26.5 C
Denpasar
Tuesday, February 7, 2023

Kenaikan BBM Subsidi Bakal Pacu Harga Komoditi dan Lainnya Ikut Naik

DENPASAR, BALI EXPRESS – Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dikhawatirkan akan memengaruhi sejumlah sektor, salah satunya sektor ritel. Pasalnya, untuk mendistribusikan barang bagi ritel, menggunakan transportasi besar yang kebanyakan menggunakan BBM bersubsidi.

“Dampak secara langsung tentunya meningkatnya biaya operasional, khususnya transportasi untuk distribusi barang bagi retail yang memiliki jaringan outlet yang banyak. Ini tentunya akan mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan,” jelas Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali, Agung Agra Putra, Jumat (26/8).

Sementara jika dilihat dari dampak tidak langsungnya, menurut Agra, setiap peningkatan harga BBM akan diikuti oleh meningkatnya hampir semua harga komoditi atau barang-barang lainnya. Jadi, kata dia, kenaikan BBM ini akan membuat tingkat inflasi semakin tinggi, tentunya akan menekan kembali daya beli masyarakat yang belum pulih benar akibat pandemi.

“Tekanan pada daya beli masyarakat mengakibatkan menurunnya kembali tingkat konsumsi masyarakat, yang artinya akan berdampak pada turunnya omzet atau penjualan pada industri ritel,” katanya.

Dikatakannya, kenaikan ekonomi akan berdampak pada kembali melambatkan pertumbuhan perekonomian. Untuk itu, pihaknya berharap, kebijakan menaikkan harga BBM subsidi agar ditinjau kembali dengan mengkaji secara menyeluruh dan mendalam akan dampak yang nanti ditimbulkan.

“Kalaupun akhirnya memang harus menaikkan harga BBM, pemerintah harus mempersiapkan juga semacam insentif atau subsidi atau kompensasi lainnya, kepada pelaku usaha dan masyarakat untuk meringankan dampak akibat kenaikan BBM ini,” harapnya.

 

 






Reporter: Rika Riyanti

DENPASAR, BALI EXPRESS – Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dikhawatirkan akan memengaruhi sejumlah sektor, salah satunya sektor ritel. Pasalnya, untuk mendistribusikan barang bagi ritel, menggunakan transportasi besar yang kebanyakan menggunakan BBM bersubsidi.

“Dampak secara langsung tentunya meningkatnya biaya operasional, khususnya transportasi untuk distribusi barang bagi retail yang memiliki jaringan outlet yang banyak. Ini tentunya akan mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan,” jelas Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali, Agung Agra Putra, Jumat (26/8).

Sementara jika dilihat dari dampak tidak langsungnya, menurut Agra, setiap peningkatan harga BBM akan diikuti oleh meningkatnya hampir semua harga komoditi atau barang-barang lainnya. Jadi, kata dia, kenaikan BBM ini akan membuat tingkat inflasi semakin tinggi, tentunya akan menekan kembali daya beli masyarakat yang belum pulih benar akibat pandemi.

“Tekanan pada daya beli masyarakat mengakibatkan menurunnya kembali tingkat konsumsi masyarakat, yang artinya akan berdampak pada turunnya omzet atau penjualan pada industri ritel,” katanya.

Dikatakannya, kenaikan ekonomi akan berdampak pada kembali melambatkan pertumbuhan perekonomian. Untuk itu, pihaknya berharap, kebijakan menaikkan harga BBM subsidi agar ditinjau kembali dengan mengkaji secara menyeluruh dan mendalam akan dampak yang nanti ditimbulkan.

“Kalaupun akhirnya memang harus menaikkan harga BBM, pemerintah harus mempersiapkan juga semacam insentif atau subsidi atau kompensasi lainnya, kepada pelaku usaha dan masyarakat untuk meringankan dampak akibat kenaikan BBM ini,” harapnya.

 

 






Reporter: Rika Riyanti

Most Read

Artikel Terbaru