alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Risiko Gagal Panen Tinggi, Minat Ikut Asuransi Rendah

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Kendati kerap mengalami risiko gagal panen akibat serangan hama maupun musim kemarau, namun tak serta merta membuat petani di Buleleng greget untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). 

Ironisnya, petani yang mengikuti program asuransi pada tahun ini baru berjumlah 62 orang. Kondisi ini menandakan rendahnya minat petani mengikuti program asuransi.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta, menjelaskan, petani yang sudah mengikuti program asuransi ini berasal dari kelompok Subak Lanyahan dan Subak Babakan yang ada di Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan sebanyak 55 orang,dengan luas lahan mencapai 20.29 hektare.

Serta kelompok tani dari Subak Bangah, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, sebanyak tujuh orang, dengan luas lahan 4.55 hektare.

Sumiarta menyebut, klaim asuransi sudah sempat diberikan kepada dua subak yang ada di Desa Tamblang karena mengalami gagal panen. Jumlah klaim yang diberikan sebesar Rp 5.3 juta, karena luas lahan yang mengalami gagal panen hanya sekitar 8 are.

Pihaknya pun tidak menampik, jika minat petani untuk mengikuti asuransi ini masih sangat minim. Hal ini tak lepas dari kurangnya kesadaran dari petani itu sendiri. Padahal, untuk pembayaran premi, pemerintah telah memberikan subsidi dari yang biaya awalnya Rp 140 ribu, kini ditekan menjadi Rp 36 ribu per hektare per musim tanam.

Dengan mengikuti asuransi ini, petani sejatinya bisa mendapatkan klaim sebesar Rp 6 juta per hektare, apabila sawahnya mengalami gagal panen mencapai 75 persen, baik karena kekeringan atau terserang hama.

“Memang sampai saat ini masih banyak petani yang belum mau ikut asuransi. Kalau berkaca dari kondisi gagal panen yang dialami di saat musim kemarau, asuransi ini bisa sangat membantu. Preminya juga sudah sangat murah, karena sudah disubsidi oleh pemerintah. Tapi, tetap saja peminatnya masih sangat minim,” jelas Sumiarta.

Pihaknya pun mengaku akan mencoba melakukan testimoni kepada para petani yang sudah mengikuti program asuransi tersebut. Sehingga dengan adanya testimoni ini, diharapkan mampu menarik minat para petani untuk ikut asuransi.

“Tahun depan akan kami coba buatkan testimoni. Petani yang ikut asuransi bisa menyampaikan manfaat yang didapatkan, sehingga bisa menjadi acuan bagi petani yang lain untuk ikut program asuransi,” pungkasnya. 


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Kendati kerap mengalami risiko gagal panen akibat serangan hama maupun musim kemarau, namun tak serta merta membuat petani di Buleleng greget untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). 

Ironisnya, petani yang mengikuti program asuransi pada tahun ini baru berjumlah 62 orang. Kondisi ini menandakan rendahnya minat petani mengikuti program asuransi.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta, menjelaskan, petani yang sudah mengikuti program asuransi ini berasal dari kelompok Subak Lanyahan dan Subak Babakan yang ada di Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan sebanyak 55 orang,dengan luas lahan mencapai 20.29 hektare.

Serta kelompok tani dari Subak Bangah, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, sebanyak tujuh orang, dengan luas lahan 4.55 hektare.

Sumiarta menyebut, klaim asuransi sudah sempat diberikan kepada dua subak yang ada di Desa Tamblang karena mengalami gagal panen. Jumlah klaim yang diberikan sebesar Rp 5.3 juta, karena luas lahan yang mengalami gagal panen hanya sekitar 8 are.

Pihaknya pun tidak menampik, jika minat petani untuk mengikuti asuransi ini masih sangat minim. Hal ini tak lepas dari kurangnya kesadaran dari petani itu sendiri. Padahal, untuk pembayaran premi, pemerintah telah memberikan subsidi dari yang biaya awalnya Rp 140 ribu, kini ditekan menjadi Rp 36 ribu per hektare per musim tanam.

Dengan mengikuti asuransi ini, petani sejatinya bisa mendapatkan klaim sebesar Rp 6 juta per hektare, apabila sawahnya mengalami gagal panen mencapai 75 persen, baik karena kekeringan atau terserang hama.

“Memang sampai saat ini masih banyak petani yang belum mau ikut asuransi. Kalau berkaca dari kondisi gagal panen yang dialami di saat musim kemarau, asuransi ini bisa sangat membantu. Preminya juga sudah sangat murah, karena sudah disubsidi oleh pemerintah. Tapi, tetap saja peminatnya masih sangat minim,” jelas Sumiarta.

Pihaknya pun mengaku akan mencoba melakukan testimoni kepada para petani yang sudah mengikuti program asuransi tersebut. Sehingga dengan adanya testimoni ini, diharapkan mampu menarik minat para petani untuk ikut asuransi.

“Tahun depan akan kami coba buatkan testimoni. Petani yang ikut asuransi bisa menyampaikan manfaat yang didapatkan, sehingga bisa menjadi acuan bagi petani yang lain untuk ikut program asuransi,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/