alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Setiap 7 November Gelar Doa Bersama di Sumberklampok

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ada yang unik dari kerukunan umat beragama di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak. Sikap toleransi dan kebersamaan sangatlah tinggi. Dalam setiap kegiatan, baik sosial maupun keagamaan dua umat yakni umat hindu dan muslim di desa Sumberklampok bersatu. Tidak ada sekat diantara kedua umat tersebut. Sikap saling mengharagai pun dijunjung tinggi.

Dalam perhelatan keagamaan, umat muslim dan umat hindu melakukan persembahyangan bersama. Umat hindu melakukan ritual di Pura Perjuangan desa Sumberklampok sedangkan umat muslim melakukan sholawat di masjid atau di tempat terbuka lainya. Uniknya dalam perhelatan sholawat itu, akan terlihat bahan-bahan makanan yang digantung pada tempat sholawat.

Ditemui di desa Sumberklampok, Minggu (7/11) pagi, Ketua Majelis Taklim Desa Sumberklampok, Rahabid menjelaskan, kegiatan sholawat yang dilakukan itu merupakan wujud syukur dari umat muslim karena berhasil memperoleh sesuatu. Sementara panganan yang digantung tersebut diberikan kepada anak-anak. Usai pagelaran sholawat makanan-makanan itu dapt diambil oleh anak-anak. “Tradisi ini sudah dari tahun 1970. Ritual ini sebenarnya rangkaian dari hari Maulud Nabi. Tujuannya untuk berterima kasih kepada Tuhan atas anugrahnya. Bahan-bahan yang digantung itu untuk sedekah kepada anak-anak,” kata dia.

Kegiatan sholawat ini juga dilakukan berbaengan dengan kegiatan upakara di Pura Perjuangan. Dari tahun 1970, setiap 7 November selalu dilakukan ritual-ritual keagamaan sebagai wujud syukur masyarakat. “Sebearnya 7 November  itu desa melakukan doa bersama. Itu dilakukan dari tahun 70. Dan kebetulan kami sekarang sudah mendapat sertifikat jadi kami lakukan doa bersama. Tadi juga ada 3 kiai dari luar daerah yang datang mengisi doa bersama ini di muslim. Ini juga sebgai rasa syukur di kami,” kata dia.

Di sisi lain, keberadaan pura ini adalah bukti perjuangan masyarakat desa Sumberklampok untuk memperjuangkan tanah yang mereka tempati hingga kini. Menariknya, konon dalam satu banjar di desa Sumberklampok berperbekelan di dua desa, yakni Desa Sumbeklampok dan Pejarakan. Untuk saudara-saudara yang beragama Hindu berperbekelan ke Desa Sumberkima, sedangkan saudara-saudara yang beragama Islam berperbekelan ke Desa Pejarakan. Namun berjalannya waktu atas saran pemuka masyarakat pada tahun 1967 untuk pertama kalinya diadakan pemilihan Kepala Desa dan diakui menjadi sebuah desa pada 1 Juni Tahun 1967 dengan kepala desa pertama bernama Pawiro Sentono. Sejak saat itu mulai dibangun gedung sekolah dasar, kantor desa, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya. Sejak saat itu pula, pemerintah mulai melihat keberadaan Desa Sumberklampok dengan mendatangkan sumbangan untuk pembangunan desa.

Secara administratif Desa Sumberklampok saat itu dibagi atas tiga dusun diantaranya Tegal Bunder, Sumberklampok, Sumberbatok, sedangkan satu banjar yaitu Teluk Terima menjadi satu dusun dengan Sumberbatok.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ada yang unik dari kerukunan umat beragama di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak. Sikap toleransi dan kebersamaan sangatlah tinggi. Dalam setiap kegiatan, baik sosial maupun keagamaan dua umat yakni umat hindu dan muslim di desa Sumberklampok bersatu. Tidak ada sekat diantara kedua umat tersebut. Sikap saling mengharagai pun dijunjung tinggi.

Dalam perhelatan keagamaan, umat muslim dan umat hindu melakukan persembahyangan bersama. Umat hindu melakukan ritual di Pura Perjuangan desa Sumberklampok sedangkan umat muslim melakukan sholawat di masjid atau di tempat terbuka lainya. Uniknya dalam perhelatan sholawat itu, akan terlihat bahan-bahan makanan yang digantung pada tempat sholawat.

Ditemui di desa Sumberklampok, Minggu (7/11) pagi, Ketua Majelis Taklim Desa Sumberklampok, Rahabid menjelaskan, kegiatan sholawat yang dilakukan itu merupakan wujud syukur dari umat muslim karena berhasil memperoleh sesuatu. Sementara panganan yang digantung tersebut diberikan kepada anak-anak. Usai pagelaran sholawat makanan-makanan itu dapt diambil oleh anak-anak. “Tradisi ini sudah dari tahun 1970. Ritual ini sebenarnya rangkaian dari hari Maulud Nabi. Tujuannya untuk berterima kasih kepada Tuhan atas anugrahnya. Bahan-bahan yang digantung itu untuk sedekah kepada anak-anak,” kata dia.

Kegiatan sholawat ini juga dilakukan berbaengan dengan kegiatan upakara di Pura Perjuangan. Dari tahun 1970, setiap 7 November selalu dilakukan ritual-ritual keagamaan sebagai wujud syukur masyarakat. “Sebearnya 7 November  itu desa melakukan doa bersama. Itu dilakukan dari tahun 70. Dan kebetulan kami sekarang sudah mendapat sertifikat jadi kami lakukan doa bersama. Tadi juga ada 3 kiai dari luar daerah yang datang mengisi doa bersama ini di muslim. Ini juga sebgai rasa syukur di kami,” kata dia.

Di sisi lain, keberadaan pura ini adalah bukti perjuangan masyarakat desa Sumberklampok untuk memperjuangkan tanah yang mereka tempati hingga kini. Menariknya, konon dalam satu banjar di desa Sumberklampok berperbekelan di dua desa, yakni Desa Sumbeklampok dan Pejarakan. Untuk saudara-saudara yang beragama Hindu berperbekelan ke Desa Sumberkima, sedangkan saudara-saudara yang beragama Islam berperbekelan ke Desa Pejarakan. Namun berjalannya waktu atas saran pemuka masyarakat pada tahun 1967 untuk pertama kalinya diadakan pemilihan Kepala Desa dan diakui menjadi sebuah desa pada 1 Juni Tahun 1967 dengan kepala desa pertama bernama Pawiro Sentono. Sejak saat itu mulai dibangun gedung sekolah dasar, kantor desa, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya. Sejak saat itu pula, pemerintah mulai melihat keberadaan Desa Sumberklampok dengan mendatangkan sumbangan untuk pembangunan desa.

Secara administratif Desa Sumberklampok saat itu dibagi atas tiga dusun diantaranya Tegal Bunder, Sumberklampok, Sumberbatok, sedangkan satu banjar yaitu Teluk Terima menjadi satu dusun dengan Sumberbatok.


Most Read

Artikel Terbaru

/