alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Dewa Berata, Jadikan Gamelan Bali Mendunia Lewat Game PlayStation5

GIANYAR, BALI EXPRESS – Bangga. Itulah satu kata yang bisa mewakili perasaan masyarakat Indonesia khususnya Bali atas pencapaian yang diraih seniman asal Banjar Pengosekan, Ubud, Gianyar, ini. Pasalnya gamelan karya Dewa Putu Berata tersebut masuk sebagai pengisi soundtrack dalam sebuah game terbaru dari PlayStation 5 (PS5) yang berjudul KENA : Bridge of Spirit yang akan rilis pada bulan Agustus 2021.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Dewa Berata menuturkan bahwa proyek tersebut bermula ketika dirinya dihubungi oleh grup Gamelan Sekar Jaya (GSJ) di Berkeley, California, untuk berkonsultasi tentang gamelan oleh komposer musik Jason Gallaty. “Direktur GSJ memberikan informasi kepadanya dan akhirnya kami bertemu di Los Angeles (LA). Dimana saya bisa menunjukkan tentang gamelan saya sendiri yang ada di LA. Sejak saat itu kami saling mengunjungi untuk membicarakan proyek ini,” paparnya Jumat (6/8).

Dewa Berata pun dipilih untuk bergabung dalam proyek tersebut sebagai komposer. Dan turut melibatkan Sanggar Seni Cundamani yang ia dirikan di Pengosekan, Ubud. Kata dia, tiga tahun yang lalu Sanggar Cundamani pun tur ke California dan penampilannya disaksikan langsung oleh Jason Gallaty, staff dari EmberLab yang memproduksi game tersebut, beberapa staff dari Sonny di Santa Monica University. “Dan memang Sanggar Cundamani setiap tahunnya rutin mengadakan istilahnya study tour ke Amerika untuk melakukan pertunjukan, pertukaran pikiran, serta melakukan kolaborasi antar komunitas gamelan Bali yang ada di Amerika,” imbuh seniman yang lahir di Pengosekan, 14 Maret 1967 tersebut.

Hingga akhirnya dirinya membuat rekaman di sebuah studio milik temannya, Adam Berg yang ada di LA. Namun rekaman itu tidaklah cukup, sehingga pihaknya memutuskan untuk membuat rekaman lagi di Bali dengan membuat sampel dan komposisi yang lainnya yang dirinya buat. “Dari rekaman-rekaman Cundamani, Jason Gallaty mengolahnya dan meng-aransemennya, serta menambahkan dengan alat-alat musik barat dan elektonik dijadikan komposisi baru untuk menyesuaikan dengan kebutuhan adegan dan cerita di dalam game tersebut,” sebutnya.

Karena terhalang jarak, hasil musik yang telah dipadukan itu selanjutnya dikirim melalui email kepada Dewa Berata sampai akhirnya musik tersebut disepakati untuk menjadi pengisi dalam game KENA : Bridge of Spirit tersebut. Dewa Berata pun mengaku bangga karena bisa berkolaborasi dengan komposer dunia. Apalagi, anaknya Dewa Ayu Dewi Larassanti juga ikut terlibat yakni sebagai voice actor dalam game tersebut.“Tentu saya sangat bangga,” sambungnya.

 

Dan pengalaman di dunia hiburan internasional ternyata bukan pengalaman pertama Dewa Berata. Sebab sebelumnya ia juga pernah ditunjuk sebagai konsultan budaya untuk sebuah film Disney berjudul ‘Raya and the Las Dragon’ 2021 yang di dalamnya mencerminkan tata krama Asia Tenggara.

 

Suami dari Emiko Saraswati Susilo itu sendiri mengawali karir seninya saat usianya masih sangat muda. Di usianya yang baru 16 tahun, ia telah mendirikan Sekaha Gong Anak-anak Tunas Mekar Pengosekan. Dan di tahun 1983, saat dirinya duduk di kelas 1 SMKI Denpasar dirinya sudah mengajar gamelan. Sejak saat itu, ia aktif mengajar gamelan diberbagai daerah, meskipun saat itu ia masih mengenyam pendidikan di SMKI Denpasar hingga melanjutkan pendidikan di STSI Denpasar (sekarang ISI Denpasar).

 

Pengalaman sebagai Penabuh, Penguruk (Guru Tabuh,Red) serta Komposer, termasuk pentas ditingkat Nasional dan Internasial, hingga Ngayah di Pura, membuat dirinya patut menyandang label seniman profesional.

 

“Saya lulus di STSI Denpasar tahun 1993, dan di tahun 1995-1996 saya diundang oleh Gamelan Sekar Jaya di California sebagai Guest Music Director. Sejak saat itu saya sering mendapatkan undangan kolaborasi,” ayah dari Dewa Ayu Dewi Larassanti dan Dewa Gede Sanjaya tersebut.

 

Kolaborasi itu diantaranya produksi Wayang Listrik dengan Lerry Reed dari San Fransisco untuk Tour keliling USA. Kolaborasi dengan Citras Dash ( Kathak Dance Company- India Utara) di SF Tour keliling USA. Kemudian kerjasama pada program APPEX (Asia Pasific Perporment Exchang) di UCLA, undangan pentas ke Jepang. Diundang sebagai guru dan pengisi workshop di Universitas of Hawaii. Membangu Internasinal Of Body Music di SF dengan Keith Terry (Oakland, CA) dan Barbatuqis dari Brasil. Kolaborasi dengan Ragamala Dance and Music Company, di Minneapolis. Dan banyak kerjasama lainnya serta memimpun tur-tur Sanggar Cundamani diberbagai negara mulai dari Italia, Yunani, Belanda, Jepang, dan banyak wilayah di USA.

 

Dewa Berata juga memiliki Sanggar Cundamani di Pengosekan, Ubud, untuk mewadahi generasi muda yang ingin melestarikan seni dan budaya Balu khususnya gamelan. Sanggar ini aktif Ngayah di berbagai kegiatan Adat dan Agama untuk megambel. Namun tak hanya mengajarkan seni musik gamelan Bali, anggota Sanggar juga belajar tari Bali, dan membuat kriya-kriya yang digunakan sebagai atribut pementasan.  “Tujuan saya dari awal mendirikan sebuah sanggar seni adalah untuk mewariskan budaya Bali beserta tata kramanya ke generasi penerus kita,” pungkas putra dari I Dewa Nyoman Sura dan Jero Seroni tersebut. 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Bangga. Itulah satu kata yang bisa mewakili perasaan masyarakat Indonesia khususnya Bali atas pencapaian yang diraih seniman asal Banjar Pengosekan, Ubud, Gianyar, ini. Pasalnya gamelan karya Dewa Putu Berata tersebut masuk sebagai pengisi soundtrack dalam sebuah game terbaru dari PlayStation 5 (PS5) yang berjudul KENA : Bridge of Spirit yang akan rilis pada bulan Agustus 2021.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Dewa Berata menuturkan bahwa proyek tersebut bermula ketika dirinya dihubungi oleh grup Gamelan Sekar Jaya (GSJ) di Berkeley, California, untuk berkonsultasi tentang gamelan oleh komposer musik Jason Gallaty. “Direktur GSJ memberikan informasi kepadanya dan akhirnya kami bertemu di Los Angeles (LA). Dimana saya bisa menunjukkan tentang gamelan saya sendiri yang ada di LA. Sejak saat itu kami saling mengunjungi untuk membicarakan proyek ini,” paparnya Jumat (6/8).

Dewa Berata pun dipilih untuk bergabung dalam proyek tersebut sebagai komposer. Dan turut melibatkan Sanggar Seni Cundamani yang ia dirikan di Pengosekan, Ubud. Kata dia, tiga tahun yang lalu Sanggar Cundamani pun tur ke California dan penampilannya disaksikan langsung oleh Jason Gallaty, staff dari EmberLab yang memproduksi game tersebut, beberapa staff dari Sonny di Santa Monica University. “Dan memang Sanggar Cundamani setiap tahunnya rutin mengadakan istilahnya study tour ke Amerika untuk melakukan pertunjukan, pertukaran pikiran, serta melakukan kolaborasi antar komunitas gamelan Bali yang ada di Amerika,” imbuh seniman yang lahir di Pengosekan, 14 Maret 1967 tersebut.

Hingga akhirnya dirinya membuat rekaman di sebuah studio milik temannya, Adam Berg yang ada di LA. Namun rekaman itu tidaklah cukup, sehingga pihaknya memutuskan untuk membuat rekaman lagi di Bali dengan membuat sampel dan komposisi yang lainnya yang dirinya buat. “Dari rekaman-rekaman Cundamani, Jason Gallaty mengolahnya dan meng-aransemennya, serta menambahkan dengan alat-alat musik barat dan elektonik dijadikan komposisi baru untuk menyesuaikan dengan kebutuhan adegan dan cerita di dalam game tersebut,” sebutnya.

Karena terhalang jarak, hasil musik yang telah dipadukan itu selanjutnya dikirim melalui email kepada Dewa Berata sampai akhirnya musik tersebut disepakati untuk menjadi pengisi dalam game KENA : Bridge of Spirit tersebut. Dewa Berata pun mengaku bangga karena bisa berkolaborasi dengan komposer dunia. Apalagi, anaknya Dewa Ayu Dewi Larassanti juga ikut terlibat yakni sebagai voice actor dalam game tersebut.“Tentu saya sangat bangga,” sambungnya.

 

Dan pengalaman di dunia hiburan internasional ternyata bukan pengalaman pertama Dewa Berata. Sebab sebelumnya ia juga pernah ditunjuk sebagai konsultan budaya untuk sebuah film Disney berjudul ‘Raya and the Las Dragon’ 2021 yang di dalamnya mencerminkan tata krama Asia Tenggara.

 

Suami dari Emiko Saraswati Susilo itu sendiri mengawali karir seninya saat usianya masih sangat muda. Di usianya yang baru 16 tahun, ia telah mendirikan Sekaha Gong Anak-anak Tunas Mekar Pengosekan. Dan di tahun 1983, saat dirinya duduk di kelas 1 SMKI Denpasar dirinya sudah mengajar gamelan. Sejak saat itu, ia aktif mengajar gamelan diberbagai daerah, meskipun saat itu ia masih mengenyam pendidikan di SMKI Denpasar hingga melanjutkan pendidikan di STSI Denpasar (sekarang ISI Denpasar).

 

Pengalaman sebagai Penabuh, Penguruk (Guru Tabuh,Red) serta Komposer, termasuk pentas ditingkat Nasional dan Internasial, hingga Ngayah di Pura, membuat dirinya patut menyandang label seniman profesional.

 

“Saya lulus di STSI Denpasar tahun 1993, dan di tahun 1995-1996 saya diundang oleh Gamelan Sekar Jaya di California sebagai Guest Music Director. Sejak saat itu saya sering mendapatkan undangan kolaborasi,” ayah dari Dewa Ayu Dewi Larassanti dan Dewa Gede Sanjaya tersebut.

 

Kolaborasi itu diantaranya produksi Wayang Listrik dengan Lerry Reed dari San Fransisco untuk Tour keliling USA. Kolaborasi dengan Citras Dash ( Kathak Dance Company- India Utara) di SF Tour keliling USA. Kemudian kerjasama pada program APPEX (Asia Pasific Perporment Exchang) di UCLA, undangan pentas ke Jepang. Diundang sebagai guru dan pengisi workshop di Universitas of Hawaii. Membangu Internasinal Of Body Music di SF dengan Keith Terry (Oakland, CA) dan Barbatuqis dari Brasil. Kolaborasi dengan Ragamala Dance and Music Company, di Minneapolis. Dan banyak kerjasama lainnya serta memimpun tur-tur Sanggar Cundamani diberbagai negara mulai dari Italia, Yunani, Belanda, Jepang, dan banyak wilayah di USA.

 

Dewa Berata juga memiliki Sanggar Cundamani di Pengosekan, Ubud, untuk mewadahi generasi muda yang ingin melestarikan seni dan budaya Balu khususnya gamelan. Sanggar ini aktif Ngayah di berbagai kegiatan Adat dan Agama untuk megambel. Namun tak hanya mengajarkan seni musik gamelan Bali, anggota Sanggar juga belajar tari Bali, dan membuat kriya-kriya yang digunakan sebagai atribut pementasan.  “Tujuan saya dari awal mendirikan sebuah sanggar seni adalah untuk mewariskan budaya Bali beserta tata kramanya ke generasi penerus kita,” pungkas putra dari I Dewa Nyoman Sura dan Jero Seroni tersebut. 


Most Read

Artikel Terbaru

/