alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Pandemi Sepi Proyek, Penjualan Dagang Kembang Turun Sampai 75 Persen

DENPASAR, BALI EXPRESS – Selama musim pandemi Covid-19 awal, pedagang kembang mengalami penurunan penjualan rata-rata hingga 75 persen. Hal ini lantaran sepinya pesanan baik dari proyek maupun maintenance di hotel dan vila. Meski sempat booming masyarakat beralih ke hobi bercocok tanam, namun pemasukan tersebut hanya sebatas untuk menutup biaya kebutuhan sehari-hari. Ini disampaikan Ketua Asosiasi Dagang Kembang (ADK) Bali, Suryanto Galito, 43, saat diwawancarai Rabu (23/3).

 

“Kita proyek sama sekali tidak jalan waktu pandemi Covid-19. Memang banyak yang hobinya beralih ke bercocok tanam, itu kalau kita di situ hanya sebentar (ramainya). Tapi ya itu, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak bisa untuk nutup biaya kontrak sewa lahan,” jelasnya.

 

Menurut Suryanto, selama pandemi tanaman yang masih dicari pembeli yakni jenis tanaman rumah tangga atau jenis tanaman indoor. Seperti untuk diletakkan di teras rumah atau untuk hobi-hobi masyarakat. Diantaranya seperti aglonema, filum, dan lainnya. “Tapi untuk hotel, vila, yang biasanya kita ambil untuk sekarang ini belum bergerak. Disamping proyek, kita biasanya ambil maintenance di hotel dan vila,” kata pria asli Malang ini.

 

Untuk rata-rata penjualan, ungkapnya, tergantung besar-kecilnya kebun. Di kebunnya sendiri dengan luas tanah 4 are, kurang lebih dalam seharinya ia bisa menghasilkan Rp 200 ribu di masa pandemi. Sebelum pandemi, ditambah penggarapan proyek dan maintenance ia bisa mendapatkan Rp 2 juta per hari. “Kita bertumpunya kepada proyek, hotel jalan, ada maintenance,” ucapnya.

 

Sebelumnya, Suryanto menjelaskan, ADK merupakan asosiasi yang mewadahi hampir 80 persen dagang kembang di Bali, mulai dari Tanah Lot, Tabanan hingga Ubud, Gianyar. Selain berbagi informasi seputar penjualan tanaman, asosiasi yang berusia setahun lebih ini dibentuk untuk kegiatan sosial.

 

Pada 6 bulan lalu, ADK ini bekerja sama dengan Bank BRI terkait permodalan. Sebab, selama pandemi ini, modal yang awalnya digunakan untuk usaha, telah habis diperuntukkan ke biaya hidup sehari-hari. Di Denpasar, Klaster ADK ini terdiri dari Klaster ADK Tohpati, Klaster ADK Padaganggalak, Klaster ADK Kerobokan, dan lainnya sesuai wilayah. Khusus Klaster ADK Tohpati beranggotakan 60 orang.

 

Terbentuknya klaster ini, Suryanto mengklaim, sangat memberi manfaat. Contohnya seperti kondisi saat ini, sebelum pihaknya bekerjasama dengan Bank BRI, karena pandemi Covid-19 modal usaha terkuras. Adanya Bank BRI, selain membantu permodalan untuk bangkit, pihaknya pun tengah mengajukan proposal untuk pengadaan bantuan sarana dan prasarana.

 

“Proposal sudah masuk, untuk pengadaannya kita masih menunggu. Seperti mesin pengolahan sampah, pupuk organik, dan alat-alat perawatan lainnya itu yang kita ajukan. Harapan kita semoga terus berlanjut kerjasama ini, terutama untuk permodalan. Dan kita bisa bekerja sama dalam kegiatan sosial,” terangnya.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Selama musim pandemi Covid-19 awal, pedagang kembang mengalami penurunan penjualan rata-rata hingga 75 persen. Hal ini lantaran sepinya pesanan baik dari proyek maupun maintenance di hotel dan vila. Meski sempat booming masyarakat beralih ke hobi bercocok tanam, namun pemasukan tersebut hanya sebatas untuk menutup biaya kebutuhan sehari-hari. Ini disampaikan Ketua Asosiasi Dagang Kembang (ADK) Bali, Suryanto Galito, 43, saat diwawancarai Rabu (23/3).

 

“Kita proyek sama sekali tidak jalan waktu pandemi Covid-19. Memang banyak yang hobinya beralih ke bercocok tanam, itu kalau kita di situ hanya sebentar (ramainya). Tapi ya itu, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak bisa untuk nutup biaya kontrak sewa lahan,” jelasnya.

 

Menurut Suryanto, selama pandemi tanaman yang masih dicari pembeli yakni jenis tanaman rumah tangga atau jenis tanaman indoor. Seperti untuk diletakkan di teras rumah atau untuk hobi-hobi masyarakat. Diantaranya seperti aglonema, filum, dan lainnya. “Tapi untuk hotel, vila, yang biasanya kita ambil untuk sekarang ini belum bergerak. Disamping proyek, kita biasanya ambil maintenance di hotel dan vila,” kata pria asli Malang ini.

 

Untuk rata-rata penjualan, ungkapnya, tergantung besar-kecilnya kebun. Di kebunnya sendiri dengan luas tanah 4 are, kurang lebih dalam seharinya ia bisa menghasilkan Rp 200 ribu di masa pandemi. Sebelum pandemi, ditambah penggarapan proyek dan maintenance ia bisa mendapatkan Rp 2 juta per hari. “Kita bertumpunya kepada proyek, hotel jalan, ada maintenance,” ucapnya.

 

Sebelumnya, Suryanto menjelaskan, ADK merupakan asosiasi yang mewadahi hampir 80 persen dagang kembang di Bali, mulai dari Tanah Lot, Tabanan hingga Ubud, Gianyar. Selain berbagi informasi seputar penjualan tanaman, asosiasi yang berusia setahun lebih ini dibentuk untuk kegiatan sosial.

 

Pada 6 bulan lalu, ADK ini bekerja sama dengan Bank BRI terkait permodalan. Sebab, selama pandemi ini, modal yang awalnya digunakan untuk usaha, telah habis diperuntukkan ke biaya hidup sehari-hari. Di Denpasar, Klaster ADK ini terdiri dari Klaster ADK Tohpati, Klaster ADK Padaganggalak, Klaster ADK Kerobokan, dan lainnya sesuai wilayah. Khusus Klaster ADK Tohpati beranggotakan 60 orang.

 

Terbentuknya klaster ini, Suryanto mengklaim, sangat memberi manfaat. Contohnya seperti kondisi saat ini, sebelum pihaknya bekerjasama dengan Bank BRI, karena pandemi Covid-19 modal usaha terkuras. Adanya Bank BRI, selain membantu permodalan untuk bangkit, pihaknya pun tengah mengajukan proposal untuk pengadaan bantuan sarana dan prasarana.

 

“Proposal sudah masuk, untuk pengadaannya kita masih menunggu. Seperti mesin pengolahan sampah, pupuk organik, dan alat-alat perawatan lainnya itu yang kita ajukan. Harapan kita semoga terus berlanjut kerjasama ini, terutama untuk permodalan. Dan kita bisa bekerja sama dalam kegiatan sosial,” terangnya.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/