alexametrics
28.7 C
Denpasar
Thursday, August 11, 2022

Pengakuan Sri Mahaprabu Pralada Pandya (1)

Sakit Langgar Pawisik, Mahaprabu Juga Kerap Dipanggil Putu Gumpluk

TABANAN, BALI EXPRESS -Beberapa waktu lalu, Mahaprabu dari Pesraman Kayu Manis Desa Tegal Mengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan, kembali viral di media sosial Facebook. Siapa sebenarnya sosok Mahaprabu ini, dan kenapa memakai gelar Mahaprabu?

Ketika ditemui di Pesraman Kayu Manis, Desa Tegal Mengkeb, Mahaprabu yang memiliki nama asli I Putu Wirasa Pandya ini dengan senang hati berbagi kisahnya kepada Koran Bali Express.

“Maaf ya, sudah menunggu cukup lama,” sapanya ketika bertemu Koran Bali Express yang sudah menunggu sejak pukul 10.00 pagi, sedangkan Putu Wirasa Pandya baru bisa ditemui pukul 14.00 karena sedang beristirahat.

Ia menceritakan tentang kisahnya kenapa bisa memiliki gelar Mahaprabu dan menggunakan pakaian layaknya Maharaja dengan singgasana emasnya.

Sesuai dengan kondisi itu, Putu Wirasa sendiri mengaku jika dirinya adalah raja abal-abal. Seperti yang diceritakan Putu Wirasa, gelar Mahaprabu yang dipakainya saat ini, didapatnya dari pawisik (petunjuk niskala) pada rahun 2012 lalu.

Dalam pawisik tersebut, Putu Wirasa menyebutkan dirinya mendapatkan mandat untuk menegakkan Ksatrya Warna.

“Dalam pawisik yang saya terima, saya harus menegakkan Ksatrya Warna, bukan Ksatrya Wangsa. Jadi alam ‘meng-abhiseka’ tiyang dengan nama Sri Mahaprabu Pralada Pandya. Selain menerima gelar itu, dalam pawisik itu juga menyebutkan saya harus mengikuti aturan yang diberikan oleh Beliau dengan segala risikonya,” jelasnya.

Baca Juga :  Mengenal Jenis-jenis Napza dan Manfaat serta Bahayanya

Apa saja risikonya? Disebutkan Putu Wirasa, mungkin tidak diterima oleh semua orang jika dia menggunakan nama Mahaprabu.

Maka dari itu, diakuinya dirinya hanya menggunakan nama Mahaprabu di Pesraman Kayu Manis saja. Sedangkan untuk di luar, termasuk pada urusan administrasi adat di Desa Tegal Mengkeb, bapak dua anak ini mengaku tetap menggunakan namanya lahirnya termasuk dalam pergaulan sehari-hari Putu Wirasa juga tidak meminta dipanggil Mahaprabu.

“Sampai saat ini, di luar pesraman, panggilan saya masih Putu Wirasa, bahkan beberapa teman kecil saya masih ada yang memanggil saya Putu Gumpluk,” ungkapnya.

Terkait viralnya gelar Mahaprabu ini, Putu Wirasa mengaku sebenarnya cerita Mahaprabu ini sudah sempat viral pada tahun 2019 silam. Saat itu dikisahkannya dari Pihak Dresta Bali sempat mempertanyakan terkait gelar Mahaprabu ini.

Dikatakannya, Dresta Bali saat itu mempertanyakan apakah Mahaprbu ini adalah bagin dari Sampradaya. “Saat itu saya ditanya apakah saya atasan dari prabu-prabu di aliran sampradaya, karena saya bukan bagian dari aliran itu, maka saya jawab tidak,” paparnya.

Selain dituduh sebagai bagian dari Sampradaya, Putu Wirasa juga sering dianggap ‘orang gila’ karena gelar Mahaprabu tersebut.

Baca Juga :  Jangan Sering Biarkan Tangki Mobil Hampir Kosong

Menanggapi hal tersebut, lelaki yang sempat belajar ke India ini mengaku santai saja dan tidak memusingkan tuduhan ‘orang gila’ yang dialamatkan kepada dirinya.

Ketika tidak patuhi oetunjuk niskala ini, mantan Ketua BPD Desa Tegalmengkeb ini mengaku sempat mengalami sakit parah selama satu tahun lebih. “Sekitar lima tahun lalu, saya sempat sakit, sakitnya tidak jelas, sampai saya sempat dirawat di RS Kasih Ibu Tabanan selama hampir satu bulan, dan ketika saya berjanji untuk menjalankan apa yang saya terima dalam pawisik, akhirnya saya sembuh dan sampai saat ini, saya tidak berani melanggarnya lagi,” terang kakek tiga cucu ini.

Terkait status kesulinggihan, dengan tegas Putu Wirasa menyatakan dirinya bukan Sulinggih, karena dia mengaku tidak pernah melakukan padiksaan.

Lantas bagaimana dengan tongkat dibawanya? Putu Wirasa mengatakan tongkat yang dibawa adalah tongkat komando. “Ini sudah jelas adalah tongkat komando, bukan teteken Ida Pedanda. Karena ukurannya dan bentuknya seperti ini. Kenapa saya membawanya? Karena saya menjalankan perintah dari pawisik yang saya terima yaitu menegakkan Ksatrya warna,” tambahnya. (bersambung)

 






Reporter: IGA Kusuma Yoni

TABANAN, BALI EXPRESS -Beberapa waktu lalu, Mahaprabu dari Pesraman Kayu Manis Desa Tegal Mengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan, kembali viral di media sosial Facebook. Siapa sebenarnya sosok Mahaprabu ini, dan kenapa memakai gelar Mahaprabu?

Ketika ditemui di Pesraman Kayu Manis, Desa Tegal Mengkeb, Mahaprabu yang memiliki nama asli I Putu Wirasa Pandya ini dengan senang hati berbagi kisahnya kepada Koran Bali Express.

“Maaf ya, sudah menunggu cukup lama,” sapanya ketika bertemu Koran Bali Express yang sudah menunggu sejak pukul 10.00 pagi, sedangkan Putu Wirasa Pandya baru bisa ditemui pukul 14.00 karena sedang beristirahat.

Ia menceritakan tentang kisahnya kenapa bisa memiliki gelar Mahaprabu dan menggunakan pakaian layaknya Maharaja dengan singgasana emasnya.

Sesuai dengan kondisi itu, Putu Wirasa sendiri mengaku jika dirinya adalah raja abal-abal. Seperti yang diceritakan Putu Wirasa, gelar Mahaprabu yang dipakainya saat ini, didapatnya dari pawisik (petunjuk niskala) pada rahun 2012 lalu.

Dalam pawisik tersebut, Putu Wirasa menyebutkan dirinya mendapatkan mandat untuk menegakkan Ksatrya Warna.

“Dalam pawisik yang saya terima, saya harus menegakkan Ksatrya Warna, bukan Ksatrya Wangsa. Jadi alam ‘meng-abhiseka’ tiyang dengan nama Sri Mahaprabu Pralada Pandya. Selain menerima gelar itu, dalam pawisik itu juga menyebutkan saya harus mengikuti aturan yang diberikan oleh Beliau dengan segala risikonya,” jelasnya.

Baca Juga :  Ojek Dadakan di Pura Agung Besakih; Penghasilan Bisa Tembus Rp 400 Ribu

Apa saja risikonya? Disebutkan Putu Wirasa, mungkin tidak diterima oleh semua orang jika dia menggunakan nama Mahaprabu.

Maka dari itu, diakuinya dirinya hanya menggunakan nama Mahaprabu di Pesraman Kayu Manis saja. Sedangkan untuk di luar, termasuk pada urusan administrasi adat di Desa Tegal Mengkeb, bapak dua anak ini mengaku tetap menggunakan namanya lahirnya termasuk dalam pergaulan sehari-hari Putu Wirasa juga tidak meminta dipanggil Mahaprabu.

“Sampai saat ini, di luar pesraman, panggilan saya masih Putu Wirasa, bahkan beberapa teman kecil saya masih ada yang memanggil saya Putu Gumpluk,” ungkapnya.

Terkait viralnya gelar Mahaprabu ini, Putu Wirasa mengaku sebenarnya cerita Mahaprabu ini sudah sempat viral pada tahun 2019 silam. Saat itu dikisahkannya dari Pihak Dresta Bali sempat mempertanyakan terkait gelar Mahaprabu ini.

Dikatakannya, Dresta Bali saat itu mempertanyakan apakah Mahaprbu ini adalah bagin dari Sampradaya. “Saat itu saya ditanya apakah saya atasan dari prabu-prabu di aliran sampradaya, karena saya bukan bagian dari aliran itu, maka saya jawab tidak,” paparnya.

Selain dituduh sebagai bagian dari Sampradaya, Putu Wirasa juga sering dianggap ‘orang gila’ karena gelar Mahaprabu tersebut.

Baca Juga :  Sebelum Tewas di Gitgit, Ucik Sempat Diajak Nikah, Ini Rencana Mereka

Menanggapi hal tersebut, lelaki yang sempat belajar ke India ini mengaku santai saja dan tidak memusingkan tuduhan ‘orang gila’ yang dialamatkan kepada dirinya.

Ketika tidak patuhi oetunjuk niskala ini, mantan Ketua BPD Desa Tegalmengkeb ini mengaku sempat mengalami sakit parah selama satu tahun lebih. “Sekitar lima tahun lalu, saya sempat sakit, sakitnya tidak jelas, sampai saya sempat dirawat di RS Kasih Ibu Tabanan selama hampir satu bulan, dan ketika saya berjanji untuk menjalankan apa yang saya terima dalam pawisik, akhirnya saya sembuh dan sampai saat ini, saya tidak berani melanggarnya lagi,” terang kakek tiga cucu ini.

Terkait status kesulinggihan, dengan tegas Putu Wirasa menyatakan dirinya bukan Sulinggih, karena dia mengaku tidak pernah melakukan padiksaan.

Lantas bagaimana dengan tongkat dibawanya? Putu Wirasa mengatakan tongkat yang dibawa adalah tongkat komando. “Ini sudah jelas adalah tongkat komando, bukan teteken Ida Pedanda. Karena ukurannya dan bentuknya seperti ini. Kenapa saya membawanya? Karena saya menjalankan perintah dari pawisik yang saya terima yaitu menegakkan Ksatrya warna,” tambahnya. (bersambung)

 






Reporter: IGA Kusuma Yoni

Most Read

Artikel Terbaru

/