26.5 C
Denpasar
Tuesday, February 7, 2023

Sukawiratnata, Perantau dari Bali Bergelar Daeng Nai yang Doyan Tinju

TABANAN, BALI EXPRESS -Sosoknya begitu flamboyan dengan topi cowboy yang menjadi ciri khasnya. Suaranya berat dan tegas. Ceritanya menggebu-gebu kalau bicara soal olahraga tinju. Dia adalah I Wayan Daeng Nai Sukawiratnata, 57.

Pria asal Penebel ini, kini sukses merantau di Takalar, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Bapak Wayan Daeng Nai. Begitu sapaan akrabnya di Takalar. Bisa dibilang dia adalah bapaknya tinju di sana.

Merantau sejak muda ke Sulawesi Selatan, dengan modal nekat ia pergi meninggalkan sanak saudaranya di Dusun Piling, Desa Mangesta, Penebel untuk mengubah hidup.

Saat menetap di sana, ia kemudian dikenalkan dengan dunia tinju. Ia juga malang melintang di beberapa wilayah seperti Makassar, Kabupaten Takalar, Gowa, maupun Jenepento. Wajar saja, ia yang saat SMA selalu pindah-pindah dari Tabanan dan Denpasar, Wayan Sukawiratnata muda memang hobi berkelahi. Karena ‘hobi’ nyelenehnya itu pula ia harus berganti-ganti almamater dan juga mengubah hidupnya 180 derajat.

Setelah puluhan tahun merantau, Wayan Sukawiratnata kemudian membesarkan olahraga tinju. Bahkan putra sulungnya menjadi seorang guru dengan gelar master tinju. Produknya jelas orang-orang lokal Takalar, Gowa, Makassar, maupun Jenepento. Sampai akhirnya ia sekarang memiliki sekolah tinju di Takalar dengan ratusan orang petinju yang siap diorbitkan.

Sasana yang ia dirikan bernama Lipang Bajeng Boxing. Nama ini terinspirasi dengan kisah pejuang pahlawan kemerdekaan di Takalar saat zaman penjajahan.

Lipang Bajeng kemudian tumbuh menjadi sasana besar. Namun, darah Bali nya kemudian bergejolak dan tercetus ingin juga membesarkan dunia olahraga tinju di tanah kelahirannya di Tabanan.

Lewat obrolan santai di warung kopi di sekitar sebuah kampus di Tabanan, Wayan Sukawiratnata bercerita memiliki keinginan besar mendirikan sebuah sasana dengan menggaet petinju lokal Tabanan yang siap diorbitkan. Persis seperti Sasana Lipang Bajeng.

“Saya orang Bali asli. Sempat tercetus dalam hati kenapa saya tidak besarkan tinju di tanah kelahiran saya sendiri. Enam bulan saya konsep pondasi itu. Sekarang memang sudah berdiri sasana, tapi itu baru pondasi. Atletnya baru 20 orang lokal Tabanan dari SD sampai yang sudah kerja,” bebernya.

Sasana itu bernama Ciung Wenara Boxing. Lokasi latihannya di Lapangan Alit Saputra. Sasana ini juga rencana akan berkolaborasi dengan Yayasan Saraswati Tabanan. Bahkan ia memiliki hasrat tinju ini bisa menjadi salah satu ekstra kulikuler di jenjang pendidikan SMP dan SMA.

“Saya ambil nama Ciung Wenara karena terinspirasi dengan kisah perjuangan pahlawan I Gusti Ngurah Rai dalam melawan penjajah,” tegasnya.

“Saya sempat berdialog di SMPN 1 Tabanan, SMAN 1 dan 2 Tabanan. Respon kepala sekolah dan siswanya bagus. Pondasi kini sudah ada, astungkara tahun depan bisa berjalan dengan baik dan lebih terkelola dengan baik. Sasaran saya sudah pasti orang-orang Tabanan. Yang suka tinju, silakan bergabung,” sambungnya.

Tujuan dia hanya satu yakni ingin memunculkan bibit petinju berbakat dan seorang juara yang lahir di Tabanan. Karena out put nantinya akan diserahkan kepada Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) ataupun KONI dalam menjembatani petinju ini berkiprah di event resmi setingkat Porprov ataupun PON. “Baru-baru ini petinju Ciung Wenara Boxing juga sempat tampil di Kejurda Tinju Junior di Denpasar. Hasilnya cukup memuaskan,” katanya.

Itu salah satu gambaran dan cita-cita seorang Wayan Sukawiratnata di dunia tinju. Tapi yang menarik perhatian adalah nama Daeng Nai. Usut punya usut, ternyata nama Daeng Nai ini adalah sebuah gelar yang ia dapatkan tidak secara sembarangan. Orang yang menyandang gelar Daeng Nai ini di Sulawesi Selatan atau khususnya di Takalar sudah dianggap sebagai bagian anggota keluarga kerajaan. Kok bisa?

Wayan Sukawiratnata dianggap telah berjasa mengembangkan budaya dan tradisi di Kabupaten Takalar. Ia bercerita gelar Daeng Nai itu diberikan pada tahun 2008 silam. Hal itu tak lepas karena dedikasinya yang melestarikan seni budaya, mendukung pembangunan serta dunia olahraga di wilayah Kabupaten Takalar.

“Saya diberikan gelar Daeng Nai dari Kerajaan Polombangkeng di Takalar. Diserahkan oleh bupati saat itu dan disaksikan raja-raja lainnya. Di sana tangis haru saya keluar, dan saya merasa sangat dihargai, padahal saya ini perantau,” tandas juragan koran di Makassar ini.

 






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

TABANAN, BALI EXPRESS -Sosoknya begitu flamboyan dengan topi cowboy yang menjadi ciri khasnya. Suaranya berat dan tegas. Ceritanya menggebu-gebu kalau bicara soal olahraga tinju. Dia adalah I Wayan Daeng Nai Sukawiratnata, 57.

Pria asal Penebel ini, kini sukses merantau di Takalar, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Bapak Wayan Daeng Nai. Begitu sapaan akrabnya di Takalar. Bisa dibilang dia adalah bapaknya tinju di sana.

Merantau sejak muda ke Sulawesi Selatan, dengan modal nekat ia pergi meninggalkan sanak saudaranya di Dusun Piling, Desa Mangesta, Penebel untuk mengubah hidup.

Saat menetap di sana, ia kemudian dikenalkan dengan dunia tinju. Ia juga malang melintang di beberapa wilayah seperti Makassar, Kabupaten Takalar, Gowa, maupun Jenepento. Wajar saja, ia yang saat SMA selalu pindah-pindah dari Tabanan dan Denpasar, Wayan Sukawiratnata muda memang hobi berkelahi. Karena ‘hobi’ nyelenehnya itu pula ia harus berganti-ganti almamater dan juga mengubah hidupnya 180 derajat.

Setelah puluhan tahun merantau, Wayan Sukawiratnata kemudian membesarkan olahraga tinju. Bahkan putra sulungnya menjadi seorang guru dengan gelar master tinju. Produknya jelas orang-orang lokal Takalar, Gowa, Makassar, maupun Jenepento. Sampai akhirnya ia sekarang memiliki sekolah tinju di Takalar dengan ratusan orang petinju yang siap diorbitkan.

Sasana yang ia dirikan bernama Lipang Bajeng Boxing. Nama ini terinspirasi dengan kisah pejuang pahlawan kemerdekaan di Takalar saat zaman penjajahan.

Lipang Bajeng kemudian tumbuh menjadi sasana besar. Namun, darah Bali nya kemudian bergejolak dan tercetus ingin juga membesarkan dunia olahraga tinju di tanah kelahirannya di Tabanan.

Lewat obrolan santai di warung kopi di sekitar sebuah kampus di Tabanan, Wayan Sukawiratnata bercerita memiliki keinginan besar mendirikan sebuah sasana dengan menggaet petinju lokal Tabanan yang siap diorbitkan. Persis seperti Sasana Lipang Bajeng.

“Saya orang Bali asli. Sempat tercetus dalam hati kenapa saya tidak besarkan tinju di tanah kelahiran saya sendiri. Enam bulan saya konsep pondasi itu. Sekarang memang sudah berdiri sasana, tapi itu baru pondasi. Atletnya baru 20 orang lokal Tabanan dari SD sampai yang sudah kerja,” bebernya.

Sasana itu bernama Ciung Wenara Boxing. Lokasi latihannya di Lapangan Alit Saputra. Sasana ini juga rencana akan berkolaborasi dengan Yayasan Saraswati Tabanan. Bahkan ia memiliki hasrat tinju ini bisa menjadi salah satu ekstra kulikuler di jenjang pendidikan SMP dan SMA.

“Saya ambil nama Ciung Wenara karena terinspirasi dengan kisah perjuangan pahlawan I Gusti Ngurah Rai dalam melawan penjajah,” tegasnya.

“Saya sempat berdialog di SMPN 1 Tabanan, SMAN 1 dan 2 Tabanan. Respon kepala sekolah dan siswanya bagus. Pondasi kini sudah ada, astungkara tahun depan bisa berjalan dengan baik dan lebih terkelola dengan baik. Sasaran saya sudah pasti orang-orang Tabanan. Yang suka tinju, silakan bergabung,” sambungnya.

Tujuan dia hanya satu yakni ingin memunculkan bibit petinju berbakat dan seorang juara yang lahir di Tabanan. Karena out put nantinya akan diserahkan kepada Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) ataupun KONI dalam menjembatani petinju ini berkiprah di event resmi setingkat Porprov ataupun PON. “Baru-baru ini petinju Ciung Wenara Boxing juga sempat tampil di Kejurda Tinju Junior di Denpasar. Hasilnya cukup memuaskan,” katanya.

Itu salah satu gambaran dan cita-cita seorang Wayan Sukawiratnata di dunia tinju. Tapi yang menarik perhatian adalah nama Daeng Nai. Usut punya usut, ternyata nama Daeng Nai ini adalah sebuah gelar yang ia dapatkan tidak secara sembarangan. Orang yang menyandang gelar Daeng Nai ini di Sulawesi Selatan atau khususnya di Takalar sudah dianggap sebagai bagian anggota keluarga kerajaan. Kok bisa?

Wayan Sukawiratnata dianggap telah berjasa mengembangkan budaya dan tradisi di Kabupaten Takalar. Ia bercerita gelar Daeng Nai itu diberikan pada tahun 2008 silam. Hal itu tak lepas karena dedikasinya yang melestarikan seni budaya, mendukung pembangunan serta dunia olahraga di wilayah Kabupaten Takalar.

“Saya diberikan gelar Daeng Nai dari Kerajaan Polombangkeng di Takalar. Diserahkan oleh bupati saat itu dan disaksikan raja-raja lainnya. Di sana tangis haru saya keluar, dan saya merasa sangat dihargai, padahal saya ini perantau,” tandas juragan koran di Makassar ini.

 






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

Most Read

Artikel Terbaru