alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Raib Rp 10 M, 11 Member Laporkan Trading DNA Pro ke Polda Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kasus investasi robot trading ilegal DNA Pro yang diusut Mabes Polri telah menghebohkan masyarakat Indonesia belakangan ini. Ternyata warga di Pulau Dewata masih ada lagi yang menjadi korban. Sebanyak 11 orang selaku member dengan kerugian lebih dari Rp 10 miliar pun sudah melaporkan perkara itu ke Polda Bali, Senin (23/5).

Menurut keterangan Kuasa Hukum 11 member tersebut, Ryan Wuhono dan Yan Erick Sihombing, ada delapan subjek hukum yang pihaknya laporkan dengan Nomkr Registrasi: Dumas/401/V/2022/SPKT/Polda Bali.

Mereka adalah PT Digital Net Aset (DNA Pro), PT Mitra Alfa Sukses (MAS). Lalu oknum manajemen terdiri dari Hans Andre Martinus Supit yang menglaim sebagai Branch Manager DNA Pro Bali, dua Founder bernama Melinda dan Ferawati alias Fei Fei.

Kemudian tiga afiliasi yang tergabung dalam PT MAS bernama Fandi Prayitna, Edi Hartono dan Ryan Tedja. “Fandi, Edi dan Ryan ini tertera sebagai atas nama rekening yang menerima uang investasi dari para member,” tutur keduanya saat ditemui di Renon, Denpasar, Rabu (25/5).

Dijelaskan, Andre, Melinda, dan Ferawati yang bertugas membangun jaringan di Bali, seperti mencari member, membuat grup WhatsApp, membuat seminar dan sebagainya. Ketika ada yang mau bergabung, calon member diarahkan oleh ketiga oknum itu untuk masuk ke website atas nama Pat Mas yang mereka sebut sebagai exchanger ke website. Salah satunya untuk menyetor dana investasi tersebut dan munculah nama Fandi, Edi serta Ryan.

Para member mau bergabung karena ajakan dari para Founder serta adanya brosur hingga baliho. Dengan iming-iming, trading di DNA Pro aman dan legal, tidak akan terjadi kemacetan dalam hal penarikan uang, dengan pembagian hasil usaha 90 persen member, 10 persen perusahaan yang memberi keuntungan satu sampai lima persen setiap minggu.

“Proporsi pembagiannya kan 90-10, begitu juga ketika mau investasi, contohnya member mengeluarkan 100 juta untuk dana investasi dan 10 juta untuk membeli robot,” tandas mereka.

Padahal sebenarnya, perusahaan tersebut taglinenya adalah DNA Pro Akademi, yaitu tempat belajar trading memang memperdagangkan aplikasi robot trading.

Namun kelirunya, manajemen mengajak para member untuk ikut trading lewat perusahaan mereka. Memang pada awalnya tidak ada masalah. Member mendapat pembagian hasil usaha, bisa melakukan penarikan uang ataupun mengecek aplikasi dan perputaran uang mereka.

Tetapi pemerintah melalui Bapebbti menyatakan trading DNA Pro adalah ilegal. Sebab, perusahaan itu hanya punya izin untuk perdagangan kecil saja.

Selanjutnya kurang lebih sejak Januari 2022 bersamaan dengan disegelenya kantor pusat DNA Pro oleh Bareskrim di Jakarta, member mulai tidak bisa melakujan widthdraw uang yang mereka investasikan. “Begitu juga website yang mereka masuki tidak dapat diakses dengan benar, dan trading tidak berjalan, tidak loss ataupun profit, member juga jadi cemas, katanya legal kok bisa jadi ilegal sekarang,” tambahnya.

Masalah ini berlangsung sampai akhirnya member laporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Bali. Sebelum melapor, para member sudah berusaha berkomunikasi dengan pihak manajemen. Akan tetapi mereka terus diberi harapan bahwa uang investasi tetap aman dan akan bisa berjalan lagi.

Kenyataannya tidak ada perubahan, dan ironisnya para founder tersebut malah menghilang tanpa bisa dihubungi sejak pertengahan Maret 2022. Bahkan, kantor DNA Pro Bali yang terletak di Renon sudah tutup alias tak ada operasional lagi.

Harapan para member dari pelaporan ini, agar modal awal investasi mereka bisa dikembalikan dan polisi dapat memroses kasusnya dengan serius sambil memberikan perlindungan hukum. Memang para member sempat dapat profit atau juga pembagian hasil usaha, namun jumlahnya masih jauh dari modal awal yang disetorkan.

“Kalau bagi investor, kan tidak untung mereka apalagi belum balik modal, mereka dapat hanya dibawah 50 persen, sisanya hilang begitu saja,” lanjut kedua pengacara ini.

Total kerugian 11 klien mereka mencapai lebih dari Rp 11 miliar. Sementara seluruh member di Bali disebut menyetorkan dana mencapai Rp 1,4 triliun. Kuasa Hukum mengapresiasi tanggapan polisi terhadap laporan pihaknya.

Pihak Ditreskrimsus menyampaikan akan segera memeriksa saksi-saksi dan menindaklanjuti laporan. Polisi disebut sudah mengerti duduk perkara dan sempat mendiskusikan Pasal yakni 372 dan 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan, serta ada Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Sementara itu, Dirreskrimsus Polda Bali Kombespol Hendri Fiuser yang dikonfirmasi menyebut belum mengetahui perihal laporan itu. “Saya belum monitor, saya coba cek dulu ya,” jawabnya.

 






Reporter: I Gede Paramasutha

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kasus investasi robot trading ilegal DNA Pro yang diusut Mabes Polri telah menghebohkan masyarakat Indonesia belakangan ini. Ternyata warga di Pulau Dewata masih ada lagi yang menjadi korban. Sebanyak 11 orang selaku member dengan kerugian lebih dari Rp 10 miliar pun sudah melaporkan perkara itu ke Polda Bali, Senin (23/5).

Menurut keterangan Kuasa Hukum 11 member tersebut, Ryan Wuhono dan Yan Erick Sihombing, ada delapan subjek hukum yang pihaknya laporkan dengan Nomkr Registrasi: Dumas/401/V/2022/SPKT/Polda Bali.

Mereka adalah PT Digital Net Aset (DNA Pro), PT Mitra Alfa Sukses (MAS). Lalu oknum manajemen terdiri dari Hans Andre Martinus Supit yang menglaim sebagai Branch Manager DNA Pro Bali, dua Founder bernama Melinda dan Ferawati alias Fei Fei.

Kemudian tiga afiliasi yang tergabung dalam PT MAS bernama Fandi Prayitna, Edi Hartono dan Ryan Tedja. “Fandi, Edi dan Ryan ini tertera sebagai atas nama rekening yang menerima uang investasi dari para member,” tutur keduanya saat ditemui di Renon, Denpasar, Rabu (25/5).

Dijelaskan, Andre, Melinda, dan Ferawati yang bertugas membangun jaringan di Bali, seperti mencari member, membuat grup WhatsApp, membuat seminar dan sebagainya. Ketika ada yang mau bergabung, calon member diarahkan oleh ketiga oknum itu untuk masuk ke website atas nama Pat Mas yang mereka sebut sebagai exchanger ke website. Salah satunya untuk menyetor dana investasi tersebut dan munculah nama Fandi, Edi serta Ryan.

Para member mau bergabung karena ajakan dari para Founder serta adanya brosur hingga baliho. Dengan iming-iming, trading di DNA Pro aman dan legal, tidak akan terjadi kemacetan dalam hal penarikan uang, dengan pembagian hasil usaha 90 persen member, 10 persen perusahaan yang memberi keuntungan satu sampai lima persen setiap minggu.

“Proporsi pembagiannya kan 90-10, begitu juga ketika mau investasi, contohnya member mengeluarkan 100 juta untuk dana investasi dan 10 juta untuk membeli robot,” tandas mereka.

Padahal sebenarnya, perusahaan tersebut taglinenya adalah DNA Pro Akademi, yaitu tempat belajar trading memang memperdagangkan aplikasi robot trading.

Namun kelirunya, manajemen mengajak para member untuk ikut trading lewat perusahaan mereka. Memang pada awalnya tidak ada masalah. Member mendapat pembagian hasil usaha, bisa melakukan penarikan uang ataupun mengecek aplikasi dan perputaran uang mereka.

Tetapi pemerintah melalui Bapebbti menyatakan trading DNA Pro adalah ilegal. Sebab, perusahaan itu hanya punya izin untuk perdagangan kecil saja.

Selanjutnya kurang lebih sejak Januari 2022 bersamaan dengan disegelenya kantor pusat DNA Pro oleh Bareskrim di Jakarta, member mulai tidak bisa melakujan widthdraw uang yang mereka investasikan. “Begitu juga website yang mereka masuki tidak dapat diakses dengan benar, dan trading tidak berjalan, tidak loss ataupun profit, member juga jadi cemas, katanya legal kok bisa jadi ilegal sekarang,” tambahnya.

Masalah ini berlangsung sampai akhirnya member laporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Bali. Sebelum melapor, para member sudah berusaha berkomunikasi dengan pihak manajemen. Akan tetapi mereka terus diberi harapan bahwa uang investasi tetap aman dan akan bisa berjalan lagi.

Kenyataannya tidak ada perubahan, dan ironisnya para founder tersebut malah menghilang tanpa bisa dihubungi sejak pertengahan Maret 2022. Bahkan, kantor DNA Pro Bali yang terletak di Renon sudah tutup alias tak ada operasional lagi.

Harapan para member dari pelaporan ini, agar modal awal investasi mereka bisa dikembalikan dan polisi dapat memroses kasusnya dengan serius sambil memberikan perlindungan hukum. Memang para member sempat dapat profit atau juga pembagian hasil usaha, namun jumlahnya masih jauh dari modal awal yang disetorkan.

“Kalau bagi investor, kan tidak untung mereka apalagi belum balik modal, mereka dapat hanya dibawah 50 persen, sisanya hilang begitu saja,” lanjut kedua pengacara ini.

Total kerugian 11 klien mereka mencapai lebih dari Rp 11 miliar. Sementara seluruh member di Bali disebut menyetorkan dana mencapai Rp 1,4 triliun. Kuasa Hukum mengapresiasi tanggapan polisi terhadap laporan pihaknya.

Pihak Ditreskrimsus menyampaikan akan segera memeriksa saksi-saksi dan menindaklanjuti laporan. Polisi disebut sudah mengerti duduk perkara dan sempat mendiskusikan Pasal yakni 372 dan 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan, serta ada Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Sementara itu, Dirreskrimsus Polda Bali Kombespol Hendri Fiuser yang dikonfirmasi menyebut belum mengetahui perihal laporan itu. “Saya belum monitor, saya coba cek dulu ya,” jawabnya.

 






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/