alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Tiga Pejabat Pelindo Dijerat Pasal Penggelapan dan Pencucian Uang 

DENPASAR, BALI EXPRESS — Status tersangka tiga petinggi dari PT Pelindo dijelaskan oleh Polda Bali berasal dari kasus penggelapan, juga TPPU dalam proyek pembangkit tenaga listrik. 

Tiga pejabat di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang jadi tersangka ini adalah Direktur Teknik PT Pelindo III, Kokok Susanto yang pernah menjabat sebagai Direktur utama (Dirut) PT Pelindo Energi Logistik (PEL), lalu Wawan sebagai Dirut PT PEL saat ini, dan Irsyam Bakri selaku General Manager PT PEL Region Bali Nusra.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali, Kombespol Yuliar Kus Nugroho menjelaskan, terdapat beberapa pertimbangan dalam penetapan tersangka dan pasal bagi ketiganya. Dimulai dari pihak yang diduga menjadi korban penggelapan adalah perusahaan swasta dan bukan milik negara, yakni PT Benoa Gas Terminal (BGT). 

Uang yang seharusnya diberikan dan menjadi keuntungan PT BGT selama 20 bulan, selain membayar karyawan dan biaya operasional sebesar Rp 2 Miliar setiap bulannya tidak disetorkan. Sehngga akhirnya merugikan PT BGT sebesar Rp 40 Miliar. 

Baca Juga :  Sengketa Lahan Unud VS Warga, Mantan Rektor Prof. I Made Bakta Jadi Tersangka

Hal itu terjadi karena Kokok dan Irsyam diduga bersekongkol melakukan tindakan melawan hukum dengan mengingkari perjanjian untuk mengambil alih tanggung jawab regas dari yang seharusnya dilakukan oleh PT BGT. 

Maka yang dikenakan terhadap ketiganya adalah pasal tentang penggelapan dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), yakni Pasal 372 KUHP juncto Pasal 5556 KUHP. Penetapan tersangka dan pasal terhadap ketiganya salah satunya melalui pemanggilan terhadap total 18 orang saksi.

 “Ahli sudah kami periksa, dari ahli perdata, kemudian pidana, gelar perkara juga sudah dihadiri biro hukum kami termasuk Propam,” bebernya, Kamis (22/4). 

Adapun terkait TPP,  pihaknya belum bisa menjelaskan kemana aliran dana penggelapan tersebut. Namun dikatakan, untuk sementara ini uang yang diduga digelapkan itu terdata masuk ke rekening PT PEL dan belum ditemukan di kantongi oleh mereka bertiga. 

Baca Juga :  Juni 2021, Denpasar dan Singaraja Kembali Deflasi

Kini pihaknya sedang menelusuri kemana aliran dana dari uang tersebut dan tidak menutup kemungkinan akan adanya tersangka baru. 

Sementara itu, Humas Pelindo III regional Bali Nusra, Siti Juairiah enggan berkomentar banyak terkait kasus tersebut. dikatakannya, PT Pelindo III tidak akan memghalang-halangi proses yang sedang berlangsung di kepolisian. 

Diakuinya manajemen Regional Bali Nusra sendiri tidak terlalu mengetahui masalah tersebut dan menyebut yang bisa memberikan keterangan adalah kantor pusat. 

“Sepengetahuan saya, belum ada manajemen yang dipanggil untuk dimintai keterangan terkait kasus itu, untuk keterangan lebih lanjut dari pusat yang bisa menjelaskan,” jelasnya, saat ditemui di Kantor PT Pelindo III di Kawasan Pelabuhan Benoa. (ges)


DENPASAR, BALI EXPRESS — Status tersangka tiga petinggi dari PT Pelindo dijelaskan oleh Polda Bali berasal dari kasus penggelapan, juga TPPU dalam proyek pembangkit tenaga listrik. 

Tiga pejabat di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang jadi tersangka ini adalah Direktur Teknik PT Pelindo III, Kokok Susanto yang pernah menjabat sebagai Direktur utama (Dirut) PT Pelindo Energi Logistik (PEL), lalu Wawan sebagai Dirut PT PEL saat ini, dan Irsyam Bakri selaku General Manager PT PEL Region Bali Nusra.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali, Kombespol Yuliar Kus Nugroho menjelaskan, terdapat beberapa pertimbangan dalam penetapan tersangka dan pasal bagi ketiganya. Dimulai dari pihak yang diduga menjadi korban penggelapan adalah perusahaan swasta dan bukan milik negara, yakni PT Benoa Gas Terminal (BGT). 

Uang yang seharusnya diberikan dan menjadi keuntungan PT BGT selama 20 bulan, selain membayar karyawan dan biaya operasional sebesar Rp 2 Miliar setiap bulannya tidak disetorkan. Sehngga akhirnya merugikan PT BGT sebesar Rp 40 Miliar. 

Baca Juga :  Hasil Kedelai Melimpah, Subak Umalayu Wakili Bali

Hal itu terjadi karena Kokok dan Irsyam diduga bersekongkol melakukan tindakan melawan hukum dengan mengingkari perjanjian untuk mengambil alih tanggung jawab regas dari yang seharusnya dilakukan oleh PT BGT. 

Maka yang dikenakan terhadap ketiganya adalah pasal tentang penggelapan dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), yakni Pasal 372 KUHP juncto Pasal 5556 KUHP. Penetapan tersangka dan pasal terhadap ketiganya salah satunya melalui pemanggilan terhadap total 18 orang saksi.

 “Ahli sudah kami periksa, dari ahli perdata, kemudian pidana, gelar perkara juga sudah dihadiri biro hukum kami termasuk Propam,” bebernya, Kamis (22/4). 

Adapun terkait TPP,  pihaknya belum bisa menjelaskan kemana aliran dana penggelapan tersebut. Namun dikatakan, untuk sementara ini uang yang diduga digelapkan itu terdata masuk ke rekening PT PEL dan belum ditemukan di kantongi oleh mereka bertiga. 

Baca Juga :  Kasus Tewasnya Terduga Pencuri Helm di Kuta, 4 Orang Jadi Tersangka

Kini pihaknya sedang menelusuri kemana aliran dana dari uang tersebut dan tidak menutup kemungkinan akan adanya tersangka baru. 

Sementara itu, Humas Pelindo III regional Bali Nusra, Siti Juairiah enggan berkomentar banyak terkait kasus tersebut. dikatakannya, PT Pelindo III tidak akan memghalang-halangi proses yang sedang berlangsung di kepolisian. 

Diakuinya manajemen Regional Bali Nusra sendiri tidak terlalu mengetahui masalah tersebut dan menyebut yang bisa memberikan keterangan adalah kantor pusat. 

“Sepengetahuan saya, belum ada manajemen yang dipanggil untuk dimintai keterangan terkait kasus itu, untuk keterangan lebih lanjut dari pusat yang bisa menjelaskan,” jelasnya, saat ditemui di Kantor PT Pelindo III di Kawasan Pelabuhan Benoa. (ges)


Most Read

Artikel Terbaru

/