alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Kagumi Kang Emil, Gadis Bali Sepekan Jadi Ajudan Milenial Gubernur

AMLAPURA,BALI EXPRESS – Mendampingi pejabat sekelas gubernur tidak bisa dilakukan sembarang orang. Tentu harus melalui berbagai seleksi dan tahapan khusus agar bisa terpilih jadi ajudan.

Gubernur Jawa Barat (Jabar), Mochamad Ridwan Kamil, menantang anak muda untuk memberikan posisi ajudan lewat program Ajudan Milenial Gubernur Jawa Barat bagi anak muda di seluruh Indonesia untuk mendampinginya.

Nantinya, anak-anak yang lolos dalam program tersebut berkesempatan menjadi ajudan Gubernur Jawa Barat masing-masing selama satu minggu atau sepekan.

Sebelum bisa mendampingi gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini, anak muda yang mendaftar lebih dulu diseleksi dan mengikuti tes khusus yang telah ditentukan. Dari ribuan anak muda yang mendaftar, nantinya akan dipilih sebanyak 30 orang yang bisa menjadi Ajudan Milenial dari Gubernur Jawa Barat tersebut.

Setelah melewati berbagai proses, ternyata dari 30 nama yang lolos itu, terdapat satu nama yang berasal dari Bali, yakni I Gusti Ayu Dwi Payani, anak muda yang tinggal di Kertasari, Kelurahan Padangkerta, Karangasem. Ia adalah satu-satunya pendaftar dan yang lolos seleksi berasal dari Pulau Dewata.

Saat ditemui di sela-sela kesibukannya sebagai pelajar di SMA Bali Mandara, siswi kelas 2 SMA tersebut menceritakan, ikut dalam program tersebut dilakukan secara coba-coba. Bahkan, ia tidak menyangka bisa terpilih sebagai ajudan Gubernur Jabar.

“Waktu itu seperti tidak mungkin bisa lolos, karena saya masih kelas 2 SMA, sedangkan yang ikut itu kan 5 ribu orang dari seluruh Indonesia,” ujarnya, Selasa (3/5).

Selama mengikuti program tersebut, ia harus cuti dari sekolahnya karena harus menjalankan tugas sebagai ajudan orang nomor satu di Jabar.

Meskipun mengetahui akan tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah untuk beberapa pekan, tetapi ia sangat senang bisa mendampingi secara langsung Ridwan Kamil. “Bisa belajar kepemimpinan dari beliau. Kami pun merasa terbimbing disana,” lanjutnya.

Dalam menjalankan tugasnya, karena suasana sedang menjalankan ibadah puasa, ia harus bangun subuh untuk mengingatkan Kang Emil jadwal-jadwal kegiatannya. Bahkan ia mengaku mengikuti untuk melakukan puasa.

“Karena saya anak Bali kan tidak puasa, tetapi saya tetap ikut puasa, tapi kadang saya makan (camilan) juga, artinya tidak makan, tapi minum tetap,” imbuhnya.

Dara cantik empat bersaudara tersebut menyampaikan, semasa jadi ajudan banyak wejangan dan pesan diberikan langsung oleh pejabat berkacamata tersebut. Mulai dari rasa tanggung jawab, mengayomi masyarakat, mewujudkan cita-cita, dan lain sebagainya. “Saya pun mengimplementasikan sekarang, karena memang benar seperti itu,” kata perempuan yang bercita-cita menjadi Akpol tersebut.

Banyak hal yang ia kagumi dari pemimpin Jabar tersebut, seperti kedekatannya dengan masyarakat, cara bersosialisasi, dan melayani masyarakatnya.

Kini, Dwi Payani telah purna tugas dan sudah kembali ke Bali. Gilirannya kini melengkapi tugas sekolahnya yang sempat tertinggal karena menjalankan tugas sebagai ajudan. “Sekarang saya harus buat tugas dulu sebelum kembali pembelajaran tatap muka,” pungkasnya. (adi prabawa)

 


AMLAPURA,BALI EXPRESS – Mendampingi pejabat sekelas gubernur tidak bisa dilakukan sembarang orang. Tentu harus melalui berbagai seleksi dan tahapan khusus agar bisa terpilih jadi ajudan.

Gubernur Jawa Barat (Jabar), Mochamad Ridwan Kamil, menantang anak muda untuk memberikan posisi ajudan lewat program Ajudan Milenial Gubernur Jawa Barat bagi anak muda di seluruh Indonesia untuk mendampinginya.

Nantinya, anak-anak yang lolos dalam program tersebut berkesempatan menjadi ajudan Gubernur Jawa Barat masing-masing selama satu minggu atau sepekan.

Sebelum bisa mendampingi gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini, anak muda yang mendaftar lebih dulu diseleksi dan mengikuti tes khusus yang telah ditentukan. Dari ribuan anak muda yang mendaftar, nantinya akan dipilih sebanyak 30 orang yang bisa menjadi Ajudan Milenial dari Gubernur Jawa Barat tersebut.

Setelah melewati berbagai proses, ternyata dari 30 nama yang lolos itu, terdapat satu nama yang berasal dari Bali, yakni I Gusti Ayu Dwi Payani, anak muda yang tinggal di Kertasari, Kelurahan Padangkerta, Karangasem. Ia adalah satu-satunya pendaftar dan yang lolos seleksi berasal dari Pulau Dewata.

Saat ditemui di sela-sela kesibukannya sebagai pelajar di SMA Bali Mandara, siswi kelas 2 SMA tersebut menceritakan, ikut dalam program tersebut dilakukan secara coba-coba. Bahkan, ia tidak menyangka bisa terpilih sebagai ajudan Gubernur Jabar.

“Waktu itu seperti tidak mungkin bisa lolos, karena saya masih kelas 2 SMA, sedangkan yang ikut itu kan 5 ribu orang dari seluruh Indonesia,” ujarnya, Selasa (3/5).

Selama mengikuti program tersebut, ia harus cuti dari sekolahnya karena harus menjalankan tugas sebagai ajudan orang nomor satu di Jabar.

Meskipun mengetahui akan tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah untuk beberapa pekan, tetapi ia sangat senang bisa mendampingi secara langsung Ridwan Kamil. “Bisa belajar kepemimpinan dari beliau. Kami pun merasa terbimbing disana,” lanjutnya.

Dalam menjalankan tugasnya, karena suasana sedang menjalankan ibadah puasa, ia harus bangun subuh untuk mengingatkan Kang Emil jadwal-jadwal kegiatannya. Bahkan ia mengaku mengikuti untuk melakukan puasa.

“Karena saya anak Bali kan tidak puasa, tetapi saya tetap ikut puasa, tapi kadang saya makan (camilan) juga, artinya tidak makan, tapi minum tetap,” imbuhnya.

Dara cantik empat bersaudara tersebut menyampaikan, semasa jadi ajudan banyak wejangan dan pesan diberikan langsung oleh pejabat berkacamata tersebut. Mulai dari rasa tanggung jawab, mengayomi masyarakat, mewujudkan cita-cita, dan lain sebagainya. “Saya pun mengimplementasikan sekarang, karena memang benar seperti itu,” kata perempuan yang bercita-cita menjadi Akpol tersebut.

Banyak hal yang ia kagumi dari pemimpin Jabar tersebut, seperti kedekatannya dengan masyarakat, cara bersosialisasi, dan melayani masyarakatnya.

Kini, Dwi Payani telah purna tugas dan sudah kembali ke Bali. Gilirannya kini melengkapi tugas sekolahnya yang sempat tertinggal karena menjalankan tugas sebagai ajudan. “Sekarang saya harus buat tugas dulu sebelum kembali pembelajaran tatap muka,” pungkasnya. (adi prabawa)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/