alexametrics
24.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Mencoba Sate Biawak, Jadi Kuliner Anti-Mainstream di PKB

DENPASAR, BALI EXPRESS – Lancong ke Pesta Kesenian Bali (PKB), kurang afdol rasanya jika tidak mengunjungi stand kuliner yang disediakan. Tak hanya menyediakan makanan khas Bali, kuliner anti-mainstream juga bisa ditemukan pengunjung di stand kuliner PKB. Salah satunya, kuliner sate biawak milik Ketut Sugianti.

 

“Mulanya saya berjualan di Denpasar Festival (Denfest) pertama kali, dan (ternyata) peminatnya juga banyak. Lalu ada pembeli yang tanya, apakah ada sate kodok dan sate ular,” katanya, Kamis (23/6).

 

Sugianti mengatakan, daging biawaknya ia peroleh langsung dari pengepul yang berada di Tabanan. Yang mana, daging yang ia peroleh sudah dalam keadaan bersih dan siap dijadikan sate. Untuk mengolahnya menjadi sate, jelas dia, tak ubahnya seperti mengolah sate ayam atau sate lainnya.

 

“Pertama dibersihkan, lalu direbus pakai sambal atau bumbu genap. Sambal genap itu terdiri dari bawang merah, bawang putih, jahe, serai, daun jeruk dan bumbu-bumbu lainnya,” terangnya.

 

Ketika disajikan nantinya, sate biawak ini akan dilumuri dengan saos kacang, kecap dan sambal. Sementara untuk rasanya sendiri, sate biawak ini memiliki teksur daging agak alot dan tidak amis. Untuk satu porsi sate biawak ini dihargai Rp 20 ribu dan sudah mendapatkan 8 tusuk sate.

 

Ia menyebutkan, selain menyediakan sate biawak, ia juga menjual sate kakul (keong sawah), kelinci, jamur, cumi, kodok dan ular. Yang mana, standnya hanya dibuka jika ada event seperti PKB atau Denfest.

 

“Pelanggan kami ada dari Bali, dan luar Bali. Waktu ini ada dari Jakarta, sampai bingung pelanggan mencari di mana. Dulu kan saya buka di dekat ISI, sekarang di samping gedung utama PKB. Bule-bule juga ada yang datang saat dia ke Bali dan ada PKB dia datang ke sini nyari,” ungkapnya.

 

Sebelum pandemi, dirinya bisa menghabiskan hingga 50 kilogram daging biawak per harinya. Sementara saat ini, ia hanya menyediakan sebanyak 20 kilogram daging biawak per hari. Omzetnya pun jauh berbeda ketika dahulu sebelum pandemi. Sebelum pandemi ia bisa mendapatkan omzet hingga Rp 25 juta perharinya.

 

“Sate biawak ini dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit gatal-gatal dan kudis. Sementara untuk kulit biawak, biasanya dijadikan kerupuk,” katanya.

 

Selama PKB ini, pengunjung bisa mendatangi stand kuliner biawak Ketut Sugianti yang buka setiap hari mulai pukul 08.00 Wita sampai pukul 23.00 Wita.






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Lancong ke Pesta Kesenian Bali (PKB), kurang afdol rasanya jika tidak mengunjungi stand kuliner yang disediakan. Tak hanya menyediakan makanan khas Bali, kuliner anti-mainstream juga bisa ditemukan pengunjung di stand kuliner PKB. Salah satunya, kuliner sate biawak milik Ketut Sugianti.

 

“Mulanya saya berjualan di Denpasar Festival (Denfest) pertama kali, dan (ternyata) peminatnya juga banyak. Lalu ada pembeli yang tanya, apakah ada sate kodok dan sate ular,” katanya, Kamis (23/6).

 

Sugianti mengatakan, daging biawaknya ia peroleh langsung dari pengepul yang berada di Tabanan. Yang mana, daging yang ia peroleh sudah dalam keadaan bersih dan siap dijadikan sate. Untuk mengolahnya menjadi sate, jelas dia, tak ubahnya seperti mengolah sate ayam atau sate lainnya.

 

“Pertama dibersihkan, lalu direbus pakai sambal atau bumbu genap. Sambal genap itu terdiri dari bawang merah, bawang putih, jahe, serai, daun jeruk dan bumbu-bumbu lainnya,” terangnya.

 

Ketika disajikan nantinya, sate biawak ini akan dilumuri dengan saos kacang, kecap dan sambal. Sementara untuk rasanya sendiri, sate biawak ini memiliki teksur daging agak alot dan tidak amis. Untuk satu porsi sate biawak ini dihargai Rp 20 ribu dan sudah mendapatkan 8 tusuk sate.

 

Ia menyebutkan, selain menyediakan sate biawak, ia juga menjual sate kakul (keong sawah), kelinci, jamur, cumi, kodok dan ular. Yang mana, standnya hanya dibuka jika ada event seperti PKB atau Denfest.

 

“Pelanggan kami ada dari Bali, dan luar Bali. Waktu ini ada dari Jakarta, sampai bingung pelanggan mencari di mana. Dulu kan saya buka di dekat ISI, sekarang di samping gedung utama PKB. Bule-bule juga ada yang datang saat dia ke Bali dan ada PKB dia datang ke sini nyari,” ungkapnya.

 

Sebelum pandemi, dirinya bisa menghabiskan hingga 50 kilogram daging biawak per harinya. Sementara saat ini, ia hanya menyediakan sebanyak 20 kilogram daging biawak per hari. Omzetnya pun jauh berbeda ketika dahulu sebelum pandemi. Sebelum pandemi ia bisa mendapatkan omzet hingga Rp 25 juta perharinya.

 

“Sate biawak ini dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit gatal-gatal dan kudis. Sementara untuk kulit biawak, biasanya dijadikan kerupuk,” katanya.

 

Selama PKB ini, pengunjung bisa mendatangi stand kuliner biawak Ketut Sugianti yang buka setiap hari mulai pukul 08.00 Wita sampai pukul 23.00 Wita.






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru

/