alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Warung D’Teba Jeger Tawarkan Menu Unik Rujak Gurita

DENPASAR, BALI EXPRESS – Olahan rujak dengan berbagai macam buah pasti sudah sangat familier bagi masyarakat Bali. Namun bagaimana jika hewan laut, tepatnya gurita, diolah menjadi rujak dengan perpaduan kombinasi saus Thailand dan Japanese? 

Rujak gurita merupakan salah satu menu unik dari Warung D’Teba Jeger, Denpasar. Selain rujak gurita, warung yang terletak di Jalan Tukad Balian Gang Jeger Nomor 7 ini juga menawarkan berbagai macam kuliner khas Bali. 

Ditemui di lokasi Selasa (31/8), pemilik Warung D’Teba, I Gede Bagus Wibuana Putra mengatakan, terdapat tiga menu rekomendasi yang bisa dicoba di Warung D’Teba. “Menu spesial di sini ada rujak gurita, pork belly sambal matah, dan cincang kambing. Semua menu itu termasuk menu favorit dari kedua cabang kita, ini merupakan outlet kedua kita. Sama peminatnya rata-rata menu tersebut yang paling laris. Menu rujak gurita diadaptasi dari Thailand juga Japanese yang saya buat sausnya homemade. Saya kolaborasikan kedua saus tersebut,” katanya.

Tak hanya tiga olahan itu, berbagai olahan seafood seperti kerang, udang, cumi juga ditawarkan di Warung D’Teba. Ada pula hidangan lawar kambing, cincang kambing dan gulai kambing. Sementara untuk olahan daging babinya juga beragam, mulai dari pork belly sambal matah hingga daging babi cincang. “Jadi varian menunya banyak. Menu di sini Balinese mix western. Tapi dominannya Balinese. Untuk harga start Rp 20 ribu sampai Rp 60 ribu. Kalau untuk rujak guritanya Rp 25 ribu,” kata dia. 

Untuk menu rujak gurita buatannya, mendapat respon baik dari para pembeli. Bahkan tidak sedikit yang datang kembali dan memesan menu yang sama. “Astungkara respon pembeli baik semua bahkan ada yang repeat order. Ada juga yang sudah makan di tempat lalu minta dibungkus juga untuk rujak guritanya. Mereka suka saus homemade-nya makanya saya juga jual dalam bentuk botolan,” ungkapnya. 

Wibuana mengakui terdapat penurunan pengunjung sejak penerapan PPKM. Jika sebelum PPKM perharinya rata-rata kunjungan mencapai 50 orang, saat ini hanya sekitar 40 orang perhari yang mengunjungi tempat makannya. Untuk kedepannya ia akan memproduksi makanan terbaru yakni lawar frozen yang akan dikirim ke Surabaya, Jakarta, pada bulan September mendatang. 

Meski telah memiliki cabang, Wibuana mengaku, perjalanannya sampai membuka usaha kuliner ini terbilang tak mudah. “Tahun 2010 saya buka usaha bengkel modif motor untuk custom juga cat mobil. Berjalannya waktu, karena suka mancing dan ketika mendapatkan ikan, lalu mengolahnya dan mengundang teman-teman dan saudara untuk makan. Disanalah disarankan untuk membuka warung,” kenangnya. 

Sebelumnya, dirinya sendiri memang sempat mengenyam pendidikan perkuliahan jurusan tata boga. Lalu pada tahun 2014 barang-barang bengkelnya sempat dicuri oleh salah satu pegawainya. Hingga akhirnya ia sempat memutuskan membuka usaha warung Twice di Ubud, namun hanya berjalan setahun. Setelah itu ia pun mencoba peruntungan bekerja di hotel.  

“Saya bekerja di salah satu hotel bintang lima. Dilihat bagus caranya masak langsung jadi chef residivi, tugasnya mencari kosting makanan (harga pokok makanan). Lalu di sana terus berkarya di beberapa hotel dan villa hingga jadi head chef,” kata dia. “Setelah itu saya juga mencoba usaha kuliner di rumah, di halaman belakang rumah atau yang biasa disebut ‘di teba’. Makanya warungnya namanya Di’teba, dengan karakter makanannya pedas tapi enak,” sambungnya. 

Dirinya berpesan, untuk masyarakat Bali khususnya yang ingin membuka usaha kuliner agar menonjolkan makanan Bali. “Karena selain kebudayaannya, banyak tamu-tamu luar yang ke Bali untuk mencicipi makanan khas Bali,” tandasnya.(ika)


DENPASAR, BALI EXPRESS – Olahan rujak dengan berbagai macam buah pasti sudah sangat familier bagi masyarakat Bali. Namun bagaimana jika hewan laut, tepatnya gurita, diolah menjadi rujak dengan perpaduan kombinasi saus Thailand dan Japanese? 

Rujak gurita merupakan salah satu menu unik dari Warung D’Teba Jeger, Denpasar. Selain rujak gurita, warung yang terletak di Jalan Tukad Balian Gang Jeger Nomor 7 ini juga menawarkan berbagai macam kuliner khas Bali. 

Ditemui di lokasi Selasa (31/8), pemilik Warung D’Teba, I Gede Bagus Wibuana Putra mengatakan, terdapat tiga menu rekomendasi yang bisa dicoba di Warung D’Teba. “Menu spesial di sini ada rujak gurita, pork belly sambal matah, dan cincang kambing. Semua menu itu termasuk menu favorit dari kedua cabang kita, ini merupakan outlet kedua kita. Sama peminatnya rata-rata menu tersebut yang paling laris. Menu rujak gurita diadaptasi dari Thailand juga Japanese yang saya buat sausnya homemade. Saya kolaborasikan kedua saus tersebut,” katanya.

Tak hanya tiga olahan itu, berbagai olahan seafood seperti kerang, udang, cumi juga ditawarkan di Warung D’Teba. Ada pula hidangan lawar kambing, cincang kambing dan gulai kambing. Sementara untuk olahan daging babinya juga beragam, mulai dari pork belly sambal matah hingga daging babi cincang. “Jadi varian menunya banyak. Menu di sini Balinese mix western. Tapi dominannya Balinese. Untuk harga start Rp 20 ribu sampai Rp 60 ribu. Kalau untuk rujak guritanya Rp 25 ribu,” kata dia. 

Untuk menu rujak gurita buatannya, mendapat respon baik dari para pembeli. Bahkan tidak sedikit yang datang kembali dan memesan menu yang sama. “Astungkara respon pembeli baik semua bahkan ada yang repeat order. Ada juga yang sudah makan di tempat lalu minta dibungkus juga untuk rujak guritanya. Mereka suka saus homemade-nya makanya saya juga jual dalam bentuk botolan,” ungkapnya. 

Wibuana mengakui terdapat penurunan pengunjung sejak penerapan PPKM. Jika sebelum PPKM perharinya rata-rata kunjungan mencapai 50 orang, saat ini hanya sekitar 40 orang perhari yang mengunjungi tempat makannya. Untuk kedepannya ia akan memproduksi makanan terbaru yakni lawar frozen yang akan dikirim ke Surabaya, Jakarta, pada bulan September mendatang. 

Meski telah memiliki cabang, Wibuana mengaku, perjalanannya sampai membuka usaha kuliner ini terbilang tak mudah. “Tahun 2010 saya buka usaha bengkel modif motor untuk custom juga cat mobil. Berjalannya waktu, karena suka mancing dan ketika mendapatkan ikan, lalu mengolahnya dan mengundang teman-teman dan saudara untuk makan. Disanalah disarankan untuk membuka warung,” kenangnya. 

Sebelumnya, dirinya sendiri memang sempat mengenyam pendidikan perkuliahan jurusan tata boga. Lalu pada tahun 2014 barang-barang bengkelnya sempat dicuri oleh salah satu pegawainya. Hingga akhirnya ia sempat memutuskan membuka usaha warung Twice di Ubud, namun hanya berjalan setahun. Setelah itu ia pun mencoba peruntungan bekerja di hotel.  

“Saya bekerja di salah satu hotel bintang lima. Dilihat bagus caranya masak langsung jadi chef residivi, tugasnya mencari kosting makanan (harga pokok makanan). Lalu di sana terus berkarya di beberapa hotel dan villa hingga jadi head chef,” kata dia. “Setelah itu saya juga mencoba usaha kuliner di rumah, di halaman belakang rumah atau yang biasa disebut ‘di teba’. Makanya warungnya namanya Di’teba, dengan karakter makanannya pedas tapi enak,” sambungnya. 

Dirinya berpesan, untuk masyarakat Bali khususnya yang ingin membuka usaha kuliner agar menonjolkan makanan Bali. “Karena selain kebudayaannya, banyak tamu-tamu luar yang ke Bali untuk mencicipi makanan khas Bali,” tandasnya.(ika)


Most Read

Artikel Terbaru

/