alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Pesanan Jeruk Madu Karangasem Menurun

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Jeruk madu punya rasa yang lebih manis dari jeruk lainnya. Bahkan jeruk yang pertama kali dikembangkan di Karangasem oleh I Gusti Ngurah Alit sangat diminati sejak hampir lima tahun belakangan. Hasil panen tersebut sudah merambah ke sejumlah perusahaan retail di Bali.

Namun petani asal Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, itu mulai merasakan dampak pandemi. Permintaan jeruk ke swalayan maupun pasar besar di Denpasar mulai menurun. Padahal dulu kebanjiran permintaan hingga 1 ton tiap dua hari. “Sekarang hanya mengirim ke pedagang kecil-kecil,” tutur Ngurah Alit saat dihubungi Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (25/8).

Ngurah Alit tidak membantah, dirinya pernah kewalahan melayani pesanan jeruk madu. Katanya, sejumlah toko besar mampu menjual habis jeruk madu dalam beberapa hari saja. Terutama jelang hari raya. Menurutnya, jeruk madu diminati lantaran kandungan airnya lebih banyak dan rasa asamnya lebih sedikit. Ngurah Alit menjelaskan, awalnya bibit jeruk madu didatangkan usai studi banding di Malang, Jawa Timur, pada 2014. Konon jeruk tersebut juga dikembangkan di Kalimantan dengan hasil buah tanpa biji.

Alit makin yakin mengembangkannya di Karangasem usai mencicip jeruk itu. Namun dia punya pandangan berbeda. Dia berpikir untuk menghasilkan rasa jeruk yang lebih segar dengan menggabungkannya dengan jenis jeruk lain. Dia lalu meminta teman di Kintamani mengembangkan batang jeruk madu dengan jeruk siam dengan sistem mata tempel. “Saya minta teman bawa ke Kintamani. Setelah ada bibit hasil penggabungan itu, baru saya bawa ke Besakih,” terangnya.

Saat ini ada dua orang yang budi daya jeruk madu di Besakih. Pria yang juga Ketua Pengelola Pusat Pelatihan Petani Pedesaan Swadaya (P4S) ini memanfaatkan lahan 35 are miliknya. Terdapat 60 pohon dengan jarak tanam 2,5 meter. Satu pohon bisa hasilkan 100 kilogram. “Puncak panen yang bagus itu di bulan Agustus,” paparnya.

Untuk satu kali panen, ia bisa mendapatkan hasil antara 2,5 sampai 6 ton. Panen bisa sekali atau dua kali dalam setahun tergantung cuaca. Alit menjual jeruk madu tersebut Rp 20 ribu per kg. Sementara harga ecerannya mencapai Rp 35 ribu. Rasanya manis segar. Bahkan makin sedap jika disantap 2-3 hari pasca dipetik.

 


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Jeruk madu punya rasa yang lebih manis dari jeruk lainnya. Bahkan jeruk yang pertama kali dikembangkan di Karangasem oleh I Gusti Ngurah Alit sangat diminati sejak hampir lima tahun belakangan. Hasil panen tersebut sudah merambah ke sejumlah perusahaan retail di Bali.

Namun petani asal Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, itu mulai merasakan dampak pandemi. Permintaan jeruk ke swalayan maupun pasar besar di Denpasar mulai menurun. Padahal dulu kebanjiran permintaan hingga 1 ton tiap dua hari. “Sekarang hanya mengirim ke pedagang kecil-kecil,” tutur Ngurah Alit saat dihubungi Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (25/8).

Ngurah Alit tidak membantah, dirinya pernah kewalahan melayani pesanan jeruk madu. Katanya, sejumlah toko besar mampu menjual habis jeruk madu dalam beberapa hari saja. Terutama jelang hari raya. Menurutnya, jeruk madu diminati lantaran kandungan airnya lebih banyak dan rasa asamnya lebih sedikit. Ngurah Alit menjelaskan, awalnya bibit jeruk madu didatangkan usai studi banding di Malang, Jawa Timur, pada 2014. Konon jeruk tersebut juga dikembangkan di Kalimantan dengan hasil buah tanpa biji.

Alit makin yakin mengembangkannya di Karangasem usai mencicip jeruk itu. Namun dia punya pandangan berbeda. Dia berpikir untuk menghasilkan rasa jeruk yang lebih segar dengan menggabungkannya dengan jenis jeruk lain. Dia lalu meminta teman di Kintamani mengembangkan batang jeruk madu dengan jeruk siam dengan sistem mata tempel. “Saya minta teman bawa ke Kintamani. Setelah ada bibit hasil penggabungan itu, baru saya bawa ke Besakih,” terangnya.

Saat ini ada dua orang yang budi daya jeruk madu di Besakih. Pria yang juga Ketua Pengelola Pusat Pelatihan Petani Pedesaan Swadaya (P4S) ini memanfaatkan lahan 35 are miliknya. Terdapat 60 pohon dengan jarak tanam 2,5 meter. Satu pohon bisa hasilkan 100 kilogram. “Puncak panen yang bagus itu di bulan Agustus,” paparnya.

Untuk satu kali panen, ia bisa mendapatkan hasil antara 2,5 sampai 6 ton. Panen bisa sekali atau dua kali dalam setahun tergantung cuaca. Alit menjual jeruk madu tersebut Rp 20 ribu per kg. Sementara harga ecerannya mencapai Rp 35 ribu. Rasanya manis segar. Bahkan makin sedap jika disantap 2-3 hari pasca dipetik.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/