alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Tak Pintar Merawat, Santoso Beri Solusi dengan Perennial Bonsai

BULELENG, BALI EXPRESS-Seorang mahasiswa Undiksa, Singaraja memiliki usaha kreatif di kosnya di Kelurahan Penarukan, Buleleng. Tri Budi Santoso, mahasiswa semester IV Teknik Mesin ini, mengembangkan sebuah hiasan ruang yang indah dengan membuat Perennial bonsai atau bonsai dari kawat.

Kegemaran Santoso terhadap bonsai ini memunculkan ide baru. Pria dari Desa Pesanggaran, Banyuwangi ini berusaha memenuhi hasrat penyuka bonsai, namun tak bisa merawatnya. Bonsai kawat ini adalah solusi yang ditawarkan Santoso.

Bagi Santoso, bonsai kawat dengan bebagai bentuk ini didesain dengan ukuran mini. Keahliannya menekuk dan melilit kawat tak diragukan lagi. Hasilnya mirip bonsai hidup. Bentuknya pun hampir mirip. Hanya saja sedikit berkilau karena terbuat dari kawat.

“Saya buat bonsai tiruan ini untuk orang-orang yang gak bisa rawat bonsai. Jadi mereka punya untuk menghias ruangan. Tidak perlu dirawat berlebihan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dirumahkan, Garap Kuliner Kakul, Olah Menjadi Lima Jenis Menu Lezat

“Tidak butuh disiram, pupuk, dan dicek setiap saat. Paling di lap saja kalau berdebu. Jadi orang yang gak bisa rawat bonsai tapi ingin punya bonsai, ini solusinya,” terangnya.

Bonsai berbahan kawat (aluminium wire) yang dibuatnya itu diturunkan dari hobi membuat bonsai hidup. Lalu ia mencoba-coba merepresentasikan bentuk bonsai hidup dengan menggunakan kawat bekas yang tersisa di rumahnya. Selain itu, ide kreatif membuat bonsai kawat ini juga muncul lantaran tugas kampus yang ia kerjakan.

Selama berproses mengerjakan tugas kampus dengan memanfaatkan kawat bekas, Santoso iseng mengunggah hasilnya di media sosial. Tak disangka, ketertarikan terhadap bonsai kawat itu cukup tinggi.

Tak ingin menyia-nyiakan peluang, Santoso pun dengan sigap memanfaatkan kesempatan tersebut. “Pas buat ini, sempat posting dan ada yang minat. Lalu saya ambil peluang itu untuk kemudian saya bisniskan. Padahal ini adalah tugas kampus,” tambahnya.

Baca Juga :  Jadi Dosen Bergelar Doktor, I Ketut Wiriawan Enggan Berhenti Jadi Nelayan

Untuk membuat satu buah perennial bonsai, Santoso hanya membutuhkan waktu satu hari saja. Namun bila bahan yang digunaka belum tersedia, waktu untuk menggarap satu miniatur bonsai itu hampir 5 hari. “Kalau bahannya sudah ada jadinya cepat. Kalau bahannya ga ada, mesti beli ke toko dulu, pesan bahan lain dulu. Paling lama 5 hari selesai,” kata dia.

Saat ini Santoso mengembangkan perennial bonsai ini tidak sendirian. Ia ditemani rekannya Ni Nyoman Swandewi, Ni Luh Gede Nanda Arini, Gede Agus Idrawan dan Ngurah Yogi Wicaksana. Mereka tergabung dalam kelompok mahasiswa penerima KIP-K untuk merintis usaha itu.

 






Reporter: Dian Suryantini

BULELENG, BALI EXPRESS-Seorang mahasiswa Undiksa, Singaraja memiliki usaha kreatif di kosnya di Kelurahan Penarukan, Buleleng. Tri Budi Santoso, mahasiswa semester IV Teknik Mesin ini, mengembangkan sebuah hiasan ruang yang indah dengan membuat Perennial bonsai atau bonsai dari kawat.

Kegemaran Santoso terhadap bonsai ini memunculkan ide baru. Pria dari Desa Pesanggaran, Banyuwangi ini berusaha memenuhi hasrat penyuka bonsai, namun tak bisa merawatnya. Bonsai kawat ini adalah solusi yang ditawarkan Santoso.

Bagi Santoso, bonsai kawat dengan bebagai bentuk ini didesain dengan ukuran mini. Keahliannya menekuk dan melilit kawat tak diragukan lagi. Hasilnya mirip bonsai hidup. Bentuknya pun hampir mirip. Hanya saja sedikit berkilau karena terbuat dari kawat.

“Saya buat bonsai tiruan ini untuk orang-orang yang gak bisa rawat bonsai. Jadi mereka punya untuk menghias ruangan. Tidak perlu dirawat berlebihan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kelapa Bakar Rempah, Minuman Herbal Penambah Imun

“Tidak butuh disiram, pupuk, dan dicek setiap saat. Paling di lap saja kalau berdebu. Jadi orang yang gak bisa rawat bonsai tapi ingin punya bonsai, ini solusinya,” terangnya.

Bonsai berbahan kawat (aluminium wire) yang dibuatnya itu diturunkan dari hobi membuat bonsai hidup. Lalu ia mencoba-coba merepresentasikan bentuk bonsai hidup dengan menggunakan kawat bekas yang tersisa di rumahnya. Selain itu, ide kreatif membuat bonsai kawat ini juga muncul lantaran tugas kampus yang ia kerjakan.

Selama berproses mengerjakan tugas kampus dengan memanfaatkan kawat bekas, Santoso iseng mengunggah hasilnya di media sosial. Tak disangka, ketertarikan terhadap bonsai kawat itu cukup tinggi.

Tak ingin menyia-nyiakan peluang, Santoso pun dengan sigap memanfaatkan kesempatan tersebut. “Pas buat ini, sempat posting dan ada yang minat. Lalu saya ambil peluang itu untuk kemudian saya bisniskan. Padahal ini adalah tugas kampus,” tambahnya.

Baca Juga :  Bayi yang Dilahirkan ODGJ di Toilet Diserahkan kepada Dinas Sosial

Untuk membuat satu buah perennial bonsai, Santoso hanya membutuhkan waktu satu hari saja. Namun bila bahan yang digunaka belum tersedia, waktu untuk menggarap satu miniatur bonsai itu hampir 5 hari. “Kalau bahannya sudah ada jadinya cepat. Kalau bahannya ga ada, mesti beli ke toko dulu, pesan bahan lain dulu. Paling lama 5 hari selesai,” kata dia.

Saat ini Santoso mengembangkan perennial bonsai ini tidak sendirian. Ia ditemani rekannya Ni Nyoman Swandewi, Ni Luh Gede Nanda Arini, Gede Agus Idrawan dan Ngurah Yogi Wicaksana. Mereka tergabung dalam kelompok mahasiswa penerima KIP-K untuk merintis usaha itu.

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/