alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Bebas dari Gangguan Kuntilanak setelah Ritual Buang Boneka ke Kali

Kondisi buah hati yang sakit-sakitan, sering menangis, dan lambat berjalan sempat membuat Arima minder. Secara medis, tak ada gangguan apa-apa. Namun, ketika dia meminta bantuan praktisi spiritual, ternyata anak perempuannya diganggu kuntilanak.

KEINGINAN Arima untuk hidup bersama suami melalui jalan terjal dan berliku. Bukan saja soal orang tuanya yang amat sayang dan cenderung nggandoli. Dia juga mendapat ujian dari buah hatinya yang ternyata belum siap untuk berpindah tempat ke luar kota.

Arima lahir di Ponorogo. Kehidupannya lebih banyak dihabiskan di kota kelahirannya. Bahkan hingga anak pertamanya lahir, dia tak pernah pergi jauh dari rumah orang tuanya. ’’Saat baru lahir, anak saya begitu lucu dan ceria. Aktif sekali,’’ kata Arima mengawali ceritanya.

Kepada Jawa Pos, perempuan yang kos di Kelurahan Sepanjang itu bercerita soal pengalamannya saat pertama menghuni rumah kontrakan. ’’Itu pengalaman penting. Saya masih sering ketakutan mengingatnya,’’ ungkap Arima, lantas menangis.

Saat pertama masuk ’’rumah barunya’’, Arima sama sekali tak pernah memiliki firasat apa-apa. Hidupnya terasa nyaman. Dia merasa senang karena bisa berkumpul bersama suaminya.

Namun belakangan, perempuan yang lahir pada Agustus 1992 itu mulai menyadari ada keanehan pada putrinya, Tara. Anaknya yang berumur dua tahun tampak sulit beraktivitas. Dia belum bisa berjalan seperti anak pada umumnya.

Arima tampak kebingungan. Sebab, perkembangan anaknya benar-benar lamban. ’’Selain sulit berjalan, anak saya tampak ketakutan. Dia sama sekali tak ingin menginjak tanah,’’ kata Arima. Kegelisahan perempuan yang hobi memasak itu terus bertambah melihat kondisi anaknya. Tara seakan tak pernah tidur nyenyak. Setiap hari bocah itu selalu menangis saat malam. Dia berteriak-teriak.

’’Saya dan suami seakan tersiksa saat malam. Anak saya selalu menangis keras,’’ ungkap Arima. Dia semakin gelisah seusai mendengar kata-kata tetangga. Kata mereka, Tara mengalami kelainan. Diperlukan pemeriksaan dokter agar diketahui jelas penyakitnya. Arima pun sempat menuruti omongan tetangga. Tara sempat dibawa ke dokter spesialis anak. Dia juga sempat diperiksakan ke dokter gizi. Namun, tak ada masalah.

Ada satu tetangga yang lantas mengarahkannya untuk pergi ke paranormal. Dia menunjukkan ada seorang Bu ’’Nyai’’ yang bisa melihat kondisi anak dari mata batinnya. Tara pun dibawa ke rumah Bu Nyai. ’’Pengalaman pertama bertemu Bu Nyai merupakan hal yang paling dramatis dalam hidup saya. Hingga kini, saya masih mengingatnya,’’ kata Arima.

Dia menjelaskan bahwa Bu Nyai langsung memeriksa kondisi Tara. Dalam sebuah ritual, Bu Nyai memegang kepala Tara dan melihat keadaan bocah perempuan tersebut. ’’Ih…ih…ih…ih…ih’’. Rintihan Bu Nyai yang kesurupan membuat Arima dan suami ketakutan. Dia menangis dan bingung dengan perilaku Bu Nyai. Namun, Arima mencoba tegar. Dia ingin mengetahui cerita utuhnya.

Setelah selesai ritual, Bu Nyai bercerita bahwa Tara memang diganggu makhluk gaib. Semacam kuntilanak. Dia terus diikuti makhluk tersebut. Menurut dia, keberadaan makhluk itulah yang mengganggu perkembangan Tara.

’’Saya pun bertanya soal solusinya. Saya ingin Tara segera sehat,’’ kata Arima. Bu Nyai menyebut bahwa Tara harus melakukan terapi rutin. Dia diwajibkan datang ke rumah untuk menjalani pengobatan. Tidak hanya itu. Bu Nyai menyuruh Arima mencari satu boneka perempuan yang cantik. Boneka itu akan dipakai untuk menjauhkan Tara dari makhluk halus.

Menurut Bu Nyai, kuntilanak menganggap Tara sebagai anaknya. Dia amat mencintainya. Perlu boneka untuk menggantikan posisi Tara. ’’Boneka harus dibuang ke Kali Jambangan dengan tangan kiri,’’ kata Arima menirukan ucapan Bu Nyai.

Tak menunggu sampai lama, suami Arima pun mencari boneka sesuai dengan pesanan. Boneka itu lantas diserahkan kepada Bu Nyai. Seusai ritual, boneka tersebut lalu dibuang ke Kali Jambangan sesuai dengan arahan Bu Nyai. Arima menyatakan bahwa sejak saat itu, kondisi anaknya terus membaik. Tara bisa berjalan dan semakin sehat. ’’Sejak saat itu, kami memperbanyak zikir dan doa di rumah,’’ pungkas Arima.


Kondisi buah hati yang sakit-sakitan, sering menangis, dan lambat berjalan sempat membuat Arima minder. Secara medis, tak ada gangguan apa-apa. Namun, ketika dia meminta bantuan praktisi spiritual, ternyata anak perempuannya diganggu kuntilanak.

KEINGINAN Arima untuk hidup bersama suami melalui jalan terjal dan berliku. Bukan saja soal orang tuanya yang amat sayang dan cenderung nggandoli. Dia juga mendapat ujian dari buah hatinya yang ternyata belum siap untuk berpindah tempat ke luar kota.

Arima lahir di Ponorogo. Kehidupannya lebih banyak dihabiskan di kota kelahirannya. Bahkan hingga anak pertamanya lahir, dia tak pernah pergi jauh dari rumah orang tuanya. ’’Saat baru lahir, anak saya begitu lucu dan ceria. Aktif sekali,’’ kata Arima mengawali ceritanya.

Kepada Jawa Pos, perempuan yang kos di Kelurahan Sepanjang itu bercerita soal pengalamannya saat pertama menghuni rumah kontrakan. ’’Itu pengalaman penting. Saya masih sering ketakutan mengingatnya,’’ ungkap Arima, lantas menangis.

Saat pertama masuk ’’rumah barunya’’, Arima sama sekali tak pernah memiliki firasat apa-apa. Hidupnya terasa nyaman. Dia merasa senang karena bisa berkumpul bersama suaminya.

Namun belakangan, perempuan yang lahir pada Agustus 1992 itu mulai menyadari ada keanehan pada putrinya, Tara. Anaknya yang berumur dua tahun tampak sulit beraktivitas. Dia belum bisa berjalan seperti anak pada umumnya.

Arima tampak kebingungan. Sebab, perkembangan anaknya benar-benar lamban. ’’Selain sulit berjalan, anak saya tampak ketakutan. Dia sama sekali tak ingin menginjak tanah,’’ kata Arima. Kegelisahan perempuan yang hobi memasak itu terus bertambah melihat kondisi anaknya. Tara seakan tak pernah tidur nyenyak. Setiap hari bocah itu selalu menangis saat malam. Dia berteriak-teriak.

’’Saya dan suami seakan tersiksa saat malam. Anak saya selalu menangis keras,’’ ungkap Arima. Dia semakin gelisah seusai mendengar kata-kata tetangga. Kata mereka, Tara mengalami kelainan. Diperlukan pemeriksaan dokter agar diketahui jelas penyakitnya. Arima pun sempat menuruti omongan tetangga. Tara sempat dibawa ke dokter spesialis anak. Dia juga sempat diperiksakan ke dokter gizi. Namun, tak ada masalah.

Ada satu tetangga yang lantas mengarahkannya untuk pergi ke paranormal. Dia menunjukkan ada seorang Bu ’’Nyai’’ yang bisa melihat kondisi anak dari mata batinnya. Tara pun dibawa ke rumah Bu Nyai. ’’Pengalaman pertama bertemu Bu Nyai merupakan hal yang paling dramatis dalam hidup saya. Hingga kini, saya masih mengingatnya,’’ kata Arima.

Dia menjelaskan bahwa Bu Nyai langsung memeriksa kondisi Tara. Dalam sebuah ritual, Bu Nyai memegang kepala Tara dan melihat keadaan bocah perempuan tersebut. ’’Ih…ih…ih…ih…ih’’. Rintihan Bu Nyai yang kesurupan membuat Arima dan suami ketakutan. Dia menangis dan bingung dengan perilaku Bu Nyai. Namun, Arima mencoba tegar. Dia ingin mengetahui cerita utuhnya.

Setelah selesai ritual, Bu Nyai bercerita bahwa Tara memang diganggu makhluk gaib. Semacam kuntilanak. Dia terus diikuti makhluk tersebut. Menurut dia, keberadaan makhluk itulah yang mengganggu perkembangan Tara.

’’Saya pun bertanya soal solusinya. Saya ingin Tara segera sehat,’’ kata Arima. Bu Nyai menyebut bahwa Tara harus melakukan terapi rutin. Dia diwajibkan datang ke rumah untuk menjalani pengobatan. Tidak hanya itu. Bu Nyai menyuruh Arima mencari satu boneka perempuan yang cantik. Boneka itu akan dipakai untuk menjauhkan Tara dari makhluk halus.

Menurut Bu Nyai, kuntilanak menganggap Tara sebagai anaknya. Dia amat mencintainya. Perlu boneka untuk menggantikan posisi Tara. ’’Boneka harus dibuang ke Kali Jambangan dengan tangan kiri,’’ kata Arima menirukan ucapan Bu Nyai.

Tak menunggu sampai lama, suami Arima pun mencari boneka sesuai dengan pesanan. Boneka itu lantas diserahkan kepada Bu Nyai. Seusai ritual, boneka tersebut lalu dibuang ke Kali Jambangan sesuai dengan arahan Bu Nyai. Arima menyatakan bahwa sejak saat itu, kondisi anaknya terus membaik. Tara bisa berjalan dan semakin sehat. ’’Sejak saat itu, kami memperbanyak zikir dan doa di rumah,’’ pungkas Arima.


Most Read

Artikel Terbaru

/