dan mendatangkan tamu-tamunya ke Bali. Sementara untuk kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) sudah mulai bangkit meski tak sepenuhnya.

“Karena memang kami belum bisa memberikan informasi yang komprehensif kepada partner kami karena kendala aturan lama. Sekarang kami sudah lebih lega, karena sudah ada penambahan Visa on Arrival (VoA) 42 negara yang tadinya 23 negara,” katanya, Rabu (23/3).

Subrata menyebutkan, pasar terdekat yang ingin digarap di bulan Juni hingga September ini adalah Pasar ASEAN, ASIA, Eropa, Australia dan Middle East. Hingga saat ini, kata dia, yang telah melakukan pemesanan adalah kebanyakan dari Pasar Eropa Barat dan Timur, Amerika, Middle East dan Australia. ASEAN yang diharapkan pihaknya datang lebih cepat sayangnya tak terkabulkan.

Sebelum pandemi Covid-19, untuk Pasar ASEAN pihaknya membuat paket wisata 4 hari 3 malam, Pasar ASIA, India, China, Australia 6 hari 5 malam, dan untuk Pasar Eropa dan Amerika berkisar 10 sampai 14 hari. Sampai saat ini, ungkapnya, respon masuk dari partner di luar negeri seperti Polandia, Finlandia, dan sudah mulai melakukan bookingan. Begitu juga disusul United Kingdom, United States, Perancis, dan Belanda untuk periode Juli-September. Lantaran masih berproses, pihaknya belum bisa menyebutkan sudah berapa persen bookingan yang masuk list.

“Harapannya ini akan mencapai 60 persen periode Juli-September karena penerbangan sudah tidak ada masalah. Tapi memang yang masih menjadi hal serius bagi pemerintah dalam memberikan informasi terutama melalui link-link harus terintegrasi. Bagaimana caranya apply PCR di web, asuransi, sehingga pada saat tamu datang di bandara, tinggal menunjukkan barcode-nya sehingga tidak terjadi antrean,” paparnya. “Tetapi kami di ASITA sudah mewadahi teman-teman untuk memberi informasi kepada wisman yang akan datang. Sehingga kita harus betul-betul bisa well inform, well service, bagi wisman,” tambahnya.

Tetapi, ia menekankan, untuk Pasar ASEAN ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni VoA dan tes PCR. Ia berharap, jika wisman sudah vaksinasi penuh ditambah dengan booster agar tidak lagi diwajibkan melakukan tes PCR.

Disinggung terkait harga paket yang ditawarkan, ia mengaku, tentunya lebih tinggi jika dibandingkan dengan paket sebelum pandemi Covid-19. Sebab didalamnya sudah termasuk asuransi, tes PCR, dan fasilitas yang aman. Disamping itu, untuk menarik minat wisman, pihaknya pun memberikan berbagai promo. “Nah tetapi promo yang kita lakukan, terkait kepemilikan dari travel agent ini. Misalkan transport, karena travel agent punya transport sendiri mungkin transportnya bisa diberikan diskon. Tapi terkait eksternal seperti hotel, mungkin sedikit bisa memberikan diskon jika tamu itu di dalam VIP Group,” jelasnya.

Selain itu, diskon yang diberikan tidak semata-mata dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk souvenir atau tambahan makan malam. “Ini sudah kita lakukan. Partner kita di overseas juga memberikan diskon yang bisa menggairahkan. Jadi bagaimana usaha kita segera mendatangkan mereka ke Bali,” katanya.

Beberapa waktu lalu, Ketua ASITA Bali, Putu Winastra menyebutkan, produk-produk yang dijual tentunya sudah tersertifikasi CHSE dan lebih banyak mengadopsi aktivitas sustainability tourism atau produk pariwisata berkelanjutan.

Untuk harganya sendiri bervariatif tergantung pasar. Ia menyebutkan, untuk Pasar Eropa, minimum harganya 1.000 USD per orang sudah termasuk hotel, guide, tour, transport, kunjungan dan sebagainya. “Jadi 1.000 USD ini sangat minim sekali sebetulnya. Anggap misalnya 1.000 USD per orang kan cuma Rp 15 juta. Jadi kalau mereka menginap sampai 7-10 hari sangat murah. Kalau berbicara Pasar ASEAN bisa lebih murah dari itu. Sasaran kita mencari pasar yang bisa spending money-nya lebih banyak,” tuturnya.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/