26.5 C
Denpasar
Friday, February 3, 2023

Cerita Ni Made Yartami Saat Dievakuasi dari Ukraina Menuju Rumania

Parno Melihat Banyak Orang, Suasana Mencekam Saat Diperiksa Tentara

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ni Made Yartami, 46, sangat bersyukur dirinya bisa tiba di Bali. Made Yartami termasuk satu dari 26 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Bali yang berhasil dievakuasi dari Ukraina.

 

“Saya dikontrak dua tahun sebenarnya di Odessa, salah satu wilayah di Ukraina. Saya bekerja sebagai terapis di Bali Spa disana, tapi baru delapan bulan,” ujar Made Yartami di kediamannya di Jalan Siulan, Gang Anggrek Nomor 12 Penatih Dangin Puri, Denpasar, Selasa (8/3).

 

Made Yartami sendiri tiba bersama 25 PMI lainnya di Bali pada Senin (7/3). Ia secara gamblang menceritakan bagaimana mencekamnya suasana saat ia dievakuasi ketika ketegangan antara Rusia dan Ukraina terjadi.

 

“Sebenarnya kami rencana dievakuasi tanggal 23 Februari malam. Tapi bandara di Kyiv sudah di bom oleh Rusia. Terpaksa menempuh jalan darat menuju perbatasan,” ujar perempuan asli Tejakula, Buleleng ini.

 

Kemudian, dari pihak perusahaan tempat ia bekerja mengatakan kepada Yartami dan rekan untuk tetap tenang selagi masih ada polisi dan tentara. Tapi dari pihak KBRI di Kyiv meminta Yartami dkk bersiap-siap jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu.

Baca Juga :  Jukung Terbalik di Pantai Pasut, Tiga Nelayan Selamat

 

“Seminggu sebelum invasi Rusia itu kami sudah diingatkan sama pihak KBRI di Kyiv untuk siapkan dokumen dan segalanya dan akan langsung dievakuasi jika terjadi sesuatu,” bebernya.

 

Yartami dan teman-temannya kemudian bisa dievakuasi pada tanggal 26 Februari. Dua hari sebelum evakuasi itu, Yartami hanya bisa tidur dua jam. Tengah malam, ia mendengar tiga kali ledakan di Anilova, tempat ia tinggal. Kemudian dini hari, terdengar lagi ledakan sebanyak dua kali.

 

“Saya tinggal di Anilova, daerah pinggiran. Kalau teman yang lain tinggal di Kador, lebih ke kota dan disana sering terdengar ledakan,” bebernya.

 

Diceritakannya, Yartami dan dua temannya dievakuasi menuju perbatasan Rumania dari Odessa lewat jalan darat. Di tengah perjalanan, ia dan beberapa orang sering dicegat oleh tentara Ukraina untuk di data dan diperiksa dokumennya. Ia merasakan takut luar biasa ketika tentara Ukraina mulai memasuki bus untuk memeriksa orang-orang. “Karena aturan disana, orang lokal tidak boleh keluar. Karena mereka tahu kami orang Indonesia, jadi diperbolehkan. Selama perjalanan itu, sudah berulang kali kami diperiksa,” tegasnya.

Baca Juga :  Pamannya Merasa Ada Kontak Batin Saat Sinta Ganti Profil

 

Tapi satu aturan yang tak boleh dilarang yakni Yartami dan rekannya dihimbau untuk tidak menyalakan handphone selama perjalanan evakuasi. “Jangankan keluarkan Hp, untuk merekam saja tidak boleh. Kalau ketahuan akan disita dan membahayakan penumpang lainnya. Saya melihat orang ramai saja mulai deg-degan,” tuturnya sembari mengatakan evakuasi baru dilakukan pukul 19.00 waktu setempat.

 

Tengah malam, Yartami baru tiba diperbatasan. Tapi, tiba di perbatasan tidak langsung menuju Rumania. “Jam setengah delapan pagi baru menyebrang dan jam setengah 10 pagi baru tiba di Rumania,” jelasnya.

 

Ia sangat bersyukur bisa keluar dari Ukraina dan tiba di Bali dengan selamat. Yartami dengan tegas mengatakan ia tidak mau lagi bekerja di Ukraina.

 

“Saya sudah sering kerja di luar negeri, di Cina dan India. Kalau disuruh ke Ukraina lagi, saya rasa tidak,” tutupnya.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ni Made Yartami, 46, sangat bersyukur dirinya bisa tiba di Bali. Made Yartami termasuk satu dari 26 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Bali yang berhasil dievakuasi dari Ukraina.

 

“Saya dikontrak dua tahun sebenarnya di Odessa, salah satu wilayah di Ukraina. Saya bekerja sebagai terapis di Bali Spa disana, tapi baru delapan bulan,” ujar Made Yartami di kediamannya di Jalan Siulan, Gang Anggrek Nomor 12 Penatih Dangin Puri, Denpasar, Selasa (8/3).

 

Made Yartami sendiri tiba bersama 25 PMI lainnya di Bali pada Senin (7/3). Ia secara gamblang menceritakan bagaimana mencekamnya suasana saat ia dievakuasi ketika ketegangan antara Rusia dan Ukraina terjadi.

 

“Sebenarnya kami rencana dievakuasi tanggal 23 Februari malam. Tapi bandara di Kyiv sudah di bom oleh Rusia. Terpaksa menempuh jalan darat menuju perbatasan,” ujar perempuan asli Tejakula, Buleleng ini.

 

Kemudian, dari pihak perusahaan tempat ia bekerja mengatakan kepada Yartami dan rekan untuk tetap tenang selagi masih ada polisi dan tentara. Tapi dari pihak KBRI di Kyiv meminta Yartami dkk bersiap-siap jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu.

Baca Juga :  Kenali Kondisi Darurat Pada Bayi

 

“Seminggu sebelum invasi Rusia itu kami sudah diingatkan sama pihak KBRI di Kyiv untuk siapkan dokumen dan segalanya dan akan langsung dievakuasi jika terjadi sesuatu,” bebernya.

 

Yartami dan teman-temannya kemudian bisa dievakuasi pada tanggal 26 Februari. Dua hari sebelum evakuasi itu, Yartami hanya bisa tidur dua jam. Tengah malam, ia mendengar tiga kali ledakan di Anilova, tempat ia tinggal. Kemudian dini hari, terdengar lagi ledakan sebanyak dua kali.

 

“Saya tinggal di Anilova, daerah pinggiran. Kalau teman yang lain tinggal di Kador, lebih ke kota dan disana sering terdengar ledakan,” bebernya.

 

Diceritakannya, Yartami dan dua temannya dievakuasi menuju perbatasan Rumania dari Odessa lewat jalan darat. Di tengah perjalanan, ia dan beberapa orang sering dicegat oleh tentara Ukraina untuk di data dan diperiksa dokumennya. Ia merasakan takut luar biasa ketika tentara Ukraina mulai memasuki bus untuk memeriksa orang-orang. “Karena aturan disana, orang lokal tidak boleh keluar. Karena mereka tahu kami orang Indonesia, jadi diperbolehkan. Selama perjalanan itu, sudah berulang kali kami diperiksa,” tegasnya.

Baca Juga :  Belanda akan Pasok 200 Roket Pertahanan Udara ke Ukraina

 

Tapi satu aturan yang tak boleh dilarang yakni Yartami dan rekannya dihimbau untuk tidak menyalakan handphone selama perjalanan evakuasi. “Jangankan keluarkan Hp, untuk merekam saja tidak boleh. Kalau ketahuan akan disita dan membahayakan penumpang lainnya. Saya melihat orang ramai saja mulai deg-degan,” tuturnya sembari mengatakan evakuasi baru dilakukan pukul 19.00 waktu setempat.

 

Tengah malam, Yartami baru tiba diperbatasan. Tapi, tiba di perbatasan tidak langsung menuju Rumania. “Jam setengah delapan pagi baru menyebrang dan jam setengah 10 pagi baru tiba di Rumania,” jelasnya.

 

Ia sangat bersyukur bisa keluar dari Ukraina dan tiba di Bali dengan selamat. Yartami dengan tegas mengatakan ia tidak mau lagi bekerja di Ukraina.

 

“Saya sudah sering kerja di luar negeri, di Cina dan India. Kalau disuruh ke Ukraina lagi, saya rasa tidak,” tutupnya.






Reporter: I Dewa Made Krisna Pradipta

Most Read

Artikel Terbaru