alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Cerita Komang Wirati, PMI Asal Desa Banjar

Lima Hari di KBRI, Lewati Enam Pemberhentian, Pengecekan Harus Merayap

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Suara ledakan tanpa henti. Setiap ledakan dari serangan Rusia menimbulkan getaran. Masyarakat sipil serta warga negara Indonesia yang sedang berada di Ukraina hanya bisa berdiam di tempat perlindungan. Suasana mencekam. Seluruhnya berhamburan, mengungsi ke berbagai negara untuk mengamankan diri. Tempat-tempat perlindungan diri seperti bunker atau ruang bawah tanah menjadi sasaran masyarakat sebagai tempat perlindungan.

 

Pagi, siang, malam gempuran senjata terus terjadi. Serangan udara pada malam hari terus dilakukan Rusia untuk menggempur Ukraina. Komang Wirati, seorang Spa Therapist yang baru 6 bulan berada di negara tersebut mengalami pengalaman pahit. Ia bersama temannya yang berasal dari Gianyar harus menyusup ke dalam bunker di Fairmont Grand Hotel Kiev, tempatnya bekerja untuk menghindari serangan.

 

Wirati tak pernah tidur selama terjadinya perang. Dalam sebuah ruangan ia pun tak berani duduk di dekat pintu atau jendela. Ia takut dengan serangan-serangan yang menggempur ibukota Kyiv akan merenggut nyawanya serta teman-temannya. Serangan udara yang digencarkan Rusia tak pernah memberi signal. Pergerakannya pun tak terbaca. Hal itu membuatnya was-was. “Takut sekali saya disana. Saya masuk ke bunker hotel untuk berlindung. Bom berjatuhan, meledak. Sekitar 20 KM dari ibukota,” tuturnya.

 

Pada akhirnya Wirati dan temannya berhasil dievakuasi pada 24 Februari 2022. Ia diboyong ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ukraina. Selama 5 hari Wirati berada di KBRI. Namun perasaan was-was masih saja ia rasakan. Sebab ia masih belum keluar dari wilayah Ukraina. “Evakuasi tanggal 24. Dan disana sampai tanggal 28 februari,” tambahnya.

 

Berada dalam situasi mencekam dan genting, tentu membuatnya panik. Akan tetapi Wirati selalu berkabar kepada keluarga. Ia tetap menguatkan keluarga dengan mengabarkan kondisinya yang baik-baik saja. Usaha Wirati untuk pulang ke Bali sempat terhambat. Bandara di Ukraina telah hancur digempur bom Rusia. Alhasil, Wirati bersama rombongan menaiki bus menuju ke Moldova lalu ke Rumania.

 

Perjalanan panjang yang memakan waktu 25 jam tersebut dilaluinya dengan tegang. Penumpang dalam bus tak boleh melakukan pergerakan apa pun. Apalagi menoleh keluar kaca jendela. Sepanjang perjalanan dari Ukraina pandangan hanya lurus ke depan. Namun sesekali ia melirik. Mayat bergelimpangan. Mobil-mobil tank milik tentara Ukraina siaga. Dari perjalanan panjang itu Wirati harus melewati enam pos. Setiap pos harus dilakukan pengecekan. Wirati bersama penumpang lainnya turun dari bus dengan merayap menuju pos pengecekan. Segala perlengkapan dokumen diperiksa. Begitu seterusnya terulang hingga berakhir di pos keenam. “Ketika berhasil keluar dari Ukraina baru bisa rileks sebentar. Bisa toleh kiri kanan. Sebelumnya tegang. Tidak boleh plangak-plongok. Salah-salah bisa di dor,” pungkasnya.

 

Ukraina yang telah luluh lantak oleh serangan Rusia menyisakan duka. Kesedihan juga nampak di raut wajah Wirati saat mengalami peristiwa getir. Baru saja meniti karir dan baru saja ia jatuh cinta dengan negara tersebut, sudah harus menelan kepahitan. Wirati pulang hanya berbekal handphone, dompet, paspor serta dokumen penting lainnya. Sisanya hanya baju yang melekat di badan. “Baju koper semuanya masih disana. Trauma sih tapi suka,” ujar anak ketiga dari Ni Nengah Rugi dan I Made Sudira ini.

 

Kemerdekaan pun dirasakan Wirati ketika ia tiba di Jakarta, Indonesia pada tanggal 3 Maret lalu. Rasa syukur tak henti ia ucapkan lantaran kembali pulang dengan selamat. Tiba di Jakarta ia menjalani masa karantina baru kemudian dipulangkan ke Bali pada tanggal 7 Maret. “Akhirnya saya pulang,” tutupnya.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Suara ledakan tanpa henti. Setiap ledakan dari serangan Rusia menimbulkan getaran. Masyarakat sipil serta warga negara Indonesia yang sedang berada di Ukraina hanya bisa berdiam di tempat perlindungan. Suasana mencekam. Seluruhnya berhamburan, mengungsi ke berbagai negara untuk mengamankan diri. Tempat-tempat perlindungan diri seperti bunker atau ruang bawah tanah menjadi sasaran masyarakat sebagai tempat perlindungan.

 

Pagi, siang, malam gempuran senjata terus terjadi. Serangan udara pada malam hari terus dilakukan Rusia untuk menggempur Ukraina. Komang Wirati, seorang Spa Therapist yang baru 6 bulan berada di negara tersebut mengalami pengalaman pahit. Ia bersama temannya yang berasal dari Gianyar harus menyusup ke dalam bunker di Fairmont Grand Hotel Kiev, tempatnya bekerja untuk menghindari serangan.

 

Wirati tak pernah tidur selama terjadinya perang. Dalam sebuah ruangan ia pun tak berani duduk di dekat pintu atau jendela. Ia takut dengan serangan-serangan yang menggempur ibukota Kyiv akan merenggut nyawanya serta teman-temannya. Serangan udara yang digencarkan Rusia tak pernah memberi signal. Pergerakannya pun tak terbaca. Hal itu membuatnya was-was. “Takut sekali saya disana. Saya masuk ke bunker hotel untuk berlindung. Bom berjatuhan, meledak. Sekitar 20 KM dari ibukota,” tuturnya.

 

Pada akhirnya Wirati dan temannya berhasil dievakuasi pada 24 Februari 2022. Ia diboyong ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ukraina. Selama 5 hari Wirati berada di KBRI. Namun perasaan was-was masih saja ia rasakan. Sebab ia masih belum keluar dari wilayah Ukraina. “Evakuasi tanggal 24. Dan disana sampai tanggal 28 februari,” tambahnya.

 

Berada dalam situasi mencekam dan genting, tentu membuatnya panik. Akan tetapi Wirati selalu berkabar kepada keluarga. Ia tetap menguatkan keluarga dengan mengabarkan kondisinya yang baik-baik saja. Usaha Wirati untuk pulang ke Bali sempat terhambat. Bandara di Ukraina telah hancur digempur bom Rusia. Alhasil, Wirati bersama rombongan menaiki bus menuju ke Moldova lalu ke Rumania.

 

Perjalanan panjang yang memakan waktu 25 jam tersebut dilaluinya dengan tegang. Penumpang dalam bus tak boleh melakukan pergerakan apa pun. Apalagi menoleh keluar kaca jendela. Sepanjang perjalanan dari Ukraina pandangan hanya lurus ke depan. Namun sesekali ia melirik. Mayat bergelimpangan. Mobil-mobil tank milik tentara Ukraina siaga. Dari perjalanan panjang itu Wirati harus melewati enam pos. Setiap pos harus dilakukan pengecekan. Wirati bersama penumpang lainnya turun dari bus dengan merayap menuju pos pengecekan. Segala perlengkapan dokumen diperiksa. Begitu seterusnya terulang hingga berakhir di pos keenam. “Ketika berhasil keluar dari Ukraina baru bisa rileks sebentar. Bisa toleh kiri kanan. Sebelumnya tegang. Tidak boleh plangak-plongok. Salah-salah bisa di dor,” pungkasnya.

 

Ukraina yang telah luluh lantak oleh serangan Rusia menyisakan duka. Kesedihan juga nampak di raut wajah Wirati saat mengalami peristiwa getir. Baru saja meniti karir dan baru saja ia jatuh cinta dengan negara tersebut, sudah harus menelan kepahitan. Wirati pulang hanya berbekal handphone, dompet, paspor serta dokumen penting lainnya. Sisanya hanya baju yang melekat di badan. “Baju koper semuanya masih disana. Trauma sih tapi suka,” ujar anak ketiga dari Ni Nengah Rugi dan I Made Sudira ini.

 

Kemerdekaan pun dirasakan Wirati ketika ia tiba di Jakarta, Indonesia pada tanggal 3 Maret lalu. Rasa syukur tak henti ia ucapkan lantaran kembali pulang dengan selamat. Tiba di Jakarta ia menjalani masa karantina baru kemudian dipulangkan ke Bali pada tanggal 7 Maret. “Akhirnya saya pulang,” tutupnya.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/