alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Mundur Jadi PNS, Dharma Memilih Fokus Usaha Babi Guling di Rantauan

YOGYAKARTA, BALI EXPRESS – Gede Dharma sudah 27 tahun tinggal di Yogyakarta. Ia menetap bersama istrinya Prihatin Nur Setiowati di kawasan Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Bantul.

Kini ia disibukkan dengan usaha kuliner yang dirintisnya sejak tahun 2000 silam. Usaha kuliner Nasi Babi Guling itu disambut baik di lingkungan Banguntapan. Lokasinya dekat dengan Pura Jagatnatha Banguntapan.

Warga di sekitar juga lebih banyak umat hindu dan nasrani, sehingga sangat mendukung usaha yang dilakoninya. Dahulu, usaha itu dirintis bersama tiga orang lainnya, seorang teman dari Seririt, Bukit Pecatu, dan adiknya. Mereka berempat lantas dengan serius menggarap usaha itu.

Seiring berjalannya waktu, usahanya berkembang. Namun kini usaha itu telah dijalankannya secara mandiri, sementara rekan lainnya memutuskan untuk beralih.

Sebelum membuka usaha, Gede Dharma merantau ke Yogyakarta untuk kuliah di jurusan Teknik Komputer. Untuk menambah penghasilan, ia pun membuka kursus komputer. Pendapatan dari kursus itu dirasa tidak cukup. Terlebih ia telah berkeluarga. “Dahulu awalnya hanya nasi campur biasa untuk menambah penghasilan. Saya kelola bersama istri,” kata dia.

Baca Juga :  Satu-satunya Guru, tanpa Kepala Sekolah, Tiap Hari Tempuh 100 Km

Perlahan usahanya berkembang pesat. Kemudian ia menambah menu Nasi Babi Guling. Tak disangka menu baru itu direspon baik konsumen. Tak tangung-tanggung dalam seminggu ia menghabiskan 200 kilogram daging babi dan 3 ekor babi untuk babi guling. Kini ia mempekerjakan 15 orang karyawan. “Kalau dahulu seminggu sampai 4 babi guling,” singkatnya.

Setelah usahanya berjalan mulus, Alumni SMA Negeri 2 Singaraja ini lantas lolos sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Ia kemudian mengajar pelajaran TIK di SMPN 1 Piyungan, Bantul pada tahun 2009. Namun, pada tahun 2016 lalu, ia memilih mengundurkan diri menjadi PNS. Keputusan besar itu ia pilih demi bisa fokus pada usahanya.

“Setelah buka usaha itu saya keterima jadi PNS. Saya coba jalani dua-duanya ternyata saya tidak bisa. Saya tidak bisa fokus jadi guru, usaha saya juga tidak fokus saya jalani. Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan usaha saja,” terangnya.

Baca Juga :  Sarat Filosofi, Bhineka Muda Sediakan Menu Bali “Megibung”

Pria asal Banjar Dinas Tabang, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan itu pun dengan jujur mempromosikan usaha kuliner B2 tersebut. Dengan lantang ia suarakan usahanya bukan untuk umum. Perlahan namun pasti, gerai babi guling dengan nama Bima Kroda itu telah dikenal di kalangan masyarakat Yogyakarta.

Selain Gede Dharma, usaha kuliner Babi Guling atau diistilahkan dengan B2 juga dibuka oleh Ni Luh Armini dari Jembrana. Usaha itu adalah warisan neneknya. Di Jembrana keluarga Armini juga terkenal dengan Nasi Babi Gulingnya. Di gerainya, Basi Babi Guling disajikan dengan ciri khas kulit babi guling yang jumbo. “Saya juga dahulu kuliah disini dan akhirnya menikah disini. Usaha ini dahulu juga dijual nenek,” kata dia.

Armini juga menghabiskan 3 ekor babi untuk bahan babi guling. Usaha kuliner Armini tergolong sukses. Ia juga telah membuka cabang di beberapa kota besar. “Saya buka beberapa gerai di beberapa kota. Kalau sekarang fokus di sini saja,” kata dia.

 






Reporter: Dian Suryantini

YOGYAKARTA, BALI EXPRESS – Gede Dharma sudah 27 tahun tinggal di Yogyakarta. Ia menetap bersama istrinya Prihatin Nur Setiowati di kawasan Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Bantul.

Kini ia disibukkan dengan usaha kuliner yang dirintisnya sejak tahun 2000 silam. Usaha kuliner Nasi Babi Guling itu disambut baik di lingkungan Banguntapan. Lokasinya dekat dengan Pura Jagatnatha Banguntapan.

Warga di sekitar juga lebih banyak umat hindu dan nasrani, sehingga sangat mendukung usaha yang dilakoninya. Dahulu, usaha itu dirintis bersama tiga orang lainnya, seorang teman dari Seririt, Bukit Pecatu, dan adiknya. Mereka berempat lantas dengan serius menggarap usaha itu.

Seiring berjalannya waktu, usahanya berkembang. Namun kini usaha itu telah dijalankannya secara mandiri, sementara rekan lainnya memutuskan untuk beralih.

Sebelum membuka usaha, Gede Dharma merantau ke Yogyakarta untuk kuliah di jurusan Teknik Komputer. Untuk menambah penghasilan, ia pun membuka kursus komputer. Pendapatan dari kursus itu dirasa tidak cukup. Terlebih ia telah berkeluarga. “Dahulu awalnya hanya nasi campur biasa untuk menambah penghasilan. Saya kelola bersama istri,” kata dia.

Baca Juga :  Sarat Filosofi, Bhineka Muda Sediakan Menu Bali “Megibung”

Perlahan usahanya berkembang pesat. Kemudian ia menambah menu Nasi Babi Guling. Tak disangka menu baru itu direspon baik konsumen. Tak tangung-tanggung dalam seminggu ia menghabiskan 200 kilogram daging babi dan 3 ekor babi untuk babi guling. Kini ia mempekerjakan 15 orang karyawan. “Kalau dahulu seminggu sampai 4 babi guling,” singkatnya.

Setelah usahanya berjalan mulus, Alumni SMA Negeri 2 Singaraja ini lantas lolos sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Ia kemudian mengajar pelajaran TIK di SMPN 1 Piyungan, Bantul pada tahun 2009. Namun, pada tahun 2016 lalu, ia memilih mengundurkan diri menjadi PNS. Keputusan besar itu ia pilih demi bisa fokus pada usahanya.

“Setelah buka usaha itu saya keterima jadi PNS. Saya coba jalani dua-duanya ternyata saya tidak bisa. Saya tidak bisa fokus jadi guru, usaha saya juga tidak fokus saya jalani. Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan usaha saja,” terangnya.

Baca Juga :  Orang Bali Berubah Jadi Orang yang Lahir di Bali

Pria asal Banjar Dinas Tabang, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan itu pun dengan jujur mempromosikan usaha kuliner B2 tersebut. Dengan lantang ia suarakan usahanya bukan untuk umum. Perlahan namun pasti, gerai babi guling dengan nama Bima Kroda itu telah dikenal di kalangan masyarakat Yogyakarta.

Selain Gede Dharma, usaha kuliner Babi Guling atau diistilahkan dengan B2 juga dibuka oleh Ni Luh Armini dari Jembrana. Usaha itu adalah warisan neneknya. Di Jembrana keluarga Armini juga terkenal dengan Nasi Babi Gulingnya. Di gerainya, Basi Babi Guling disajikan dengan ciri khas kulit babi guling yang jumbo. “Saya juga dahulu kuliah disini dan akhirnya menikah disini. Usaha ini dahulu juga dijual nenek,” kata dia.

Armini juga menghabiskan 3 ekor babi untuk bahan babi guling. Usaha kuliner Armini tergolong sukses. Ia juga telah membuka cabang di beberapa kota besar. “Saya buka beberapa gerai di beberapa kota. Kalau sekarang fokus di sini saja,” kata dia.

 






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/