alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Jadi Dosen Bergelar Doktor, I Ketut Wiriawan Enggan Berhenti Jadi Nelayan

KARANGASEM, BALI EXPRESS -Di Desa Adat Bugbug, Karangasem banyak warga  yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Wajar saja, karena desa tersebut memiliki garis pantai yang cukup panjang.

Sebagian besar nelayan yang ada di Karangasem, mayoritas hanya menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang SMA. Tetapi ada nelayan istimewa, karena sudah bergelar doktor atau sudah menyelesaikan pendidikan sampai S3, nama kompletnya Dr. I Ketut Wiriawan, S.Pd., M.Pd.

Pria asli Banjar Dinas Bugbug Tengah, Desa Bugbug, Karangasem ini menyandang gelar doktor setelah diwisuda 7 Mei 2022. Gelar tersebut ia raih setelah enam tahun lamanya kuliah di Universitas Hindu Indonesia, dari tahun 2016.

Di balik keberhasilannya meraih pendidikan tinggi, Wiriawan adalah seorang nelayan, yang hingga kini tetap melaut mencari ikan. “Aslinya saya adalah nelayan dan sampai sekarang masih nelayan. Saya dari SMP kelas 3 menjadi nelayan, karena hobi sebenarnya,” ujarnya, kemarin.

Perjalanannya meraih gelar tersebut terbilang bukanlah mudah. Ia menceritakan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) dahulunya sempat tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Kala itu, ia sempat berhenti selama satu tahun. Yang harusnya ia yang baru tamat SMP ditahun 1996 langsung ke SMA, karena merasa semakin asyik melaut. Namun akhirnya ia melanjutkan sekolah di tahun 1997.

“Teman-teman sudah di SMA, saya masih nelayan. Tidak melanjutkan (SMA) karena kan jauh di Karangasem, waktu itu disini (Bugbug) tidak ada SMA. Kalau ada, saya yang paling pertama masuk,” lanjutnya.

Setelah tamat SMA, Wiriawan bukanlah langsung mencari perguran tinggi untuk bisa mencapai S1, akan tetapi ia memilih untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu pelatihan pariwisata di Singaraja.

Meskipun demikian, dirinya memiliki tekad untuk melanjutkan pendidikan sampai S1. Terbukti, ia kembali melanjutkan pendidikannya untuk meraih S1 di Universitas Mahasaraswati Denpasar.

“Saya memilih di Universitas Mahasaraswati supaya bisa kuliah sore, jadi paginya saya tetap melaut, ” paparnya.

Diakuinya, karena dari hasil melautlah yang sebagain besar digunakan untuk membiayai kuliah, ditambah hasil menjadi guru honorer yang saat itu berpengasilan tidak seberapa.

Meskipun masih menempuh pendidikan, Wiriawan sudah dipercaya untuk mengajar di SDN 4 Bugbug kala itu. Dengan berbekal D1 Pariwisata, ia mengajar muatan lokal bahasa inggris. “ Dari hasil ngajar itulah kita bisa sisihkan untuk biaya pendidikan,” terang bapak empat anak tersebut.

Keinginan terus belajar, didorong oleh motivasi yang datang dari dalam diri seperti yang ia dapat ketika melaut, akhirnya pria 41 tahun tersebut melanjutkan lagi pendidikannya sampai S2 di Undiksa Singaraja. Di Singaraja ia menempuh pendidikan sampai tahun 2011, dengan memulai kuliah pada tahun 2009.

“Saya masih mengajar di beberapa sekolah. Saya paling mengajarnya jam 10 keatas, ketika saya turun melaut, saya lanjut berangkat untuk mengajar,” ucapnya.

Wiriawan memilih untuk tetap mengajar meskipun mendapat gaji yang tak seberapa karena memiliki alasan tersendiri.

“Saya adalah seorang nelayan, saya tidak pernah bermimpi untuk bisa berdiri di depan kelas. Ketika saya sarjana, itu adalah bak janji dalam diri saya, kalau ada orang yang mementingkan ilmu saya, saya akan kasi, tidak memandang itu dimana tempatnya,” sambungnya.

Saat ini, Wiriawan menjadi Kaprodi pendidikan Bahasa Inggris di STKIP Agama Hindu Amlapura, dari tahun 2016. Selain itu ia juga mengajar di SMAN 1 Bebandem, dan SMA Jagadhita.

“Karena bergabung di STKIP akhirnya memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikannya sampai S3,” akunya.

Kuliah S3 diakuinya mendapat beasiswa dari Kementerian Agama, meski tidak sepenuhnya. “Syukurnya saya mendapat bantuan. Saya berterimakasih kepada Kementerian Agama Republik Indonesia, melalui Dirjen Bimas Hindu, dan STKIP Agama Hindu,” kata dia.

Meskipun sudah menyandang gelar doktor, Wiriawan masih eksis untuk melakoni hobinya sebagai nelayan. Tetapi ia mengaku saat ini menjadikan nelayan sebagai pekerjaan keduanya dan lebih fokus untuk mengajar. “Karena di Bebandem saya harus mengajar pagi, makanya beberapa kali saya harus tidak melaut,” pungkasnya.(dir)

 

 


KARANGASEM, BALI EXPRESS -Di Desa Adat Bugbug, Karangasem banyak warga  yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Wajar saja, karena desa tersebut memiliki garis pantai yang cukup panjang.

Sebagian besar nelayan yang ada di Karangasem, mayoritas hanya menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang SMA. Tetapi ada nelayan istimewa, karena sudah bergelar doktor atau sudah menyelesaikan pendidikan sampai S3, nama kompletnya Dr. I Ketut Wiriawan, S.Pd., M.Pd.

Pria asli Banjar Dinas Bugbug Tengah, Desa Bugbug, Karangasem ini menyandang gelar doktor setelah diwisuda 7 Mei 2022. Gelar tersebut ia raih setelah enam tahun lamanya kuliah di Universitas Hindu Indonesia, dari tahun 2016.

Di balik keberhasilannya meraih pendidikan tinggi, Wiriawan adalah seorang nelayan, yang hingga kini tetap melaut mencari ikan. “Aslinya saya adalah nelayan dan sampai sekarang masih nelayan. Saya dari SMP kelas 3 menjadi nelayan, karena hobi sebenarnya,” ujarnya, kemarin.

Perjalanannya meraih gelar tersebut terbilang bukanlah mudah. Ia menceritakan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) dahulunya sempat tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Kala itu, ia sempat berhenti selama satu tahun. Yang harusnya ia yang baru tamat SMP ditahun 1996 langsung ke SMA, karena merasa semakin asyik melaut. Namun akhirnya ia melanjutkan sekolah di tahun 1997.

“Teman-teman sudah di SMA, saya masih nelayan. Tidak melanjutkan (SMA) karena kan jauh di Karangasem, waktu itu disini (Bugbug) tidak ada SMA. Kalau ada, saya yang paling pertama masuk,” lanjutnya.

Setelah tamat SMA, Wiriawan bukanlah langsung mencari perguran tinggi untuk bisa mencapai S1, akan tetapi ia memilih untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu pelatihan pariwisata di Singaraja.

Meskipun demikian, dirinya memiliki tekad untuk melanjutkan pendidikan sampai S1. Terbukti, ia kembali melanjutkan pendidikannya untuk meraih S1 di Universitas Mahasaraswati Denpasar.

“Saya memilih di Universitas Mahasaraswati supaya bisa kuliah sore, jadi paginya saya tetap melaut, ” paparnya.

Diakuinya, karena dari hasil melautlah yang sebagain besar digunakan untuk membiayai kuliah, ditambah hasil menjadi guru honorer yang saat itu berpengasilan tidak seberapa.

Meskipun masih menempuh pendidikan, Wiriawan sudah dipercaya untuk mengajar di SDN 4 Bugbug kala itu. Dengan berbekal D1 Pariwisata, ia mengajar muatan lokal bahasa inggris. “ Dari hasil ngajar itulah kita bisa sisihkan untuk biaya pendidikan,” terang bapak empat anak tersebut.

Keinginan terus belajar, didorong oleh motivasi yang datang dari dalam diri seperti yang ia dapat ketika melaut, akhirnya pria 41 tahun tersebut melanjutkan lagi pendidikannya sampai S2 di Undiksa Singaraja. Di Singaraja ia menempuh pendidikan sampai tahun 2011, dengan memulai kuliah pada tahun 2009.

“Saya masih mengajar di beberapa sekolah. Saya paling mengajarnya jam 10 keatas, ketika saya turun melaut, saya lanjut berangkat untuk mengajar,” ucapnya.

Wiriawan memilih untuk tetap mengajar meskipun mendapat gaji yang tak seberapa karena memiliki alasan tersendiri.

“Saya adalah seorang nelayan, saya tidak pernah bermimpi untuk bisa berdiri di depan kelas. Ketika saya sarjana, itu adalah bak janji dalam diri saya, kalau ada orang yang mementingkan ilmu saya, saya akan kasi, tidak memandang itu dimana tempatnya,” sambungnya.

Saat ini, Wiriawan menjadi Kaprodi pendidikan Bahasa Inggris di STKIP Agama Hindu Amlapura, dari tahun 2016. Selain itu ia juga mengajar di SMAN 1 Bebandem, dan SMA Jagadhita.

“Karena bergabung di STKIP akhirnya memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikannya sampai S3,” akunya.

Kuliah S3 diakuinya mendapat beasiswa dari Kementerian Agama, meski tidak sepenuhnya. “Syukurnya saya mendapat bantuan. Saya berterimakasih kepada Kementerian Agama Republik Indonesia, melalui Dirjen Bimas Hindu, dan STKIP Agama Hindu,” kata dia.

Meskipun sudah menyandang gelar doktor, Wiriawan masih eksis untuk melakoni hobinya sebagai nelayan. Tetapi ia mengaku saat ini menjadikan nelayan sebagai pekerjaan keduanya dan lebih fokus untuk mengajar. “Karena di Bebandem saya harus mengajar pagi, makanya beberapa kali saya harus tidak melaut,” pungkasnya.(dir)

 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/