alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Pemakaian Pupuk Kimia Berlebih Akibatkan Pohon Mangga MPP

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pemakaian pupuk kimia pada pohon mangga berakibat buruk bagi pertumbuhan. Nutrisi pada pohon mangga terkikis dan akhirnya mati pelan-pelan (MPP). Hal ini tentu menjadi ancaman besar bagi komoditas mangga yang menjadi buah unggulan di Buleleng.

Di tahun 2021, data Dinas Pertanian Buleleng menyebutkan populasi pohon mangga di Buleleng mencapai 680.876 pohon yang tersebar di 9 kecamatan. Produksinya mencapai 31.433 ton, yang dipasarkan di lokal Buleleng, regional Bali dan beberapa ada yang dikirim ke Pulau Jawa.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta dihubungi Selasa (24/5) mengatakan, persoalan pohon mangga yang kritis itu sebagaian besar terjadi pada pohon mangga yang dikontrakkan. “Sistem ini sangat merugikan,” ungkapnya.

Semprotan bahan kimia pada pohon mangga memaksa pohon mangga untuk terus berbuah lebat. Tanpa disadari kesuburan yang dihasilkan justru menimbulkan petaka. “Sudah banyak yang perlahan mati karena penggunaan berlebih dari pupuk kimia,” tambahnya.

Masalah ini menjadi perhatian Dinas Pertanian untuk melakukan pemulihan kesehatan pohon mangga. Salah satunya memberikan pemahaman kepada petani untuk berbudidaya yang baik. Selain juga mengupayakan memelihara dan mengelola kebun mangganya tanpa dikontrakkan. Pemulihan kesehatan pohon mangga pun dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik.

Upaya pengembalian kesuburan pohon mangga dengan menggunakan treatment pupuk organik sudah diawali oleh Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng.

Sejak tiga tahun terakhir Pemerintah Desa Tembok menginisiasi untuk menyelamatkan pohon mangga warganya yang menjadi sumber penghasilan biaya dapur dan rumah tangga.

Petani yang memiliki pohon mangga pun digandeng oleh BUMDes, sehingga pengelolaannya tidak lagi menggunakan jasa pengontrak dan pengepul. “Desa Tembok sudah berhasil menyelamatkan pohon mangga dan kini produksinya sebagai mangga organik. Kami mendorong desa-desa lain terutama sentra mangga di Kubutambahan untuk melakukan pola penyelamatan, bagaimanapun mangga Buleleng sudah menjadi ikon buah unggulan,” kata Sumiarta.

 

 






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pemakaian pupuk kimia pada pohon mangga berakibat buruk bagi pertumbuhan. Nutrisi pada pohon mangga terkikis dan akhirnya mati pelan-pelan (MPP). Hal ini tentu menjadi ancaman besar bagi komoditas mangga yang menjadi buah unggulan di Buleleng.

Di tahun 2021, data Dinas Pertanian Buleleng menyebutkan populasi pohon mangga di Buleleng mencapai 680.876 pohon yang tersebar di 9 kecamatan. Produksinya mencapai 31.433 ton, yang dipasarkan di lokal Buleleng, regional Bali dan beberapa ada yang dikirim ke Pulau Jawa.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta dihubungi Selasa (24/5) mengatakan, persoalan pohon mangga yang kritis itu sebagaian besar terjadi pada pohon mangga yang dikontrakkan. “Sistem ini sangat merugikan,” ungkapnya.

Semprotan bahan kimia pada pohon mangga memaksa pohon mangga untuk terus berbuah lebat. Tanpa disadari kesuburan yang dihasilkan justru menimbulkan petaka. “Sudah banyak yang perlahan mati karena penggunaan berlebih dari pupuk kimia,” tambahnya.

Masalah ini menjadi perhatian Dinas Pertanian untuk melakukan pemulihan kesehatan pohon mangga. Salah satunya memberikan pemahaman kepada petani untuk berbudidaya yang baik. Selain juga mengupayakan memelihara dan mengelola kebun mangganya tanpa dikontrakkan. Pemulihan kesehatan pohon mangga pun dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik.

Upaya pengembalian kesuburan pohon mangga dengan menggunakan treatment pupuk organik sudah diawali oleh Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng.

Sejak tiga tahun terakhir Pemerintah Desa Tembok menginisiasi untuk menyelamatkan pohon mangga warganya yang menjadi sumber penghasilan biaya dapur dan rumah tangga.

Petani yang memiliki pohon mangga pun digandeng oleh BUMDes, sehingga pengelolaannya tidak lagi menggunakan jasa pengontrak dan pengepul. “Desa Tembok sudah berhasil menyelamatkan pohon mangga dan kini produksinya sebagai mangga organik. Kami mendorong desa-desa lain terutama sentra mangga di Kubutambahan untuk melakukan pola penyelamatan, bagaimanapun mangga Buleleng sudah menjadi ikon buah unggulan,” kata Sumiarta.

 

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/