alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Triwulan III 2021 Transaksi Saham Capai Rp 35,78 Triliun di Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS – Secara year on year (yoy) jika dibandingkan triwulan III 2021, total transaksi di Bali meningkat 265 persen. Yang mana, pada triwulan III 2020 total transaksi sebesar Rp 13,48 triliun dibandingkan dengan triwulan III 2021 sebesar Rp 35,78 triliun. Per Oktober 2021, total transaksi saham di Bali sudah mencapai kurang lebih Rp 40 triliun rupiah. Jumlah ini sudah mencapai 163 persen dari total transaksi saham di tahun 2020 sebelumnya.

Per Oktober 2021, jumlah investor pasar modal secara keseluruhan (saham, obligasi, reksadana dan produk turunannya) di Bali sebanyak 136.768 investor atau bertumbuh sebesar 58,151 investor baru atau 74 persen dari tahun sebelumnya (year to date/ytd). Sedangkan untuk jumlah investor saham di Bali sebanyak 70.759 investor per Oktober 2021 atau bertumbuh sebesar 32.062 investor baru atau 82,85 persen dari tahun sebelumnya (ytd)

“Jika dilihat dari pertumbuhan investor baru (saham) setiap bulannya, secara year on year per Oktober 2021 mengalami pertumbuhan 219 persen,” kata Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bali, I Gusti Agus Andiyasa, Selasa (23/11).

Dilihat dari sebaran wilayahnya, Denpasar menempati posisi pertama untuk jumlah investor saham tertinggi di Bali sebesar 41 persen. Disusul Badung dengan besaran 19 persen, Gianyar sebesar 10 persen, Buleleng sebesar 9 persen, Tabanan 8 persen, Karangasem dan Jembrana sebesar 4 persen, Klungkung 3 persen dan Bangli sebesar 2 persen.

Sementara untuk klasifikasi investor berdasarkan gender, tampaknya laki-laki lebih melek soal investasi. Dilihat dari besarannya yang mencapai 61 persen, dan perempuan sebesar 39 persen.

Berdasarkan usia, investor saham di Bali didominasi usia 18-25 tahun dengan besaran 39 persen. Disusul usia 26-30 tahun sebesar 22 persen, usia 31-40 tahun sebanyak 21 persen, dan sisanya 18 persen untuk usia 41-100 tahun.

Jika dilihat dari segi jenis pekerjaan, pegawai swasta menempati uruan teratas dengan total 40 persen. Kemudian pelajar 21 persen, pengusaha 15 persen, lainnya 13 persen, pegawai negeri 5 persen, ibu rumah tangga sebesar 3 persen, pensiunan, TNI/polisi, dan guru sebesar 1 persen.

Menurut Agus, masyarakat Bali saat ini semakin sadar untuk berinvestasi. Stigma masyarakat bahwa saham itu judi atau sekadar main-main perlahan-lahan menghilang sejurus dengan boomingnya pasar modal pada 2020 lalu. Disamping itu, banyak media mulai memberitakan sehingga masyarakat semakin banyak yang terjun ke pasar modal. “Perkiraan kedepan, optimis meningkat, karena ini soal timing. Informasi juga semakin mudah diperoleh. Jadi saya optimis semakin ke depan, semakin banyak investor pasar modal,” katanya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Secara year on year (yoy) jika dibandingkan triwulan III 2021, total transaksi di Bali meningkat 265 persen. Yang mana, pada triwulan III 2020 total transaksi sebesar Rp 13,48 triliun dibandingkan dengan triwulan III 2021 sebesar Rp 35,78 triliun. Per Oktober 2021, total transaksi saham di Bali sudah mencapai kurang lebih Rp 40 triliun rupiah. Jumlah ini sudah mencapai 163 persen dari total transaksi saham di tahun 2020 sebelumnya.

Per Oktober 2021, jumlah investor pasar modal secara keseluruhan (saham, obligasi, reksadana dan produk turunannya) di Bali sebanyak 136.768 investor atau bertumbuh sebesar 58,151 investor baru atau 74 persen dari tahun sebelumnya (year to date/ytd). Sedangkan untuk jumlah investor saham di Bali sebanyak 70.759 investor per Oktober 2021 atau bertumbuh sebesar 32.062 investor baru atau 82,85 persen dari tahun sebelumnya (ytd)

“Jika dilihat dari pertumbuhan investor baru (saham) setiap bulannya, secara year on year per Oktober 2021 mengalami pertumbuhan 219 persen,” kata Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bali, I Gusti Agus Andiyasa, Selasa (23/11).

Dilihat dari sebaran wilayahnya, Denpasar menempati posisi pertama untuk jumlah investor saham tertinggi di Bali sebesar 41 persen. Disusul Badung dengan besaran 19 persen, Gianyar sebesar 10 persen, Buleleng sebesar 9 persen, Tabanan 8 persen, Karangasem dan Jembrana sebesar 4 persen, Klungkung 3 persen dan Bangli sebesar 2 persen.

Sementara untuk klasifikasi investor berdasarkan gender, tampaknya laki-laki lebih melek soal investasi. Dilihat dari besarannya yang mencapai 61 persen, dan perempuan sebesar 39 persen.

Berdasarkan usia, investor saham di Bali didominasi usia 18-25 tahun dengan besaran 39 persen. Disusul usia 26-30 tahun sebesar 22 persen, usia 31-40 tahun sebanyak 21 persen, dan sisanya 18 persen untuk usia 41-100 tahun.

Jika dilihat dari segi jenis pekerjaan, pegawai swasta menempati uruan teratas dengan total 40 persen. Kemudian pelajar 21 persen, pengusaha 15 persen, lainnya 13 persen, pegawai negeri 5 persen, ibu rumah tangga sebesar 3 persen, pensiunan, TNI/polisi, dan guru sebesar 1 persen.

Menurut Agus, masyarakat Bali saat ini semakin sadar untuk berinvestasi. Stigma masyarakat bahwa saham itu judi atau sekadar main-main perlahan-lahan menghilang sejurus dengan boomingnya pasar modal pada 2020 lalu. Disamping itu, banyak media mulai memberitakan sehingga masyarakat semakin banyak yang terjun ke pasar modal. “Perkiraan kedepan, optimis meningkat, karena ini soal timing. Informasi juga semakin mudah diperoleh. Jadi saya optimis semakin ke depan, semakin banyak investor pasar modal,” katanya.


Most Read

Artikel Terbaru

/