alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Panen Perdana, Petani Sorgum Berharap Harga Layak

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Panen sorgum atau jagung gembal perdana dilakukan Dinas Pertanian Buleleng di Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Selasa (29/9) siang. Sorgum yang dipanen di lahan Subak Tegal Linggah Anyar seluas 1 hektare ini, sebelumnya ditanam perdana pada 11 Juni lalu.

Kelian Subak Tegal Linggah Anyar, Gede Sukrada, mengaku senang wilayahnya menjadi percontohan budidaya sorgum. Terlebih, jika hasil panen perdana sorgum rencananya akan diserap sebagai bahan pembenihan oleh dinas. Pihaknya berharap agar sorgum ini dibeli dengan harga yang layak.

Sukrada tak menampik saat ini belum ada kesepakatan antara kedua pihak. Biaya produksi untuk penanaman sorgum di subaknya mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, dan air, memakan biaya sekitar Rp 5,5 juta. Belum lagi ditambah dengan biaya panen.

Pihaknya pun berarap agar sorgum yang dipanen dibeli dengan harga lebih dari Rp 6 ribu per kilogram. “Kami berharap jangan sampai merugi. Apalagi pembelian air yang cukup membengkak, sampai Rp 1,6 juta karena musim kemarau,” jelasnya.

Meski baru perdana mencoba menanam sorgum, namun Sukrada mengakui perawatannya lebih mudah. Tanaman sorgum lebih tahan terhadap kondisi tanah kering di musim kemarau. “Sorgum ini kuat tahan panas. Sebelumnya lahan ini ditanami padi dan jagung. Dibandingkan keduanya, proses perawatan sorgum lebih mudah,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarta, menjelaskan,  sorgum merupakan ikon Buleleng yang berpotensi untuk dikembangkan lebih luas secara kuantitas lahan di seluruh kecamatan di Buleleng. Mengingat ada keterikatan secara historis.

Selama ini, sorgum masih ditanam di wilayah Kecamatan Sukasada. Selain di Desa Tegal Linggah, sorgum juga ditanam di Desa Sambangan dan Desa Panji. Recananya November mendatang, tanaman ini akan mulai dikembangkan di wilayah Kecamatan Gerokgak dan Kecamatan Kubutambahan.

“Kami sudah siapkan benih sekitar 5 hingga 6 ton untuk pengembangan dari hasil panen di tiga desa tersebut,” jelasnya.

Tahun ini Buleleng, sebut Sumiarta, diberikan pengembangan sorgum seluas 25 hektare. Hal itu dinilai masih sedikit, jika dibandingkan luasan lahan pertanian di Buleleng seluas 35 ribu hektare. Pengembangan ini mereka memanfaatkan lahan-lahan marjinal.

Targetnya, setiap hektare lahan akan mampu  memroduksi 3 ton sorgum. Maka, jika dikalkulasi akan menghasilkan sekitar 75 ton sorgum. Pihaknya pun berharap Buleleng nantinya jadi pusat sorgum.

“Ketika orang mencari sorgum, Buleleng sudah siap. Pasarannya biasa di daerah timur seperti NTT. Nanti juga bisa jadi pusat benih, yang disambungkan ke daerah lain yang membutuhkan untuk pengembangan sorgum,” harapanya.

Panen perdana inipun mendapat apresiasi dari Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Bali, I Wayan Sunarta, yang hadir secara langsung.

Sebagai pengganti pangan non beras, Sorgum, sebut Sunarta, memiliki ketahanan di atas rata-rata dibandingkan tanaman pangan lainnya dengan kondisi lahan yang kering. Sehingga sorgum dinilai cocok untuk mengefektifkan lahan kering di wilayah Buleleng.

Hasil panen perdana tersebut rencananya akan dijadikan benih pengembangan tanaman sorgum berikutnya, baik di wilayah Buleleng maupun luar daerah. Di Buleleng sendiri ditargetkan jatah pengembangan sorgum seluas 25 hektare.

“Ini akan kami jadikan benih, karena kelasnya tinggi. Benih ini akan digunakan untuk menyuplai kebutuhan 25 hektare nanti. Sebagian juga akan kami link-kan pengembangan ke daerah luar, seperti NTT,” bebernya.

Dirinya berharap para petani di wilayah Buleleng ada yang berinisiatif mengembangkan secara mandiri, atau dengan dukungan pihak swasta. Dengan demikian, target 25 hektare di Buleleng dapat segera terealisasi.

“Setiap satu hektare lahan yang akan ditanami membutuhkan sekitar 10 kilogram benih. Kalau mau mengembangkan, misalnya dengan didukung CSR untuk membeli benihnya akan sangat bagus. Sehingga akan cepat tercapai, bahkan mungkin bisa 100 hektare,” pungkasnya. 

 


SINGARAJA, BALI EXPRESS-Panen sorgum atau jagung gembal perdana dilakukan Dinas Pertanian Buleleng di Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Selasa (29/9) siang. Sorgum yang dipanen di lahan Subak Tegal Linggah Anyar seluas 1 hektare ini, sebelumnya ditanam perdana pada 11 Juni lalu.

Kelian Subak Tegal Linggah Anyar, Gede Sukrada, mengaku senang wilayahnya menjadi percontohan budidaya sorgum. Terlebih, jika hasil panen perdana sorgum rencananya akan diserap sebagai bahan pembenihan oleh dinas. Pihaknya berharap agar sorgum ini dibeli dengan harga yang layak.

Sukrada tak menampik saat ini belum ada kesepakatan antara kedua pihak. Biaya produksi untuk penanaman sorgum di subaknya mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, dan air, memakan biaya sekitar Rp 5,5 juta. Belum lagi ditambah dengan biaya panen.

Pihaknya pun berarap agar sorgum yang dipanen dibeli dengan harga lebih dari Rp 6 ribu per kilogram. “Kami berharap jangan sampai merugi. Apalagi pembelian air yang cukup membengkak, sampai Rp 1,6 juta karena musim kemarau,” jelasnya.

Meski baru perdana mencoba menanam sorgum, namun Sukrada mengakui perawatannya lebih mudah. Tanaman sorgum lebih tahan terhadap kondisi tanah kering di musim kemarau. “Sorgum ini kuat tahan panas. Sebelumnya lahan ini ditanami padi dan jagung. Dibandingkan keduanya, proses perawatan sorgum lebih mudah,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Made Sumiarta, menjelaskan,  sorgum merupakan ikon Buleleng yang berpotensi untuk dikembangkan lebih luas secara kuantitas lahan di seluruh kecamatan di Buleleng. Mengingat ada keterikatan secara historis.

Selama ini, sorgum masih ditanam di wilayah Kecamatan Sukasada. Selain di Desa Tegal Linggah, sorgum juga ditanam di Desa Sambangan dan Desa Panji. Recananya November mendatang, tanaman ini akan mulai dikembangkan di wilayah Kecamatan Gerokgak dan Kecamatan Kubutambahan.

“Kami sudah siapkan benih sekitar 5 hingga 6 ton untuk pengembangan dari hasil panen di tiga desa tersebut,” jelasnya.

Tahun ini Buleleng, sebut Sumiarta, diberikan pengembangan sorgum seluas 25 hektare. Hal itu dinilai masih sedikit, jika dibandingkan luasan lahan pertanian di Buleleng seluas 35 ribu hektare. Pengembangan ini mereka memanfaatkan lahan-lahan marjinal.

Targetnya, setiap hektare lahan akan mampu  memroduksi 3 ton sorgum. Maka, jika dikalkulasi akan menghasilkan sekitar 75 ton sorgum. Pihaknya pun berharap Buleleng nantinya jadi pusat sorgum.

“Ketika orang mencari sorgum, Buleleng sudah siap. Pasarannya biasa di daerah timur seperti NTT. Nanti juga bisa jadi pusat benih, yang disambungkan ke daerah lain yang membutuhkan untuk pengembangan sorgum,” harapanya.

Panen perdana inipun mendapat apresiasi dari Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Bali, I Wayan Sunarta, yang hadir secara langsung.

Sebagai pengganti pangan non beras, Sorgum, sebut Sunarta, memiliki ketahanan di atas rata-rata dibandingkan tanaman pangan lainnya dengan kondisi lahan yang kering. Sehingga sorgum dinilai cocok untuk mengefektifkan lahan kering di wilayah Buleleng.

Hasil panen perdana tersebut rencananya akan dijadikan benih pengembangan tanaman sorgum berikutnya, baik di wilayah Buleleng maupun luar daerah. Di Buleleng sendiri ditargetkan jatah pengembangan sorgum seluas 25 hektare.

“Ini akan kami jadikan benih, karena kelasnya tinggi. Benih ini akan digunakan untuk menyuplai kebutuhan 25 hektare nanti. Sebagian juga akan kami link-kan pengembangan ke daerah luar, seperti NTT,” bebernya.

Dirinya berharap para petani di wilayah Buleleng ada yang berinisiatif mengembangkan secara mandiri, atau dengan dukungan pihak swasta. Dengan demikian, target 25 hektare di Buleleng dapat segera terealisasi.

“Setiap satu hektare lahan yang akan ditanami membutuhkan sekitar 10 kilogram benih. Kalau mau mengembangkan, misalnya dengan didukung CSR untuk membeli benihnya akan sangat bagus. Sehingga akan cepat tercapai, bahkan mungkin bisa 100 hektare,” pungkasnya. 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/