27.6 C
Denpasar
Thursday, September 29, 2022

Sukses Berjualan Melalui Media Sosial

Wijaya Sekali Live Sale, Omsetnya Tembus Rp 10 Juta

BADUNG, BALI EXPRESS – Tren berjualan di media sosial kini tidak hanya dari foto dan video untuk menjajakan dagangan. Kini banyak pegiat maupun pengusaha yang beralih menggunakan live streaming.

Berkembangnya era digitalisasi cukup memberikan dampak kepada kehidupan sehari-hari. Bahkan metode jual beli pun banyak dilakukan secara online. Para pedagang pun banyak berkreasi agar dapat menjajakan produknya melalui platform digital. Tak hanya foto dan video namun yang sering dilakukan kini adalah melalui live streaming.

Salah satunya adalah yang dilakukan oleh penghobi sekaligus pebisnis tanaman I Putu Gede Wijaya. Pria asal Desa Mambal, Abiansemal ini terbilang cukup sukses dalam menjual tanaman hias melalui live sale. Bahkan tak jarang ia mendapatkan omset selali live sale mencapai jutaan rupiah.

Menurutnya, dalam menjual tanaman melalui live sale dapat lebih detail dijelaskan. Bahkan dengan calon pembeli dapat dilakukan tawar menawar secara langsung. Bahkan traksaksinya pun tergolong cepat. “Jadi dari live sale ini secara detail tanaman bisa showing, terus cara perawatannya, gimana cara orang setelah membeli bisa merawatnya, jadi bisa kita sampaikan langsung ke audience,” ujar Wijaya saat ditemui Jumat (23/9).

Baca Juga :  Bisnis Kertas Pembungkus Ramah Lingkungan Makin Diminati

Pemilik green house Destiny Orchid & Platycerium ini memilih menggunakan media sosial Instagram dalam mempromosikan tanamannya. Lantaran dinilai lebih mudah dibandingkan market place lainnya. Untuk tanaman yang dijual selalu bervariasi, mulai dari jenis Platycerium, tanaman paku-pakuan, Anggrek, Aroid, Philodendron, hingga Monstera. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan para audience akibat penjualan yang monoton.

Kegiatan live sale yang dikerjakan ternyata tidak terlalu lama. Dalam sekali live Wijaya hanya memerlukan waktu 4 jam saja dengan sekitar 20 sampai 50 tanaman bisa terjual. Dari hasil penjualan tersebut ia mengaku mendapatkan omset Rp 4 juta hingga Rp 10 juta dalam sekali live. “Kalau saya sendiri ngejarnya ke quality, barangnya sedikit tapi peminatnya lebih tinggi. Laku bisa Rp 2 juta, Rp 5 Juta sampai Rp 10 juta tergantung audience yang menonton kita,” ungkap pemilik green house di Jalan Raya Semana, Abiansemal, Badung.

Namun sebelum memulai live sale, Wijaya akan memberikan informasi melui postingan media sosial. Informasi itu diberikan kepada pengikutnya sehari sebelumnya. Hal ini juga disebutkan sebagai upaya menarik pembeli. “Kalau sudah ada postingan bisa nyentuh 70 sampai 100 yang mengikuti, kalau last minute paling 40 sampai 60 orang,” jelasnya.

Baca Juga :  Bank bjb Gelar DigiCash Fair: Amazing Bali

Sementara untuk target marketnya ia menyebutkan lebih banyak di luar Bali. Karena Wijaya menginginkan adanya penyebaran tanaman ke penghobi yang lebih luas.

Meski menyadari adanya persaingan bisnis, namun Wijaya tidak segan memberitahukan cara atau tips berjualan melalui live streaming. Salah satu penentu lancarnya berjualan secara online ini diakuinya adalah tanggal dan waktu pelaksanaan live. Jika dilakukan pada pertengahan bulan biasanya akan lebih sedikit laku.

“Tergantung di hari, biasanya di weekend, jam yang dipilih saat orang berhenti bekerja, dan tanggal. Kalau saya di akhir bulan atau awal bulan di minggu pertama di hari jumat, orang sudah selesai dengan pekerjaannya, tinggal pegang handphone Jam 8 malam, dan mereka sudah dapat bulanan di awal bulan. Jadi mereka sidah mendapatkan spending money untuk berbelanja,” imbuhnya.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS – Tren berjualan di media sosial kini tidak hanya dari foto dan video untuk menjajakan dagangan. Kini banyak pegiat maupun pengusaha yang beralih menggunakan live streaming.

Berkembangnya era digitalisasi cukup memberikan dampak kepada kehidupan sehari-hari. Bahkan metode jual beli pun banyak dilakukan secara online. Para pedagang pun banyak berkreasi agar dapat menjajakan produknya melalui platform digital. Tak hanya foto dan video namun yang sering dilakukan kini adalah melalui live streaming.

Salah satunya adalah yang dilakukan oleh penghobi sekaligus pebisnis tanaman I Putu Gede Wijaya. Pria asal Desa Mambal, Abiansemal ini terbilang cukup sukses dalam menjual tanaman hias melalui live sale. Bahkan tak jarang ia mendapatkan omset selali live sale mencapai jutaan rupiah.

Menurutnya, dalam menjual tanaman melalui live sale dapat lebih detail dijelaskan. Bahkan dengan calon pembeli dapat dilakukan tawar menawar secara langsung. Bahkan traksaksinya pun tergolong cepat. “Jadi dari live sale ini secara detail tanaman bisa showing, terus cara perawatannya, gimana cara orang setelah membeli bisa merawatnya, jadi bisa kita sampaikan langsung ke audience,” ujar Wijaya saat ditemui Jumat (23/9).

Baca Juga :  Disdikpora Ingatkan Tak Ada Siswa Berseragam ‘Nyeleneh’

Pemilik green house Destiny Orchid & Platycerium ini memilih menggunakan media sosial Instagram dalam mempromosikan tanamannya. Lantaran dinilai lebih mudah dibandingkan market place lainnya. Untuk tanaman yang dijual selalu bervariasi, mulai dari jenis Platycerium, tanaman paku-pakuan, Anggrek, Aroid, Philodendron, hingga Monstera. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan para audience akibat penjualan yang monoton.

Kegiatan live sale yang dikerjakan ternyata tidak terlalu lama. Dalam sekali live Wijaya hanya memerlukan waktu 4 jam saja dengan sekitar 20 sampai 50 tanaman bisa terjual. Dari hasil penjualan tersebut ia mengaku mendapatkan omset Rp 4 juta hingga Rp 10 juta dalam sekali live. “Kalau saya sendiri ngejarnya ke quality, barangnya sedikit tapi peminatnya lebih tinggi. Laku bisa Rp 2 juta, Rp 5 Juta sampai Rp 10 juta tergantung audience yang menonton kita,” ungkap pemilik green house di Jalan Raya Semana, Abiansemal, Badung.

Namun sebelum memulai live sale, Wijaya akan memberikan informasi melui postingan media sosial. Informasi itu diberikan kepada pengikutnya sehari sebelumnya. Hal ini juga disebutkan sebagai upaya menarik pembeli. “Kalau sudah ada postingan bisa nyentuh 70 sampai 100 yang mengikuti, kalau last minute paling 40 sampai 60 orang,” jelasnya.

Baca Juga :  Dinas P2KBP3A Badung Gelar Workshop Kesetaraan Gender

Sementara untuk target marketnya ia menyebutkan lebih banyak di luar Bali. Karena Wijaya menginginkan adanya penyebaran tanaman ke penghobi yang lebih luas.

Meski menyadari adanya persaingan bisnis, namun Wijaya tidak segan memberitahukan cara atau tips berjualan melalui live streaming. Salah satu penentu lancarnya berjualan secara online ini diakuinya adalah tanggal dan waktu pelaksanaan live. Jika dilakukan pada pertengahan bulan biasanya akan lebih sedikit laku.

“Tergantung di hari, biasanya di weekend, jam yang dipilih saat orang berhenti bekerja, dan tanggal. Kalau saya di akhir bulan atau awal bulan di minggu pertama di hari jumat, orang sudah selesai dengan pekerjaannya, tinggal pegang handphone Jam 8 malam, dan mereka sudah dapat bulanan di awal bulan. Jadi mereka sidah mendapatkan spending money untuk berbelanja,” imbuhnya.






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/