alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Warung Makan Khas Bali yang Tetap Jaga Keaslian Hidangan Lokal Bali

DENPASAR, BALI EXPRESS – Di tengah maraknya tempat makan kekinian, warung makan khas Bali, Men Runtu, tetap konsisten menjaga keaslian hidangan lokalnya. Warung makan yang beralamat di Jalan Sekuta, Sanur, Denpasar Selatan, ini menyediakan berbagai menu rujak dari buah-buahan yang fresh lengkap dengan irisan cabai super melimpah yang menggugah selera.

Ditemui di lokasi Senin (30/8), Pengelola Warung Makan Khas Bali Men Runtu, Yudik Ardian mengatakan, kombinasi bumbu rujak Men Runtu sangat berbeda dari warung makan tradisional lainnya. Untuk menciptakan rasa pedas rujak yang ‘nendang banget’, pihaknya menggunakan cabai super yang dikenal merupakan cabai paling pedas.

Sebelum pandemi, Men Runtu bisa menghabiskan 20 kilogram cabai super dalam seharinya. Namun saat ini, cabai yang dihabiskan hanya sekitar 5 kilogram per hari. “Ini juga lebih sepi semenjak PPKM. Kunjungan biasanya mencapai ratusan dalam sehari, termasuk ojek online (ojol), sekarang sudah mulai menurun,” katanya.

Yudik menjelaskan, warung yang buka sejak tahun 2015 ini, bermula dari warung kecil yang belum begitu dikenal. Pembelinya pun hanya tetangga-tetangga sekitar. Namun Yudik selaku generasi ketiga, memutuskan untuk membuka warung tetap dan mengiklankannya di sosial media. Pasca disebarkan, warung makan khas Bali-nya mendadak ramai bahkan didatangi para artis dan food vlogger. “Artis ke sini nyari rujak kuah pindang, karena di daerah mereka mungkin tidak ada. Kalau food vlogger seperti Magdalena dan Farida Nurhan,” ungkapnya.

Untuk kisaran harganya, mulai dari Rp 1.000 untuk cemilan dan mulai dari Rp 12 ribu untuk rujak. Selain rujak, Men Runtu juga menyediakan makanan lokal seperti tipat cantok, bulung, dan aneka makanan tradisional lainnya dengan tingkat kepedasan yang bisa direquest. Warung ini buka dari pukul 10.00 Wita sampai 19.00 Wita setiap hari.

“Untuk beberapa menu wajib tetap kami pertahankan, tapi yang pasti kami akan terus berinovasi dengan mengeluarkan menu baru setiap tiga bulan sekali,” tuturnya. “Kalau soal kendala, kami kendalanya sangat sulit untuk mempertahankan rasa agar customer tidak komplain. Jadi sebelum dihidangkan, kami selalu tester dulu. Selain itu presentasi harus dijaga, agar foto di media sosial sama dengan tampilan aslinya di lokasi,” imbuhnya.

Semenjak PPKM, Yudik mengaku, pihaknya melakukan banyak penyesuaian. Diantaranya dengan menerapkan protokol kesehatan lebih ketat. Selain itu, pihaknya juga membatasi pengunjung agar tidak terbentuk kerumunan. “Kepada pelanggan kami lebih menganjurkan untuk bungkus,” tandasnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Di tengah maraknya tempat makan kekinian, warung makan khas Bali, Men Runtu, tetap konsisten menjaga keaslian hidangan lokalnya. Warung makan yang beralamat di Jalan Sekuta, Sanur, Denpasar Selatan, ini menyediakan berbagai menu rujak dari buah-buahan yang fresh lengkap dengan irisan cabai super melimpah yang menggugah selera.

Ditemui di lokasi Senin (30/8), Pengelola Warung Makan Khas Bali Men Runtu, Yudik Ardian mengatakan, kombinasi bumbu rujak Men Runtu sangat berbeda dari warung makan tradisional lainnya. Untuk menciptakan rasa pedas rujak yang ‘nendang banget’, pihaknya menggunakan cabai super yang dikenal merupakan cabai paling pedas.

Sebelum pandemi, Men Runtu bisa menghabiskan 20 kilogram cabai super dalam seharinya. Namun saat ini, cabai yang dihabiskan hanya sekitar 5 kilogram per hari. “Ini juga lebih sepi semenjak PPKM. Kunjungan biasanya mencapai ratusan dalam sehari, termasuk ojek online (ojol), sekarang sudah mulai menurun,” katanya.

Yudik menjelaskan, warung yang buka sejak tahun 2015 ini, bermula dari warung kecil yang belum begitu dikenal. Pembelinya pun hanya tetangga-tetangga sekitar. Namun Yudik selaku generasi ketiga, memutuskan untuk membuka warung tetap dan mengiklankannya di sosial media. Pasca disebarkan, warung makan khas Bali-nya mendadak ramai bahkan didatangi para artis dan food vlogger. “Artis ke sini nyari rujak kuah pindang, karena di daerah mereka mungkin tidak ada. Kalau food vlogger seperti Magdalena dan Farida Nurhan,” ungkapnya.

Untuk kisaran harganya, mulai dari Rp 1.000 untuk cemilan dan mulai dari Rp 12 ribu untuk rujak. Selain rujak, Men Runtu juga menyediakan makanan lokal seperti tipat cantok, bulung, dan aneka makanan tradisional lainnya dengan tingkat kepedasan yang bisa direquest. Warung ini buka dari pukul 10.00 Wita sampai 19.00 Wita setiap hari.

“Untuk beberapa menu wajib tetap kami pertahankan, tapi yang pasti kami akan terus berinovasi dengan mengeluarkan menu baru setiap tiga bulan sekali,” tuturnya. “Kalau soal kendala, kami kendalanya sangat sulit untuk mempertahankan rasa agar customer tidak komplain. Jadi sebelum dihidangkan, kami selalu tester dulu. Selain itu presentasi harus dijaga, agar foto di media sosial sama dengan tampilan aslinya di lokasi,” imbuhnya.

Semenjak PPKM, Yudik mengaku, pihaknya melakukan banyak penyesuaian. Diantaranya dengan menerapkan protokol kesehatan lebih ketat. Selain itu, pihaknya juga membatasi pengunjung agar tidak terbentuk kerumunan. “Kepada pelanggan kami lebih menganjurkan untuk bungkus,” tandasnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/