alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Jualan Bonsai Keliling, Mahyono Raup Rp 20 Juta Sebulan

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pandemi yang berlarut-larut mengubah pola hidup masyarakat. Contohnya saja terkait mencari rejeki. Stand tanamannya di Gianyar sepi pembeli, Nur Mahyono memilih menjemput rejekinya dengan berjualan bonsai keliling menggunakan pick up. Mahyono merupakan satu dari sekian banyaknya pedagang bermobil yang bertempat di kawasan Jalan Raya Puputan Renon, Denpasar Selatan.

Setiap harinya, Mahyono mesti bolak-balik Denpasar – Gianyar untuk berjualan bonsai. Kendati demikian, tak lantas membuat Mahyono mendapatkan banyak pembeli. “Saya sudah keliling jualan bonsai dari awal pandemi, sudah sekitar setahun lebih. Sekarang saya jualannya di sini,” katanya saat ditemui, Selasa (24/8).

Laki-laki asli Madura itu mengaku, sebelum pandemi pembeli tanaman bonsai cukup banyak. Namun setelah pandemi Covid-19, pembeli makin sepi. “Tapi ada saja yang beli satu, dua orang, ada yang beli sampai lima, tapi jarang. Karena ini kan menyangkut hobi, bukan kebutuhan pokok,” ungkap laki-laki yang telah berjualan bonsai dari tahun 2008 ini.

Ia pun memilih untuk berkeliling daripada harus berjualan di standnya yang lama. Selain itu, kebetulan banyak temannya dengan usaha yang sama, yang berjualan di kawasan Renon. “Di sini banyak teman juga dan lokasinya bagus karena di pinggir jalan. Orang banyak lalu-lalang. Di sini saya hanya perlu bayar iuran Rp 4 ribu saja,” katanya.

Waktu ‘nongkrong’nya, mulai dari pukul 09.00 Wita sampai pukul 21.00 Wita. Di mobil pick upnya, lebih dari belasan bonsai ia bawa. Mulai dari harga Rp 25 ribu termurah untuk bibitan, sampai bonsai yang paling mahal seharga Rp 2 juta. “Ada yang lebih mahal lagi, tapi nggak berani bawanya, karena sasaran saya di sini pemula,” kata dia.

Untuk omzetnya sendiri, sebulan rata-rata ia mengantongi sekitar Rp 20 juta kotornya. “Bersihnya tidak seberapa, karena modal untuk jualan bonsai kan lumayan besar. Dicukup-cukupi saja untuk menafkahi keluarga,” katanya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Pandemi yang berlarut-larut mengubah pola hidup masyarakat. Contohnya saja terkait mencari rejeki. Stand tanamannya di Gianyar sepi pembeli, Nur Mahyono memilih menjemput rejekinya dengan berjualan bonsai keliling menggunakan pick up. Mahyono merupakan satu dari sekian banyaknya pedagang bermobil yang bertempat di kawasan Jalan Raya Puputan Renon, Denpasar Selatan.

Setiap harinya, Mahyono mesti bolak-balik Denpasar – Gianyar untuk berjualan bonsai. Kendati demikian, tak lantas membuat Mahyono mendapatkan banyak pembeli. “Saya sudah keliling jualan bonsai dari awal pandemi, sudah sekitar setahun lebih. Sekarang saya jualannya di sini,” katanya saat ditemui, Selasa (24/8).

Laki-laki asli Madura itu mengaku, sebelum pandemi pembeli tanaman bonsai cukup banyak. Namun setelah pandemi Covid-19, pembeli makin sepi. “Tapi ada saja yang beli satu, dua orang, ada yang beli sampai lima, tapi jarang. Karena ini kan menyangkut hobi, bukan kebutuhan pokok,” ungkap laki-laki yang telah berjualan bonsai dari tahun 2008 ini.

Ia pun memilih untuk berkeliling daripada harus berjualan di standnya yang lama. Selain itu, kebetulan banyak temannya dengan usaha yang sama, yang berjualan di kawasan Renon. “Di sini banyak teman juga dan lokasinya bagus karena di pinggir jalan. Orang banyak lalu-lalang. Di sini saya hanya perlu bayar iuran Rp 4 ribu saja,” katanya.

Waktu ‘nongkrong’nya, mulai dari pukul 09.00 Wita sampai pukul 21.00 Wita. Di mobil pick upnya, lebih dari belasan bonsai ia bawa. Mulai dari harga Rp 25 ribu termurah untuk bibitan, sampai bonsai yang paling mahal seharga Rp 2 juta. “Ada yang lebih mahal lagi, tapi nggak berani bawanya, karena sasaran saya di sini pemula,” kata dia.

Untuk omzetnya sendiri, sebulan rata-rata ia mengantongi sekitar Rp 20 juta kotornya. “Bersihnya tidak seberapa, karena modal untuk jualan bonsai kan lumayan besar. Dicukup-cukupi saja untuk menafkahi keluarga,” katanya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/